Paradise Indonesia Menyulam ESG, Merajut Ekspansi yang Berkelanjutan
Beachwalk Shopping Center,Konsep arsitektur terbuka dengan pencahayaan alami dan sirkulasi udara maksimal menjadikan penggunaan energi lebih efisien. (Foto: Istimewa).
Industri properti berdiri di bawah langit yang berat. Perlambatan pasar merayap pelan, biaya konstruksi menanjak tanpa jeda, sementara daya beli masih mencari napasnya yang utuh. Tekanan datang berlapis, menguji daya tahan sekaligus arah langkah. Praktik ESG (Environmental, Social, Governance) ini sebagai penanda zaman, sebuah tolok ukur baru yang tak hanya mengukur seberapa tinggi bangunan ditegakkan, tetapi juga seberapa jauh berpihak pada keberlanjutan.
Namun, implementasi ESG masih menghadapi realitas tak sederhana lantaran investasi awal yang besar, kesiapan ekosistem yang belum matang, serta regulasi yang belum sepenuhnya solid. Walau demikina, perusahaan properti melangkah mantap untuk mempraktikkan ESG.
Herry Ginanjar, praktisi dan pengamat ESG di Prasetiya Mulya Executive Learning Institute, mengatakan perkembangan ESG di sektor properti Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan arah yang positif, terutama dalam memperkuat praktik Good Corporate Governance (GCG).
"Perusahaan properti di Indonesia, khususnya yang sudah tercatat di pasar modal, mulai terdorong untuk lebih transparan dan terstruktur dalam mengungkapkan kinerja non-keuangannya, yang sejalan dengan dorongan regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan dengan aturan POJK 51/2017," ujar Herry ketika dihubungi SWA.co.id di Jakarta, Selasa (14/4/2026)
Dia mengamati penggunaan acuan global, seperti Global Real Estate Sustainability Benchmark, mulai diadopsi oleh beberapa perusahaan properti di Indonesia. "Ini mencerminkan pergeseran dari sekadar kepatuhan menuju tata kelola yang lebih berbasis risiko dan berorientasi jangka panjang," ucap Herry.
Praktik ESG di sektor properti Indonesia, lanjut Herry, masih di fase awal dan cenderung terfragmentasi. Contohnya, Sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh Green Building Council Indonesia memang menunjukkan tren peningkatan walau jumlahnya masih terbatas dan didominasi oleh proyek-proyek skala besar atau premium.
Terkait praktek ESG di emiten properti, Reza Priyambada, pengamat pasar modal dan Direktur di PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), mengamati perusahaan properti relatif atraktif menawarkan hunian berkonsep green property atau properti hijau yang mengusung konsep kelestarian lingkungan.
"Semisal, mereka mendirikan bangunan rumah maupun apartemen dimana mengutamakan pencahayaan alami, sirkulasi udara silang, dan sistem penampungan air hujan (rainwater harvesting), menggunakan solar panel untuk menurunkan emisi karbon serta melakukan pengolahan limbah di kawasan sehingga menghasilkan emisi buang yang ramah lingkungan," tutur Reza.
Menyeimbangkan Ambisi Hijau dengan Ketahanan Bisnis.
Pada lanskap ini, pelaku industri tak cukup sekadar adaptif, tetapi harus strategis, menyeimbangkan ambisi hijau dengan ketahanan bisnis. Keberlanjutan pun bukan lagi sekadar wacana, melainkan tuntutan yang kian mengikat. ESG hadir sebagai napas baru, menjembatani ambisi pembangunan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, manusia, dan tata kelola.
23 Paskal Extension, pengembangan lanjutan kawasan komersial ini memperluas ruang interaksi dan menghidupkan ekonomi lokal, dari UMKM hingga retail dan komunitas. (Foto: Darandono/SWA)
Dari sisi lingkungan, bangunan menjadi salah satu penyumbang utama konsumsi energi dan emisi, sehingga tanpa efisiensi, properti justru berpotensi menjadi beban. Dari sisi sosial, properti membentuk pola hidup, cara bekerja, dan interaksi manusia. Sementara dari sisi tata kelola, pengelolaan aset jangka panjang menuntut transparansi dan disiplin tinggi.
Praktik ESG itu bukan sekadar memberikan nilai tambah, melainkan fondasi agar properti tetap relevan, menjadi penanda arah bisnis yang keberlanjutan berbasis tata kelola yang baik dan kelestarian lingkungan.
ESG Bukan Pelengkap, Melainkan Penentu
Perubahan perilaku konsumen kian menegaskan urgensi ESG. Konsumen tak hanya sekadar membeli ruang, melainkan pengalaman. Hunian yang sehat, ruang komersial yang hidup, hingga kawasan terintegrasi kini menjadi standar baru. Sejalan dengan itu, para tenant global semakin selektif, memilih properti dengan komitmen keberlanjutan yang terukur.
Reza mengatakan konsep green property antara lain menyediakan ruang terbuka hijau (RTH), jalur pedestrian yang ramah, serta fasilitas olahraga (jogging track) sebagai nilai jual utama untuk memenuhi pilar Social. Ada juga yang memudahkan penghuni dengan aksesibilitas melalui konsep Transit Oriented Development (TOD) yang mendekatkan hunian dengan transportasi publik menjadi tren untuk mengurangi jejak karbon.
"Artinya, pengembang properti kian aware dengan masalah lingkungan ini sehingga menawarkan konsep hunian yang ramah lingkungan dan mengajak para penghuni juga untuk melek dengan masalah ini. Kami melihatnya hal ini positif untuk pengembangan ke depannya," ujar Reza.
Lantaran demikian, ESG mengambil peran strategis, bukan lagi pelengkap, melainkan penentu, apakah sebuah properti berhenti sebagai bangunan, atau tumbuh menjadi destinasi yang bernilai dan berkelanjutan.
Paradise Indonesia: Menerjemahkan ESG ke Strategi Bisnis
Berpijak hal tersebut PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia melakukan pendekatan agresif untuk menerjemahkan ESG ke dalam strategi bisnis perseroan. Perusahaan properti ini tidak memandang ESG sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai fondasi dalam membangun portofolio yang bertautan dengan prinsip berkelanjutan.
(Kiri-kanan): Surina Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) dan CEO & President Director PT Indonesian Paradise Property Tbk, Anthony Prabowo Susilo. (Foto: Darandono/SWA).
CEO & President Director Indonesian Paradise Property, Anthony Prabowo Susilo, mengatakan pengembangan properti dipandang sebagai bisnis jangka panjang, sehingga keberlanjutan menjadi fondasi penting untuk menjaga kesuksesan dan keberlangsungan usaha di masa depan. “Paradise Indonesia berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di seluruh lini perusahaan,” katanya.
Pada jangka menengah, misalnya, manajemen emiten properti ini memperluas portofolio properti mixed-use yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar, memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat, dan menciptakan ekosistem gaya hidup yang berkelanjutan.
Sebut contoh, perseroan menerapkan pengelolaan air yang bertanggung jawab, pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), peningkatan efisiensi energi, serta investasi teknologi ramah lingkungan. Kami telah mengimplementasikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di berbagai unit bisnis, serta mengadopsi langkah-langkah pengurangan emisi melalui uji emisi kendaraan dan inspeksi berkala pada generator listrik.
Lalu, visi jangka panjang perseroan adalah menciptakan operasional yang berkelanjutan di sleuruh unit bisnis dengan mengurangi jejak karbon serta berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim global. Perseroan menargetkan transformasi menyeluruh dalam model bisnis melalui inovasi, teknologi hijau, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Lantaran demikian, aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola terus diadopsi ke dalam setiap lini strategi dan operasional. Perseroan mengimplementasikan program efisiensi energi, pengelolaan air yang bertanggung jawab, serta inovasi operasional dan arsitektural untuk menjaga keberlanjutan tanpa menghambat pertumbuhan bisnis.
Penggunaan material ramah lingkungan dan optimalisasi sumber daya juga menjadi bagian dari upaya menciptakan nilai bagi pemegang saham sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Pembangunan Berkelanjutan
Untuk memperkuat komitmen tersebut, Paradise Indonesia mengintegrasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDG's) Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai acuan strategis.
Implementasinya terlihat melalui upaya mendorong kesetaraan gender di lingkungan kerja dan proyek (SDG poin ke-5), penerapan praktik kerja yang layak serta kontribusi pada pertumbuhan ekonomi (poin ke-8), hingga keterlibatan dalam pengembangan kota dan komunitas yang berkelanjutan (poin ke-11).
Merujuk Laporan Berkelanjutan INPP di 2024, emiten properti ini mencatat peningkatan kinerja ekonomi sebesar 13,45% dibandingkan tahun sebelumnya, Hal ini selaras dengan dukungan perseroan terhadap SDG's poin ke-8 tentang menciptakan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan operasional dan pendapatan di segmen perhotelan, pusat perbelanjaan, penjualan properti, dan layanan lainnya.
Kinerja ini mencerminkan keberhasilan perseroan mengoptimalkan peluang pertumbuhan ekonomi sekaligus menjalankan strategi bisnis jangka pendek, menengah, dan panjang. Tingkat hunian hotel mencapai 73,38%, melampaui target 73,05%, sementara tingkat hunian pusat perbelanjaan tercatat sebesar 93,24% dari target 95,15%.
Pada aspek lingkungan, perseroan menunjukkan komitmen terhadap SDG's nomor 11 tentang pembangunan kota dan komunitas yang berkelanjutan. Salah satu pencapaian di 2024 adalah pengelolaan air dan efluen, yang mencakup efisiensi penggunaan air serta pengoperasian IPAL di setiap unit bisnis.
Dampaknya, konsumsi air turun di 2024 itu sebesar 22% apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini melengkapi upaya lainnya, seperti penerapan langkah efisiensi energi dan pengurangan emisi GRK. Perseroan memangkas konsumsi energi sebesar 23,83% dan emisi GRK yang mencapai 24,91% di seluruh unit bisnis. Caranya, manajemen perusahaan ini mengoptimalisasi sistem pencahayaan, pendingin udara, serta penerapan teknologi hemat energi.
Tren Pemangkasan Emisi GRK dan Efisiensi Energi INPP di 2022-2024
Komitmen terhadap masyarakat juga diwujudkan melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR), seperti donor darah, aksi bersih-bersih pantai, penanaman bakau, penyaluran donasi makanan, mengembangkan program pelatihan dan pemberdayaan yang memberikan ruang partisipasi setara kepada perempuan di lingkungan operasional. Kolaborasi dengan mitra bisnis, komunitas, dan pelanggan diperkuat untuk menciptakan dampak sosial yang merata dan berkelanjutan
Selain itu, perseroan mendorong tata kelola yang baik, memperkuat rantai pasok yang bertanggung jawab, serta mengembangkan properti yang berdampak positif bagi komunitas. Seluruh upaya ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang sejalan dengan regulasi nasional dan kebijakan global.
Dari Properti ke Lifestyle Ecosystem
Paradise Indonesia mengkreasikan lifestyle ecosystem, ruang hidup yang menyatukan fungsi, pengalaman, dan komunitas. INPP fokus pada sektor hospitality, komersial, dan mixed-use guna mendorong integrasi ESG yang lebih dalam.
Dalam kerangka planet, people, profit, pendekatan ini berjalan simultan dan terukur. Dari sisi planet, desain diarahkan pada efisiensi energi dan keberlanjutan jangka panjang.
Sedangkan dari sisi people, pengalaman pengguna, baik tamu hotel, pengunjung, maupun penghuni menjadi pusat perhatian. Sementara dari sisi profit, model bisnis berbasis recurring income memperkuat ketahanan dan stabilitas arus kas.
Bagi Paradise Indonesia ESG bukan sekadar pelengkap, melainkan core strategy yang menopang seluruh arah bisnis. Di sektor lifestyle dan hospitality, mereka tidak hanya menjual bangunan, tetapi experience, mulai dari hotel, retail, hingga kawasan mixed-use di mana aspek people menjadi kunci utama.
Tanpa ESG, value proposition tersebut akan kehilangan daya tariknya. INPP fokus pada recurring income juga menjadikan ESG krusial dalam menjaga aset tetap menarik, efisien, dan ramai, sehingga mampu menopang arus kas jangka panjang.
Paradise Indonesia terus memperkuat struktur pendapatan dengan menjaga porsi recurring income di kisaran 70%, seiring pengembangan aset yang dilakukan secara konsisten
ESG Stategi Inti
Dalam pengembangan ekosistem, ESG berperan sebagai perekat yang menyatukan planet (efisiensi dan keberlanjutan), people (pengalaman), dan profit (monetisasi berulang). Pada saat yang sama, dalam ekspansi dan kolaborasi global, ESG menjadi standar bersama dan bahasa universal yang membangun trust serta membuka peluang investasi.
Anthony mengatakan Paradise Indonesia berfokus pada inovasi dan kreativitas dalam menciptakan ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat dalam pengembangan proyek properti.
Salah satu langkah konkrit yang dilakukan adalah menyeimbangkan pembangunan dengan penyediaan ruang hijau yang memadai, guna menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan nyaman bagi generasi mendatang.
“Keberlanjutan, bukan lagi sekadar opsi, melainkan fondasi dalam pengembangan proyek properti. Properti yang dirancang dengan prinsip berkelanjutan tak hanya memberi dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai ekonomi dan sosial secara simultan,” tegas Anthony
Pendekatan inilah yang menjadi pijakan Paradise Indonesia di setiap proyeknya demi memastikan setiap pengembangan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Dengan karakter bisnis properti yang berjangka panjang, pengalaman yang dimiliki perusahaan menegaskan bahwa keberlanjutan adalah kunci menjaga kesinambungan sekaligus kesuksesan di masa depan,” ujarnya.
Dampak ESG terhadap Paradise Indonesia memperkuat fondasi bisnis dan membuka ruang pertumbuhan, namun di saat yang sama menekan profit jangka pendek karena fase investasi dan ekspansi yang sedang digenjot.
Recurring Income & ESG: Kombinasi Kunci
Pada kesmepatan terpisah, Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) Indonesian Paradise Property, Surina, menyampaikan pendapatan INPP Di 2025 tumbuh 32,9% atau menjadi Rp1,74 triliun secara tahunan. Kinerja fundamental ini ditopang seluruh segmen, yaitu hospitality, komersial, hingga properti, termasuk proyek seperti Antasari Place. Ini mencerminkan peran ESG dalam meningkatkan people experience, desain yang lebih efisien (planet), dan strategi recurring income (pendapatan berulang).
Hanya saja, di sisi bottom line, tekanan tetap terlihat. Perseroan membukukan rugi bersih Rp98,6 miliar di 2025, terutama akibat kenaikan beban operasional, pemasaran, serta ekspansi yang agresif.
“Ini merupakan biaya awal dari implementasi ESG, lantaran investasi pada kualitas aset, efisiensi, dan pengembangan ekosistem mendahului hasil finansialnya,” tutur Surina.
Menurut Surina, ESG juga menguatkan struktur bisnis. Kas perseroan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp771 miliar, aset tumbuh ke Rp10,2 triliun, dan struktur utang tetap sehat.
Dari sisi governance, langkah seperti penerbitan obligasi dan kolaborasi strategis mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor, sekaligus memperkuat fondasi ekspansi jangka panjang.
Pada Januari 2025, misalnya, INPP menerbitkan Obligasi I Indonesian Paradise Property Tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Obligasi perseroan ini diminati investor lantaran kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga hampir 2 kali lipat pada akhir masa bookbuilding. Obligasi ini dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 9 Januari 2025.
Penerbitan surat utang itu menjadi langkah strategis INPP untuk refinancing utang serta untuk penyertaan modal pada anak usaha yang sedang membangun proyek properti di Semarang, Jawa Tengah.
"Dana obligasi itu diarahkan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendorong pertumbuhan bisnis di masa mendatang.Dengan fondasi keuangan yang kuat ini, kami yakin akan kemampuan untuk meningkatkan skala bisnis yang lebih jauh dan memberikan nilai yang berkelanjutan bagi para pemegang saham dan investor," tutur Anthony.
Reza menjabarkan tren pengembangan green economy menyedot minat nvestor terhadap perusahaan-perusahaan maupun emiten yang menerbitkan surat berharga dengan tujuan untuk pengembangan green property. Hal ini juga didukung oleh pergeseran profil investor yang kini tidak hanya mengejar cuan (return), tetapi juga aspek keberlanjutan. "Selain itu, adanya anggapan sektor properti yang memiliki standar ESG dianggap lebih tangguh menghadapi kenaikan biaya energi," ungkap Reza.
Setali tiga uang, Herry menyebutkan proyek-proyek berkonsep hijau atau berkelanjutan itu cenderung memiliki daya tarik lebih tinggi bagi investor dan tenant, terutama di sektor komersial. "Hal ini membuka akses terhadap pembiayaan yang lebih kompetitif, termasuk skema green financing, serta berpotensi meningkatkan nilai aset dalam jangka panjang," sebut Herry.
ESG Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan
Target ESG perusahaan properti ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Dari sisi lingkungan, fokus pada efisiensi energi, penurunan emisi, ruang hijau, dan penerapan green building. Sedangkan sisi sosial, mencakup ruang yang sehat, inklusif, berorientasi pengalaman, serta pemberdayaan komunitas dan UMKM.
Sementara dari sisi tata kelola, transparansi, kepatuhan, manajemen risiko, dan integrasi ESG menjadi fondasi kepercayaan investor. Ketiganya berujung pada transformasi industri properti menuju ekosistem yang lebih bernilai, adaptif, dan berkelanjutan.
Perusahaan properti menargetkan transformasi dari property developer menjadi lifestyle ecosystem builder yang menghadirkan nilai lebih dari sekadar aset fisik.
Fokus ini diperkuat dengan peningkatan recurring income melalui portofolio berkelanjutan, penguatan long-term asset value appreciation, serta pembentukan green & resilient portfolio yang adaptif terhadap perubahan pasar.
Seluruh arah ini bermuara pada model bisnis yang lebih stabil, bernilai jangka panjang, dan berkelanjutan. Ujung-ujungnya, ESG di Paradise Indonesia bukan sekadar angka tahunan, melainkan transformasi model bisnis dari penjualan properti menuju ekosistem berkelanjutan berbasis recurring income. Ini adalah permainan jangka panjang yang mahal di awal, tapi strategis untuk masa depan.
Meski Paradise Indonesia tidak selalu menyebutnya secara eksplisit sebagai “program ESG”, praktiknya sudah melekat kuat dalam setiap proyek yang mereka kembangkan. ESG hadir bukan sebagai label, melainkan sebagai embedded strategy yang tertanam dalam cara mereka merancang, membangun, dan mengelola aset.
Ke depannya, praktik ESG perusahaan properti menghadapi beragam tantangan. Herry menjabarkan pasar properti Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga, sehingga manfaat ekonomi dari ESG belum sepenuhnya dapat dirasakan secara luas. Dengan kata lain, ESG sudah mulai menjadi faktor pembeda, tetapi belum menjadi standar utama dalam pengambilan keputusan pasar.
Tantangan seperti kebutuhan perumahan yang tinggi, keterbatasan daya beli masyarakat, serta belum kuatnya insentif dari pemerintah membuat implementasi ESG belum menjadi arus utama di industri properti. "Oleh karena itu, perkembangan ESG di sektor ini masih sangat bergantung pada dorongan regulasi, kesiapan pelaku usaha, serta peningkatan kesadaran pasar secara bertahap," imbuh Herry.
Praktik ESG sangat cerah untuk menyokong kinerja bisnis. Merujuk kajian PricewaterhouseCoopers (PwC), Herry menjabarkan secara global, sekitar 50% konsumen cenderung lebih percaya kepada perusahaan yang menerapkan ESG, bahkan bersedia membayar premi 5-10% untuk produk yang berkelanjutan.
Memasuki 2026, INPP menargetkan pertumbuhan pendapatan konsolidasi sekitar 5–10%, ditopang oleh kelanjutan monetisasi unit residensial Antasari Place Tower 1 serta tambahan kontribusi arus kas dari 23 Semarang Shopping Center yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester pertama tahun ini.
Selain itu, Paradise Indonesia juga menyatakan rencana pengembangan konsep properti low-density lifestyle di Balikpapan sebagai diversifikasi segmen baru dalam transformasi bisnis yang berorientasi jangka panjang.
Sebagai informasi, Paradise Indonesia memiliki 15 hotel di Jakarta, Bali, Batam, Yogyakarta, dan Makassar, serta mengoperasikan 6 pusat perbelanjaan di Jakarta, Bandung, dan Bali. Perusahaan juga melanjutkan ekspansi melalui pengembangan 23 Semarang Shopping Center dan kawasan low-density lifestyle di Balikpapan. (*)
Proyek Paradise Indonesia yang Bernafaskan ESG




Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.