Dari Ruang Transaksi ke Ruang Pengalaman: Strategi Transformasi Aset Properti ala Paradise Indonesia untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Sore itu di 23 Paskal, Bandung, langkah pengunjung nyaris tak pernah benar-benar berhenti. Di antara deretan restoran yang penuh, suara percakapan bercampur dengan denting peralatan makan dan alunan musik yang mengisi ruang terbuka. Orang datang bukan sekadar untuk berbelanja, tetapi untuk menikmati waktu: makan, bertemu, berfoto, atau sekadar berjalan santai.
Di ruang seperti inilah, pusat komersial berubah makna. Ia tidak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan ruang pengalaman, di mana aktivitas, interaksi, dan suasana menjadi bagian dari nilai yang dirasakan pengunjung.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar di industri properti. Ruang tidak lagi dinilai dari fungsi fisiknya, tetapi dari seberapa hidup ia digunakan sehingga melahirkan pengalaman (experience) yang mengesankan bagi pengunjungnya.
Dan bagi PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) — atau Paradise Indonesia — sebagai pemilik 23 Paskal, perubahan ini bukan sekadar tren, melainkan upaya transformasi untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan (sustainable growth). Perusahaan tidak lagi melihat properti sebagai aset pasif, tetapi sebagai entitas yang harus terus diolah agar tetap relevan.
Pendekatan ini dijalankan di antaranya melalui repositioning aset — mengubah fungsi, pengalaman, dan nilai dari properti yang sudah ada. Tujuannya bukan hanya meningkatkan trafik, tetapi membangun fondasi recurring income yang lebih stabil.
Pola tersebut kemudian direplikasi di berbagai portofolio, mulai dari Beachwalk Shopping Center di Bali hingga fX Sudirman di Jakarta. Keduanya menunjukkan pendekatan serupa: mengubah ruang menjadi pengalaman.
Oke, jadi bagaimana Paradise Indonesia melakukan transformasi terhadap aset-asetnya?
Transformasi sebagai kebutuhan
Jika ditarik lebih jauh, langkah-langkah Paradise Indonesia menunjukkan satu benang merah: mentrasformasi aset eksisting menjadi destinasi yang lebih relevan, produktif, dan berdaya saing tinggi.
Strategi ini tidak muncul dalam ruang hampa. Industri properti tengah mengalami pergeseran mendasar. Transformasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa adaptasi, pengembang berisiko kehilangan relevansi di tengah perubahan perilaku pasar yang berlangsung cepat.
Perubahan ini terutama dipicu oleh generasi baru konsumen. Milenial dan Gen Z tidak lagi sekadar mencari ruang, tetapi pengalaman: kawasan yang terintegrasi, walkable, lifestyle-centric, dan terkoneksi secara digital.
Konsekuensinya, ukuran keberhasilan pun berubah. Profit tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur; relevansi kini ditentukan oleh dampak, baik secara ekonomi, sosial, maupun pengalaman pengguna.
Dalam konteks ini, Paradise Indonesia menempatkan ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai bagian dari strategi. Efisiensi energi, ruang sosial yang inklusif, serta tata kelola yang transparan menjadi fondasi penciptaan nilai jangka panjang.
Sejalan dengan itu, model bisnis pun bergeser. Pendekatan “build and sell” secara bertahap digantikan oleh strategi berbasis recurring income melalui lifestyle hub, retail experience, dan mixed-use development.
Paradise Indonesia merangkumnya dalam tiga pilar utama: people, yakni kepemimpinan dan kapabilitas tim sebagai penggerak; process, pendekatan agile dalam pengembangan hingga transformasi aset; serta technology, yang berfungsi sebagai enabler untuk memperkaya pengalaman, bukan tujuan akhir.
Pendekatan yang menyeluruh ini memastikan bahwa transformasi tidak berhenti pada tataran konsep. Dampaknya terlihat nyata pada kinerja aset. Strategi repositioning mampu mengangkat aset yang sebelumnya underperform menjadi lifestyle destination dengan trafik dan pendapatan yang meningkat.
Lebih jauh, ekspansi ke kota-kota strategis membuka pasar baru sekaligus memperkuat ketahanan bisnis. Di saat yang sama, pendekatan mixed-use memungkinkan optimalisasi lahan dan peningkatan yield melalui sinergi hotel, retail, dan residensial dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Pada akhirnya, seluruh langkah tersebut bermuara pada satu tujuan: membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan. Didukung oleh diversifikasi produk, pendekatan customer-centric berbasis pengalaman, serta pengembangan kawasan yang hidup, Paradise Indonesia tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga memperkuat daya saing jangka panjang.
23 Paskal Extension: destinasi belanja dan gaya hidup
Pendekatan yang telah disebutkan di atas menemukan bentuk paling konkret di 23 Paskal, yang kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat komersial, tetapi juga sebagai ruang publik yang hidup di jantung Kota Bandung.
Sejak dibuka pada 27 September 2017, kawasan ini terus berkembang menjadi pusat perbelanjaan modern dengan kurasi tenant yang semakin beragam, mulai dari fesyen, kuliner, hingga hiburan dalam satu destinasi, yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belanja dan rekreasi yang semakin lengkap dan utuh bagi pengunjung.
Perkembangan tersebut tidak hanya tercermin dari sisi komersial, tetapi juga dari cara kawasan ini dimaknai. Direktur Utama PT Mitra Perdana Nuansa — pengelola 23 Paskal — Arnes Lukman menegaskan bahwa 23 Paskal lebih dari sekadar pusat perbelanjaan dan hiburan.
“Kami ingin terus berkontribusi membuat Bandung lebih baik sekaligus mendorong pengembangan kota,” ujarnya saat peresmian 23 Paskal Extension, pada September 2025.
Dengan hadirnya 23 Paskal Extension, harapan tersebut diarahkan pada peningkatan jumlah pengunjung sekaligus penguatan fungsi kawasan sebagai ruang publik. “Kami ingin 23 Paskal menjadi mitra strategis bagi UMKM dan pedagang lokal, sekaligus terus menjadi ikon dan kebanggaan Bandung,” tambah Arnes.
Pandangan tersebut sejalan dengan perspektif pemerintah kota. Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin, melihat kehadiran 23 Paskal Extension bukan sekadar menambah destinasi belanja dan hiburan, melainkan memperluas ruang interaksi sosial serta membuka peluang ekonomi baru. Dalam konteks yang lebih luas, kawasan ini turut memperkuat posisi Bandung sebagai destinasi unggulan belanja dan kuliner.
Lebih jauh, peran strategis Bandung sebagai kota kreatif juga menemukan relevansinya di sini. Kehadiran 23 Paskal melengkapi ekosistem tersebut, menjadi wadah bagi UMKM lokal, desainer muda, hingga inovator kuliner untuk tampil berdampingan dengan brand global.
“23 Paskal bikin semakin lengkap. Jadi yang datang ke sini jangan hanya rohana-rojali, tapi juga berbelanja,” ujar Erwin.
Dampak yang dihasilkan pun tidak terbatas pada aktivitas kawasan semata. Pengembangan ini menciptakan multiplier effect yang signifikan, mulai dari menarik investasi, membuka lapangan kerja, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam konteks tersebut, ekspansi 23 Paskal Shopping Extension dapat dilihat sebagai langkah strategis yang lebih besar. Dengan investasi sekitar Rp250 miliar, luas kawasan diperluas dari 40 ribu menjadi 47 ribu meter persegi — lonjakan hampir 20% yang mencerminkan skala ambisi pengembangan di kawasan Jalan Pasir Kaliki.
Ekspansi ini tidak hanya menambah kapasitas, tetapi juga memperkaya kualitas pengalaman. Kurasi tenant yang semakin kuat dan konsep yang lebih matang dirancang untuk mengangkat pengalaman pengunjung ke level berikutnya.
“Tingginya animo tenant menjadi indikator kuat bahwa pasar ritel modern Bandung masih tumbuh solid,” ujar Anthony P. Susilo, Presiden Direktur & CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP).
Seiring dengan itu, 23 Paskal kini berkembang menjadi mesin ekonomi yang hidup. Lebih dari 2.000 tenaga kerja terserap, dengan trafik pengunjung mencapai sekitar 40 ribu orang per hari.
Aktivitas ini mendorong perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp3 triliun hingga Rp4 triliun setiap tahun, menjadikan 23 Paskal tidak hanya sebagai destinasi gaya hidup, tetapi juga katalis pertumbuhan ekonomi kota.
Kontribusi tersebut diharapkan terus meningkat seiring dengan penguatan strategi bisnis perusahaan. “Kehadiran 23 Paskal Extension kami proyeksikan tidak hanya memperkaya tenant mix, tetapi juga mendongkrak trafik pengunjung serta memperkuat pertumbuhan recurring income secara berkelanjutan,” ujar Anthony.
Meski demikian, peran segmen komersial dalam struktur pendapatan perusahaan masih terus berkembang. Saat ini, kontribusi pendapatan berulang dari segmen tersebut masih berada di bawah 10% dari total recurring income, namun menunjukkan tren peningkatan.
Keberhasilan ekspansi ini sekaligus menegaskan konsistensi Paradise Indonesia dalam menghadirkan inovasi lintas portofolio, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, hingga properti komersial di berbagai kota besar.
Lebih jauh, pengembangan 23 Paskal mencerminkan kontribusi sektor swasta dalam menggerakkan ekonomi kreatif di tingkat kota. Kawasan ini tidak lagi sekadar ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup dan multifungsi.
Hal ini semakin diperkuat oleh konsep urban kontemporer yang berpadu dengan sentuhan budaya lokal. 23 Paskal tampil sebagai destinasi yang merefleksikan karakter Bandung yang kreatif, dinamis, dan hangat, sekaligus menyasar segmen keluarga muda, generasi milenial, hingga wisatawan mancanegara.
Dari sisi bisnis, dampak ekspansi juga terlihat pada peningkatan skala operasional. Surina, Direktur Keuangan INPP, menyebut jumlah tenant meningkat dari 220 menjadi 270, atau tumbuh sekitar 20%.
“Kami berharap kehadiran 23 Paskal Extension dapat memberikan kontribusi hingga sekitar 15% terhadap total pendapatan INPP. Saat ini, kontribusi terbesar masih berasal dari Beachwalk Shopping Center di Bali, yang mencapai kisaran 20%,” ujar Surina.
Momentum ini menjadi bagian dari capaian yang lebih luas. Sepanjang 2025, INPP berhasil menyelesaikan sejumlah proyek strategis, termasuk 23 Paskal Extension, Citadines Antasari, dan Antasari Place, yang mencerminkan eksekusi proyek yang solid dan terukur.
Khusus Antasari Place, tingkat serapan pasar mencapai lebih dari 93% dari total 980 unit yang dipasarkan, menyisakan sekitar 70 unit. Capaian ini menegaskan tingginya minat pasar sekaligus memperkuat posisi INPP dalam menghadirkan produk properti yang relevan dan kompetitif.
Dengan capaian tersebut, transformasi tidak lagi berhenti pada pengembangan fisik semata. “Penyelesaian proyek-proyek ini menegaskan konsistensi kami dalam mengeksekusi proyek tepat waktu. Baik 23 Paskal Extension maupun Antasari Place akan menjadi katalisator pertumbuhan pendapatan jangka panjang sekaligus memperkuat recurring income perusahaan,” ujar Anthony.
Kinerja solid, fondasi kian kuat
Dampak transformasi ini tercermin pada kinerja perusahaan. INPP mencatatkan kinerja impresif sepanjang 2025 dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 32,9% (yoy) menjadi Rp1,74 triliun. Lonjakan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan ditopang oleh kontribusi solid dari berbagai lini bisnis serta mulai berjalannya sejumlah proyek baru.
Kinerja tersebut bahkan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Menurut Surina, Direktur Keuangan INPP, capaian ini tidak hanya melampaui rekor sebelumnya, tetapi juga berhasil melampaui target yang telah ditetapkan manajemen.
Lebih jauh, Surina menjelaskan bahwa salah satu pendorong utama pertumbuhan ini berasal dari serah terima Antasari Place. Proyek yang diakuisisi sejak 2021 tersebut mulai diserahterimakan pada Desember 2024, dan hingga akhir 2025 sekitar 80–90% unit telah diserahkan, sementara sisanya masih menunggu jadwal pelanggan.
Dampak dari serah terima ini turut mengubah komposisi pendapatan perseroan. Secara keseluruhan, struktur pendapatan Paradise Indonesia pada 2025 terdiri dari segmen perhotelan sebesar 36%, komersial 33%, dan properti 31%. Porsi penjualan properti yang biasanya berada di kisaran 20–25% pun melonjak signifikan, menegaskan keberhasilan strategi diversifikasi portofolio.
Di sisi lain, Anthony melihat kinerja positif ini sebagai hasil dari kombinasi beberapa katalis utama. Selain Antasari Place, kontribusi juga datang dari ekspansi 23 Paskal Shopping Center yang mulai beroperasi pada pertengahan 2025, serta peluncuran Citadines pada September 2025.
Kombinasi tersebut pada akhirnya memperkuat fondasi bisnis perseroan. Hal ini tercermin dari porsi recurring income INPP yang kini mencapai 70% dari total pendapatan, memberikan arus kas yang lebih stabil untuk menopang ekspansi berkelanjutan.
Dengan fondasi yang semakin kuat, perseroan pun mulai mengarahkan langkah ke depan. Pada kuartal II 2026, INPP berencana meluncurkan 23 Semarang Shopping Center di Semarang, Jawa Tengah, sebagai bagian dari strategi memperkuat portofolio segmen komersial.
Langkah ekspansi ini tidak berhenti di satu proyek. Pengembangan Fase 1 proyek 88 Plaza di Balikpapan, Kalimantan Timur, juga tengah berjalan, mencerminkan upaya perusahaan memperluas penetrasi di sektor ritel dan properti komersial secara lebih agresif.
Seiring dengan ekspansi tersebut, arah strategi perusahaan juga mengalami penajaman. Tahun ini, Paradise Indonesia menitikberatkan pada kualitas pertumbuhan, dengan fokus meningkatkan profitabilitas dan margin sebagai fondasi kinerja yang lebih sehat.
Pendekatan ini diperkuat melalui strategi asset enhancement. Perseroan melakukan renovasi hotel dan pusat perbelanjaan untuk meningkatkan nilai aset sekaligus daya tarik pasar. Sejumlah hotel, seperti Sheraton Bali dan fX Sudirman, akan menjalani renovasi besar, termasuk penambahan fasilitas spa dan MICE, yang diproyeksikan mampu mendongkrak pendapatan hotel hingga 5%–10%.
Di saat yang sama, proyek-proyek baru tetap menjadi motor pertumbuhan. Penyelesaian proyek Semarang serta pengembangan 88 Plaza Balikpapan diharapkan dapat mendorong ekspansi bisnis sekaligus memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan industri yang semakin dinamis.
Dalam konteks target, Surina menyebut perseroan membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 5%–10% pada tahun ini. Komposisi penjualan properti juga diproyeksikan kembali ke level normal di kisaran 25%–30%, seiring dengan berkurangnya efek one-off dari serah terima proyek sebelumnya.
Namun demikian, prospek tersebut tidak lepas dari tantangan. Surina mengakui tekanan makroekonomi masih membayangi daya beli, terutama di segmen menengah bawah. Sementara itu, segmen menengah atas relatif lebih tahan, meski menunjukkan perilaku belanja yang semakin selektif.
Menatap masa depan: transformasi sebagai DNA
Ke depan, Paradise Indonesia berkomitmen menjaga pertumbuhan dua digit secara berkelanjutan, memperkuat profitabilitas operasional, serta meningkatkan nilai aset melalui strategi asset enhancement.
“Fokus Paradise Indonesia bukan pada pergerakan harga saham, melainkan pada kinerja EBITDA sebagai indikator pertumbuhan yang nyata dan berkesinambungan,” ujar Anthony.
Di tengah ketidakpastian, bagi Paradise Indonesia transformasi bukan sekadar strategi bertahan, melainkan cara menciptakan diferensiasi yang berkelanjutan. Properti tidak lagi dipandang sebagai bangunan semata, tetapi sebagai ruang pengalaman yang hidup, di mana nilai aset ditentukan oleh aktivitas dan relevansinya bagi konsumen.
Dengan kelincahan membaca tren dan fleksibilitas dalam beradaptasi, Paradise Indonesia tak hanya mengikuti arus perubahan, tetapi tampil sebagai pemain yang ikut membentuk arah baru industri properti di Indonesia. (*)
Transformasi beberapa proyek Paradise Indonesia:




Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.