Laba Bersih ANTM Diproyeksikan Tumbuh 18,3% di 2026

Laba Bersih ANTM Diproyeksikan Tumbuh 18,3% di 2026

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Faras Farhan, memberikan catatan terbaru terkait prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Meski kinerja fundamental dinilai tetap kokoh, Mirae Asset memutuskan untuk menurunkan peringkat (downgrade) saham emiten pertambangan plat merah ini menjadi trading buy dengan target harga (TP) sebesar Rp4.300 per saham.

ANTM mencatatkan pendapatan di kuartal IV/2025 sebesar Rp12,6 triliun, mengalami penurunan sebesar 3% secara kuartalan (QoQ) dan terkoreksi tajam 51,5% secara tahunan (YoY). Penurunan ini dipicu oleh merosotnya volume penjualan emas menjadi 104,2 koz, turun 33,3% secara kuartalan.

Meskipun volume penjualan melemah, rata-rata harga jual (Average Selling Price/ASP) emas yang kuat di angka US$4.491 per oz atau naik 29,3% YoY, mampu menahan tekanan pada pendapatan segmen emas yang tercatat sebesar Rp7,8 triliun. Sementara itu, segmen bijih nikel justru memberikan sokongan signifikan dengan pertumbuhan pendapatan menjadi Rp3,2 triliun, melonjak 72,2% secara tahunan berkat permintaan yang solid.

Dari sisi profitabilitas, ANTM mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,23 triliun pada periode laporan terakhir. Namun, EBITDA tercatat sebesar Rp807 miliar (-63,6% QoQ) dan laba operasional (EBIT) sebesar Rp507 miliar (-71,0% QoQ), yang turut dipengaruhi oleh biaya regulasi sebesar Rp1,1 triliun.

Farhan memproyeksikan pertumbuhan berkelanjutan ANTM yang didorong oleh ekspansi bijih nikel. Beberapa poin kunci proyeksi tersebut antara lain: Volume produksi nikel diproyeksikan tumbuh sekitar 5% per tahun, didukung oleh kuota RKAB sebesar ~18,1 juta wmt. Kedua, penjualan emas diperkirakan stabil di angka 37,4 ton per tahun, memberikan basis pendapatan yang resilien. Ketiga, kontribusi hilirisasi bauksit dari proyek Mempawah diperkirakan mulai masuk pada semester kedua tahun 2026 (2H26) dengan target 3–3,5 juta wmt.

Analisis Valuasi dan Risiko

Mirae Asset memproyeksikan laba bersih ANTM di 2026 menjadi Rp8,5 triliun atau naik 18,3% dari Rp7,2 triliun pada tahun 2025. Target harga saham ANTM Rp4.300 yang merujuk price to earning ratio (PER) sebesar 12,1 kali untuk tahun 2026.

"Emas tetap menjadi pendorong laba utama, dengan volume yang diperkirakan membaik seiring meredanya kendala pasokan," tulis Farhan dalam risetnya. Selain itu, pemulihan kontribusi nikel diharapkan terjadi pada semester kedua 2026 seiring berlanjutnya proyek Gag dan utilisasi penuh RKAB.

Meski demikian, investor diminta tetap mewaspadai risiko berupa volatilitas harga emas dunia serta potensi kendala regulasi pada komoditas nikel. Secara keseluruhan, diversifikasi komoditas dan margin yang stabil tetap mendukung prospek jangka menengah emiten ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag