Wajah Baru Pasar Modal RI: Geliat Investasi Hijau Kian Menguat

Wajah Baru Pasar Modal RI: Geliat Investasi Hijau Kian Menguat

Lanskap investasi di Indonesia tengah mengalami transformasi signifikan. Jika satu dekade lalu aspek tata kelola (governance) menjadi fokus utama, kini perhatian bergeser ke isu lingkungan dan sosial. Pergeseran ini bukan sekadar wacana, melainkan tercermin dari pertumbuhan pesat produk investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).

Dalam Katadata ESG Forum yang digelar di Jakarta, Senin (6/4/2026), Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan bahwa ekosistem investasi hijau mulai terbentuk semakin matang, baik dari sisi emiten sebagai penyedia (supply) maupun investor sebagai peminta (demand).

Perjalanan ESG di pasar modal Indonesia menunjukkan pergeseran yang cukup jauh. Menurut Denny, fokus pelaku pasar kini tidak lagi berhenti pada kepatuhan tata kelola, tetapi mulai mengarah pada integrasi aspek lingkungan secara lebih mendalam.

"Kalau kita bicara 5–10 tahun lalu, semua orang fokusnya pada governance—komite audit dan RUPS. Tapi lima tahun terakhir trennya bergeser ke arah ESG, bahkan tiga tahun belakangan fokusnya sangat kuat ke aspek lingkungan (environmental)," ujar Denny.

Dari sisi emiten, sinyal positif mulai terlihat. Saat ini, sekitar 39% perusahaan tercatat di BEI telah menyatakan komitmen menuju Net Zero Emission (NZE). Angka ini mencerminkan meningkatnya kesadaran korporasi untuk tidak hanya melaporkan kinerja, tetapi juga mentransformasi proses bisnis menjadi lebih berkelanjutan.

Untuk mendukung transparansi, BEI mengembangkan Core Matrix yang mencakup lebih dari 100 indikator data, termasuk pelaporan emisi karbon pada Lingkup (Scope) 1, 2, dan 3. Instrumen ini memungkinkan investor membandingkan kinerja keberlanjutan antarperusahaan secara lebih terukur.

Dari sisi investasi, minat terhadap produk berbasis ESG juga meningkat signifikan. Pada 2015, baru tersedia satu produk investasi ESG. Namun, per 2025 jumlahnya telah meningkat menjadi 26 produk dengan nilai dana kelolaan (asset under management/AUM) mencapai Rp7 triliun.

Potensi pendanaan hijau juga tercermin dari instrumen surat utang. Sepanjang 2025, penerbitan Green, Social, and Sustainability (GSS) Bond di Indonesia mencapai Rp35 triliun, yang sebagian besar dialokasikan untuk pembiayaan proyek transisi energi.

Ke depan, BEI juga tengah menyiapkan inovasi baru untuk mempermudah investor, yakni Green Equity.

"Kami akan mengeluarkan Green Equity untuk saham-saham yang memang sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Dengan pelabelan 'hijau' ini, navigasi kapital ke sektor ramah lingkungan akan jauh lebih mudah," tambah Denny.

Instrumen lain yang semakin mendapat perhatian adalah bursa karbon (IDXCarbon). Sejak diluncurkan pada September 2023 hingga April 2026, bursa karbon telah memfasilitasi perdagangan sekitar 2 juta ton CO₂e dengan nilai transaksi mencapai Rp93 miliar.

Capaian ini meningkat dibandingkan posisi kuartal I-2025 yang mencatat volume sekitar 1,6 juta ton. Bursa karbon dinilai memiliki peran strategis bagi perusahaan yang sedang bertransisi menuju model bisnis rendah emisi. Denny menjelaskan bahwa kredit karbon dapat menjadi instrumen pendanaan, mengubah proyek penurunan emisi yang semula memiliki Net Present Value (NPV) negatif menjadi layak secara finansial.

Melalui sinergi antara peningkatan transparansi data emiten, pengembangan instrumen dan indeks ESG, serta optimalisasi bursa karbon, Indonesia tengah membangun fondasi bagi ekonomi berkelanjutan. Investasi hijau pun tidak lagi sekadar tren, melainkan instrumen strategis yang akan menentukan daya saing perusahaan di pasar global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag