Mengurai "Benang Kusut" Infrastruktur Serat Optik Indonesia

Seno Soemadji, Chief Strategy Officer, Telkom Indonesia
Seno Soemadji, Chief Strategy Officer, Telkom Indonesia

Dalam lanskap ekonomi digital, infrastruktur serat optik (fiber optic) bukan lagi sekadar utilitas pelengkap; ia adalah backbone kedaulatan digital. Kedaulatan digital berbicara terhadap kemampuan bangsa untuk menentukan strategi, implementasi dan operasional infrastruktur digital untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa. Hal ini meliputi (tak terbatas pada) perlindungan data warga negara, pengamanan infrastruktur penting, termasuk memastikan kemandirian teknologi.

Dalam ekosistem infrastruktur digital, serat optik berperan penting sebagai "sistem saraf pusat" yang menghubungkan komunikasi secara digital. Perkembangan teknologi serat optik memungkinkan konektivitas digital dengan kecepatan tinggi, menjembatani komputasi awan (cloud), dan memfasilitasi kecepatan proses kecerdasan buatan (Artificial Intellegence/AI). Saat ini, serat optik merupakan medium yang mampu membawa kapasitas data masif dengan latensi rendah yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi masa depan.

Namun demikian, tantangan signifikan tengah dihadapi dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Di tengah meningkatnya permintaan data secara eksponensial, industri masih menghadapi potensi inefisiensi akibat fragmentasi pasar yang tinggi. Dengan lebih dari 1.000 penyelenggara jasa internet (ISP) berlisensi pada tahun 2025, tingkat kompetisi yang semakin intensif berpotensi mendorong duplikasi aset serta berdampak pada kualitas layanan. Selain itu, pengembangan infrastruktur juga perlu mempertimbangkan aspek penataan kota, khususnya terkait keberadaan tiang dan jaringan kabel yang belum terintegrasi secara optimal.

Foto: Carut marut infrastruktur serat optik



Pertimbangan bagi para pemangku kepentingan adalah apakah investasi modal akan terus terserap pada pembangunan jaringan yang berpotensi redundan, atau diperlukan langkah konsolidasi guna mendukung keberlanjutan industri.

Diagnosa Industri: Inefisiensi Struktural

Data menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu dicermati. Data dari Survei Internet APJII 2025 menunjukkan bahwa penetrasi pengguna internet telah menembus angka 229 juta jiwa, namun, penetrasi fixed broadband (FBB) masih berada pada kisaran belasan persen dari total rumah tangga.

Tantangan utama tidak terletak pada ketersediaan investasi, melainkan pada alokasi yang berpotensi tumpang tindih dan belum merata. Di sejumlah kawasan bisnis maupun permukiman premium seperti SCBD, dapat ditemukan sekitar 5 hingga 10 penyedia layanan yang membangun jaringan serat optik secara paralel pada jalur yang sama.Hal ini menciptakan beberapa beban ganda:

  1. Efisiensi Alokasi CAPEX: Investasi modal dalam skala signifikan masih terkonsentrasi pada pembangunan aset yang serupa di lokasi yang sama (overbuilt), sementara sejumlah kecamatan di tier-3 belum memperoleh akses layanan yang memadai (underserved).
  2. Penataan Infrastruktur & Aspek Keselamatan: Keberadaan jaringan kabel yang belum tertata secara optimal tidak hanya berdampak pada estetika kota, namun juga berpotensi memengaruhi aspek keselamatan publik serta menjadi tantangan dalam mendukung implementasi konsep Smart City yang memerlukan keteraturan infrastruktur bawah tanah.

Imperatif Industri: Mengapa Konsolidasi adalah Keharusan

Konsolidasi infrastruktur menawarkan solusi konkret. Dalam kalkulasi bisnis jangka panjang, langkah ini menawarkan penciptaan nilai industri (industry value creation) yang signifikan melalui:

  • Rasionalisasi Biaya: Dengan berbagi infrastruktur pasif (tiang, ducting, manhole), operator dapat memangkas biaya pembangunan hingga 30-40%. Dana ini dapat direalokasi untuk inovasi layanan di lapisan atas (service layer) atau ekspansi ke daerah pelosok.
  • Enabler 5G & IoT: Gelaran 5G menuntut densitas jaringan yang masif untuk menopang small cells. Tanpa konsolidasi, biaya backhaul 5G akan membuat harga layanan menjadi tidak kompetitif bagi konsumen.
  • Valuasi Aset yang Lebih Baik: Pemisahan aset infrastruktur (NetCo) dari bisnis layanan (ServCo) terbukti meningkatkan valuasi perusahaan karena profil risiko yang lebih rendah dan arus kas yang lebih stabil (predictable).

Memisahkan "Jalan" dan "Kendaraan"

Dunia telah bergerak ke arah model Open Access serta Neutral Carrier. Model ini memisahkan kepemilikan "jalan" (kabel/pipa) dengan "kendaraan" (layanan internet). Di Singapura, melalui NetLink Trust, pemerintah memberikan mandat kepada satu entitas tunggal untuk membangun dan mengelola lapisan pasif jaringan fiber nasional. Hasilnya? Efisiensi pemanfaatan modal melalui optimalisasi pembangunan infrastruktur tanpa duplikasi pekerjaan pada lokasi yang sama. Penetrasi fiber mencapai hampir 100% dengan harga yang sangat terjangkau karena ISP seperti Singtel atau StarHub dapat fokus berkompetisi pada kualitas layanan dan harga tanpa dibebani biaya konstruksi fisik yang masif.

Sementara di Inggris, Openreach dibentuk melalui pemisahan fungsional dari British Telecom (BT). Openreach wajib memberikan akses yang setara dan non-diskriminatif kepada semua penyedia layanan (termasuk pesaing BT). Hal ini menciptakan level playing field yang adil, mempercepat inovasi, dan memastikan bahwa pembangunan jaringan di area pedesaan tetap layak secara ekonomi melalui skema berbagi beban.

Langkah Strategis Telkom

Indonesia tidak sepenuhnya diam. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) telah membaca arah angin ini melalui strategi transformasi fundamental dengan memisahkan fokus bisnis, diantaranya:

  1. Fokus ServCo (FMC): Integrasi IndiHome ke Telkomsel memungkinkan entitas layanan untuk fokus 100% pada pengalaman pelanggan dan konvergensi layanan tanpa terbebani kompleksitas fisik jaringan.
  2. Pembentukan InfraCo: Mengonsolidasi aset serat optik dan jaringan akses ke dalam entitas khusus untuk menciptakan network excellence.
  3. Unlocking Value: Mengubah aset fiber dari cost center menjadi revenue generator. InfraCo dipersiapkan beroperasi secara netral, membuka peluang wholesale bagi operator lain, mirip dengan kesuksesan IPO Mitratel di sektor menara.

Langkah Telkom ini adalah sinyal kuat. Konsolidasi oleh pemain utama berpotensi mendorong pemain menengah dan kecil untuk melakukan penyesuaian strategi guna meningkatkan efisiensi operasional.

Menuju "Jalan Tol" Digital Terpadu

Konsolidasi industri serat optik Indonesia menjadi salah satu pendekatan yang perlu dipertimbangkan. Namun demikian, langkah korporasi saja belum memadai sehingga dukungan kebijakan dari pemerintah tetap diperlukan. Diperlukan dukungan regulasi dari Pemerintah untuk mendukung konsolidasi industri, contohnya insentif fiskal (seperti keringanan pajak atau subsidi) bagi perusahaan yang melakukan merger atau aktif dalam infrastructure sharing. Mengacu pada kesuksesan di Malaysia (melalui program JENDELA - Jalinan Digital Negara), pemerintah dapat menetapkan standar nasional untuk Common Utility Ducting.

Pemerintah juga berperan penting untuk memastikan bahwa kompetisi masa depan tidak lagi terjadi pada "siapa yang punya tiang paling banyak", melainkan pada "siapa yang memberikan layanan terbaik di atas infrastruktur yang sama". Intervensi regulasi yang tepat akan menjamin bahwa investasi tetap mengalir namun tetap selaras dengan tata ruang kota. Dalam tataran yang lebih luas, penataan secara terpadu yang dimotori oleh pemerintah akan membantu mengoptimalkan nilai investasi infrastruktur untuk dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Hanya dengan cara inilah, Indonesia bisa mengubah "hutan kabel" yang semrawut menjadi "jalan tol digital" yang mulus, dan efisien, sebagai implementasi nyata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital masyarakat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag