Startup dari Kampus Ini Kini Turut Disuntik Cristiano Ronaldo: Perjalanan WHOOP Tembus US$10 Miliar
Suatu waktu, memahami tubuh sendiri adalah perkara yang samar. Orang menunggu hingga sakit, lalu pergi ke dokter. Di antara itu, hanya ada perasaan lelah, segar, atau mungkin sekadar firasat bahwa ada yang tidak beres. Tidak ada angka, tidak ada grafik, tidak ada notifikasi yang memberi tahu bahwa tubuh sedang menuju batasnya.
Kini, hal-hal itu perlahan berubah. Tubuh manusia tidak lagi sepenuhnya misterius. Ia diukur, dicatat, serta dianalisis detik demi detik. Dan sering kali, semua itu terjadi tanpa suara, tanpa jeda, dari sebuah perangkat kecil yang melingkar di pergelangan tangan.
Di situlah cerita WHOOP dimulai, atau setidaknya, di situlah ia menjadi relevan. Dan ketika perusahaan ini mengumumkan pendanaan sebesar US$575 juta pada Maret 2026, dengan valuasi mencapai US$10,1 miliar, kabar itu terdengar seperti kisah sukses startup pada umumnya. Sebuah perusahaan teknologi tumbuh cepat, menarik investor besar, lalu melaju menuju skala global.
Penilaian itu tidak keliru. Namun bagi WHOOP, angka-angka itu hanyalah lapisan paling luar. Di bawahnya, ada sesuatu yang lebih mendasar: upaya untuk mengubah cara manusia memahami tubuhnya sendiri.
Lalu, siapa sebenarnya WHOOP?
Biohacking
Cerita ini tidak dimulai dari ruang rapat atau strategi korporasi. Ia dimulai dari seorang mahasiswa.
Pada 2012, Will Ahmed masih berada di Harvard, menjalani hari-harinya sebagai atlet squash. Seperti banyak atlet lainnya, ia hidup dengan ritme tubuh: latihan, pemulihan, kompetisi.
Tetapi ada satu hal yang mengganggunya: ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Kapan ia benar-benar siap? Kapan ia seharusnya berhenti? Mengapa performa bisa naik turun tanpa alasan yang jelas?
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, WHOOP lahir. Bukan sebagai produk massal, melainkan sebagai alat untuk menjawab rasa penasaran yang sangat spesifik: bagaimana mengukur kesiapan tubuh secara objektif.
Pada tahun-tahun awal, WHOOP hampir terasa seperti klub eksklusif. Penggunanya adalah atlet elite, yakni orang-orang yang hidup dari performa dan membutuhkan setiap keunggulan kecil yang bisa mereka dapatkan. Nama-nama besar seperti Michael Phelps dan LeBron James membantu membangun aura tersebut. WHOOP bukan sekadar perangkat; ia adalah alat bagi mereka yang ingin berada di level tertinggi.
Namun dunia di luar arena olahraga perlahan berubah. Di kantor-kantor, ruang kerja bersama, hingga media sosial, muncul gelombang baru: orang-orang yang ingin memahami tubuh mereka sendiri dengan cara yang sebelumnya hanya tersedia bagi atlet.
Mereka berbicara tentang tidur seperti berbicara tentang investasi. Mereka mengukur stres seperti mengukur produktivitas. Istilah seperti recovery, strain, dan HRV mulai masuk ke percakapan sehari-hari.
Fenomena ini — yang sering disebut biohacking — menciptakan pasar baru yang jauh lebih luas. WHOOP melihatnya bukan sebagai peluang sesaat, tetapi sebagai perubahan mendasar dalam cara orang memandang kesehatan.
Insight dan berlangganan
Perubahan orientasi ini tercermin jelas dalam cara WHOOP membangun produknya. Perangkat mereka tidak dirancang untuk sekadar menampilkan angka, tetapi untuk menginterpretasikan data menjadi keputusan. Gelang yang dikenakan 24 jam sehari itu mengukur variabilitas detak jantung, kadar oksigen darah, tekanan darah, hingga kualitas tidur. Ini parameter yang dulu hanya bisa diperoleh melalui pemeriksaan medis.
Namun, di titik ini, WHOOP sebenarnya tidak sendirian. Banyak perangkat wearable lain juga mampu mengumpulkan data serupa. Yang membedakan WHOOP justru terletak pada lapisan berikutnya: bagaimana data tersebut diolah dan dimaknai.
Di sinilah WHOOP mengambil posisi yang berbeda. Data tidak berhenti sebagai statistik, melainkan diterjemahkan menjadi insight yang relevan dan personal bagi setiap pengguna.
Dalam praktiknya, pengguna tidak hanya melihat angka, tetapi juga menerima rekomendasi konkret: apakah tubuh cukup pulih untuk berolahraga intens, apakah stres mulai memengaruhi performa, atau apakah pola tidur perlu diperbaiki. Bahkan, melalui konsep “Whoop Age”, pengguna diajak memahami apakah tubuh mereka menua lebih cepat atau lebih lambat dibanding usia biologisnya.
Pendekatan ini secara perlahan menggeser cara pandang terhadap kesehatan. Ia tidak lagi dilihat sebagai kondisi statis, melainkan sebagai proses dinamis: sesuatu yang bisa dipantau, dipahami, dan diintervensi setiap hari.
Dari sini, logika bisnis WHOOP mulai terlihat lebih jelas. Jika kesehatan dipahami sebagai proses yang berkelanjutan, maka produk pun tidak bisa berhenti sebagai transaksi satu kali.
Karena itu, sejak awal masuk pasar komersial pada 2015–2016, WHOOP memilih model berlangganan. Alih-alih menjual perangkat sebagai produk sekali beli, mereka menawarkan akses berkelanjutan ke sistem yang terus belajar dari data pengguna.
Pilihan ini bukan sekadar model monetisasi, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar. Dengan biaya tahunan, pengguna tidak hanya membeli perangkat, tetapi juga terhubung dengan platform yang berkembang seiring waktu: semakin lama digunakan, semakin relevan insight yang dihasilkan.
Dalam konteks bisnis, pendekatan ini menciptakan hubungan yang lebih dalam antara perusahaan dan pengguna. Interaksi tidak berhenti setelah pembelian, melainkan berlanjut dalam bentuk kebiasaan harian.
Hal ini tercermin dari perilaku pengguna itu sendiri. Aplikasi WHOOP dibuka rata-rata lebih dari delapan kali sehari, sebuah frekuensi yang menunjukkan bahwa interaksi dengan perangkat ini telah menjadi bagian dari rutinitas.
Pada titik ini, WHOOP tidak lagi sekadar perangkat wearable. Ia telah menjadi sistem yang membentuk cara pengguna mengambil keputusan, bahkan secara perlahan membentuk perilaku mereka.
Melangkah jauh
Namun ambisi WHOOP tidak berhenti pada tahap membantu pengguna memahami kondisi tubuhnya saat ini. Seiring bertambahnya skala pengguna, volume data yang dikumpulkan pun meningkat secara eksponensial, hingga melampaui 24 miliar jam data fisiologis. Di titik inilah arah perusahaan mulai bergeser.
Jika pada fase awal WHOOP berfungsi sebagai alat monitoring, tahap berikutnya adalah upaya untuk melangkah lebih jauh: prediksi. Perusahaan tidak lagi sekadar ingin menjawab apa yang sedang terjadi di dalam tubuh, tetapi mulai mengeksplorasi kemungkinan untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi.
Ambisi ini bahkan disampaikan secara terbuka oleh Will Ahmed. Ia membayangkan suatu masa ketika teknologi WHOOP mampu mendeteksi risiko serius, seperti serangan jantung, sebelum gejala muncul. Sebuah gagasan yang, jika terwujud, akan menggeser peran wearable dari alat kebugaran menjadi sistem kesehatan preventif.
Namun semakin jauh langkah tersebut diambil, semakin jelas pula konsekuensinya. Ketika teknologi mulai masuk ke wilayah prediksi kesehatan, batas antara wellness device dan medical device menjadi semakin tipis.
WHOOP mulai merasakan tekanan ini ketika meluncurkan fitur pemantauan tekanan darah tanpa persetujuan regulator. Otoritas kesehatan Amerika Serikat mempertanyakan posisinya, sementara perusahaan tetap bersikeras bahwa mereka berada di ranah kebugaran, bukan diagnosis medis. Ketegangan ini menandai satu hal: teknologi WHOOP telah melampaui kategori awalnya.
Di titik inilah perusahaan dihadapkan pada pilihan strategis. Untuk terus berkembang, WHOOP tidak cukup hanya mengandalkan inovasi teknologi. Mereka membutuhkan legitimasi yang lebih kuat di ekosistem kesehatan yang diatur secara ketat.
Langkah berikutnya pun menjadi lebih terarah. WHOOP mulai membuka diri terhadap investor yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga kredibilitas. Masuknya institusi seperti Abbott dan Mayo Clinic sebagai investor strategis dalam putaran pendanaan terbaru pada Maret 2026 menjadi langkah yang memperkuat posisinya di persimpangan antara teknologi konsumen dan dunia medis.
Kehadiran mereka bukan sekadar tambahan pendanaan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang: menjembatani dunia teknologi konsumen dengan standar medis. Dengan dukungan institusi kesehatan, WHOOP memiliki pijakan yang lebih kuat untuk melangkah ke wilayah yang sebelumnya sensitif secara regulasi.
Pendanaan ini kemudian menjadi titik balik penting. Dengan dukungan investor strategis dan basis data yang semakin besar, WHOOP tidak hanya memperdalam kapabilitas teknologinya, tetapi juga mempercepat ekspansi secara global.
Perusahaan mulai memosisikan diri bukan lagi sebagai startup asal Amerika Serikat, melainkan sebagai platform kesehatan global. Ekspansi ke Eropa, Timur Tengah, Amerika Latin, hingga Asia menjadi langkah logis berikutnya. Sejauh ini, sebagian besar penjualan WHOOP berasal dari luar Amerika Serikat.
Disuntik Cristiano Ronaldo
Di tengah ekspansi tersebut, perusahaan juga memperkuat kapasitas internalnya dengan rencana penambahan lebih dari 600 karyawan, terutama di bidang riset dan pengembangan. Langkah ini menunjukkan bahwa WHOOP tidak hanya ingin tumbuh secara komersial, tetapi juga memperdalam kapabilitas teknologinya.
Dengan kata lain, mereka tidak sekadar mengejar pasar, tetapi juga membangun fondasi untuk masa depan yang lebih kompleks.
Namun perjalanan ini tidak berlangsung tanpa kompetisi. WHOOP beroperasi di pasar yang semakin padat, dengan pemain seperti Oura, Apple, Garmin, dan Coros yang menawarkan produk serupa dengan pendekatan berbeda.
Di tengah persaingan tersebut, WHOOP memilih untuk tidak bersaing secara langsung dalam kategori perangkat, melainkan menciptakan kategori baru sebagai platform kesehatan berbasis langganan. Ini adalah strategi diferensiasi yang cerdas, tetapi juga menuntut konsistensi nilai yang tinggi bagi pengguna.
Menariknya, WHOOP juga berhasil membangun dimensi lain yang sering kali diabaikan dalam diskusi teknologi: identitas budaya. Dalam putaran pendanaan terbaru senilai US$575 juta yang mengerek valuasinya ke US$10,1 miliar, di luar Abbott dan Mayo Clinic, muncul nama Cristiano Ronaldo dan LeBron James sebagai investor strategis, kendati tidak disebutkan besaran nilainya.
Apa artinya?
Artinya: kehadiran mereka menegaskan bahwa WHOOP tidak sekadar menjual perangkat, melainkan menjual aspirasi: tentang performa, disiplin, dan kontrol atas tubuh.
Ketika Ronaldo menyebut WHOOP sebagai salah satu alat terpenting untuk kesehatan jangka panjangnya, pernyataan itu bukan hanya testimoni, melainkan bagian dari narasi brand yang lebih besar, sebuah upaya menempatkan teknologi ini sebagai simbol gaya hidup modern yang berbasis data dan kesadaran diri.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan WHOOP bukan sekadar menjual perangkat atau aplikasi. Mereka sedang mencoba mengubah cara manusia memahami tubuhnya sendiri. Dari pendekatan yang reaktif — menunggu sakit lalu mengobati — menjadi pendekatan preventif yang berbasis data dan prediksi. Dari intuisi menjadi analitik. Dari ketidaktahuan menjadi kesadaran yang terukur.
Ambisi ini, tentu saja, masih dalam proses. Teknologi belum sepenuhnya mampu menjawab semua kompleksitas tubuh manusia, dan regulasi akan terus menjadi tantangan. Namun dengan kombinasi data, kecerdasan buatan, model bisnis berbasis langganan, serta positioning yang kuat di persimpangan teknologi dan kesehatan, WHOOP telah menempatkan dirinya dalam posisi yang unik.
Dan mungkin, seperti yang diakui oleh Ahmed sendiri, justru di situlah letak paradoksnya. Di tengah valuasi yang telah menembus US$10 miliar dan pertumbuhan yang begitu cepat, perusahaan ini masih melihat dirinya sebagai sesuatu yang baru dimulai. (*)
Dari beragam sumber
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.