Dari Vendor ke Enabler: Cara Lion Parcel Masuk ke Jantung Pertumbuhan Bisnis

Arif Wibowo, Chief Sales Officer Lion Parcel. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Arif Wibowo, Chief Sales Officer Lion Parcel. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Di banyak perusahaan, logistik dulu ditempatkan di belakang: sunyi, operasional, dan sering kali baru disadari ketika ada masalah. Barang terlambat, komplain muncul, barulah fungsi ini mendapat perhatian.

Namun, lanskap itu kini berubah. Logistik tidak lagi sekadar urusan distribusi, tetapi mulai menentukan apakah sebuah bisnis bisa tumbuh atau justru tersendat.

Trade-off

Perubahan ini terasa jelas di Indonesia, ketika gelombang pertumbuhan UMKM, ekspansi bisnis B2B, dan penetrasi e-commerce menciptakan tekanan baru terhadap sistem distribusi. Di titik ini, kecepatan, ketepatan, dan pengalaman pengiriman menjadi bagian dari proposisi nilai sebuah brand.

Di tengah dinamika itu, Arif Wibowo, Chief Sales Officer Lion Parcel, melihat logistik telah bergeser dari fungsi pendukung menjadi elemen strategis. “Logistik itu peran urat nadi dari suatu pelaku bisnis,” ujarnya dalam podcast Dari Redaksi SWA. Pernyataan ini bukan sekadar metafora, melainkan refleksi dari realitas di lapangan.

Bagi perusahaan-perusahaan besar, kesadaran ini relatif sudah terbentuk. Mereka memahami bahwa supply chain yang efisien adalah fondasi daya saing. Namun, di level UMKM, perspektif tersebut belum sepenuhnya merata.

Banyak pelaku usaha kecil masih melihat logistik sebagai komponen biaya, bukan investasi strategis. Dalam praktiknya, keputusan sering kali didasarkan pada harga termurah, bukan kualitas layanan. Di sinilah kesalahan paling umum terjadi.

“Iya seperti yang pada umumnya terjadi mereka cuma melihat logistik sebagai supporting nomor sekian dari bagian bisnisnya,” kata Arif. Padahal, dalam fase scale-up, logistik justru menjadi faktor pembeda yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan.

Ketika distribusi tidak konsisten, dampaknya tidak berhenti di level operasional. Ia merembet ke pengalaman pelanggan, reputasi brand, hingga loyalitas konsumen. Dalam konteks ini, logistik menjadi bagian dari wajah perusahaan di mata pelanggan.

Konsumen tidak membedakan antara brand dan penyedia logistik. Keterlambatan atau kerusakan barang akan dikaitkan langsung dengan brand yang mereka beli. Karena itu, kualitas logistik memiliki implikasi langsung terhadap repeat order.

“Kalau harga murah tapi servisnya juga jelek, itu akan merusak brand mereka,” ujar Arif. Trade-off antara harga dan kualitas, yang selama ini dianggap wajar, pada kenyataannya sering kali menjadi jebakan.

Armada Lion Parcel. (Ist)

Solution partner

Di sisi lain, realitas industri logistik di Indonesia tidak sesederhana memilih layanan terbaik. Negara kepulauan dengan infrastruktur yang belum merata menciptakan kompleksitas tersendiri. Tidak ada satu pemain yang benar-benar dominan di seluruh wilayah.

Setiap perusahaan logistik memiliki kekuatan di area tertentu. Kondisi ini menuntut pelaku usaha untuk lebih cermat dalam menentukan mitra, bahkan dalam beberapa kasus harus mengombinasikan beberapa penyedia layanan.

“Belum ada satu logistik yang benar-benar jago di Indonesia meng-cover seluruh Indonesia,” kata Arif. Fragmentasi ini sekaligus membuka ruang bagi diferensiasi.

Bagi Lion Parcel, diferensiasi tidak dibangun semata dari harga. Mereka justru menghindari pendekatan berbasis tarif sebagai pintu masuk utama ke klien. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar dalam industri.

“Jadi, kalau kita mau engage sama satu calon customer itu biasanya kita nggak langsung jualan harga,” ujarnya. Fokusnya bukan pada transaksi, melainkan pada pemahaman kebutuhan.

Dalam praktiknya, Lion Parcel memulai kerja sama dengan menggali titik masalah klien. Setiap industri memiliki kebutuhan yang berbeda: ada yang sensitif terhadap waktu, ada yang fokus pada biaya, ada pula yang membutuhkan jangkauan luas.

Dari proses tersebut, solusi dirancang secara spesifik. Pendekatan ini menggeser posisi perusahaan logistik dari vendor menjadi solution partner. Relasi yang terbangun bukan lagi sekadar penyedia jasa, tetapi bagian dari sistem operasional.

Dalam konteks B2B, peran ini bahkan bisa masuk lebih dalam ke rantai nilai. Lion Parcel, misalnya, menyediakan layanan fulfillment bagi klien yang membutuhkan dukungan dalam pengelolaan stok dan distribusi.

Dengan model ini, klien dapat memusatkan energi pada pengembangan bisnis inti, sementara aspek logistik ditangani oleh mitra yang memahami kompleksitasnya. Integrasi semacam ini menjadi semakin penting di tengah tekanan efisiensi.

Tiga hal

Namun, mengelola solusi logistik bukan tanpa tantangan. Pelaku bisnis sering menginginkan tiga hal sekaligus: biaya rendah, pengiriman cepat, dan layanan stabil. Dalam praktiknya, ketiganya tidak selalu bisa dipenuhi secara bersamaan.

Di sinilah kemampuan mengelola trade-off menjadi krusial. Lion Parcel mencoba menjawabnya dengan pendekatan segmentasi produk, menyesuaikan layanan dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing klien.

Untuk kebutuhan yang sensitif terhadap waktu, tersedia layanan dengan SLA (service level agreement) ketat. Untuk segmen yang lebih fleksibel, tersedia opsi dengan harga lebih kompetitif. Pendekatan ini memungkinkan kompromi yang lebih rasional.

Di balik semua itu, kekuatan struktural Lion Parcel terletak pada dukungan Lion Group, khususnya dalam hal jaringan penerbangan. Akses terhadap armada udara memberikan keunggulan dalam hal kecepatan dan jangkauan.

Lion Parcel mendapat dukungan Lion Group. (Ist)

Di negara seperti Indonesia, keunggulan ini menjadi sangat relevan, terutama untuk distribusi ke wilayah luar Jawa dan daerah terpencil. Namun, tantangan tidak berhenti di bandara. Distribusi dari bandara ke tangan konsumen — last mile — masih sangat bergantung pada kualitas infrastruktur darat. Semakin banyak titik perpindahan, semakin tinggi risiko kerusakan dan keterlambatan.

Karena itu, efisiensi logistik tidak hanya soal teknologi atau armada, tetapi juga soal integrasi sistem dan pengurangan friksi dalam proses distribusi. Semakin seamless prosesnya, semakin tinggi kualitas layanan yang dirasakan pelanggan.

Menariknya, dari perspektif makro, aktivitas logistik juga dapat menjadi indikator ekonomi. Volume pengiriman yang tinggi menunjukkan aktivitas perdagangan yang hidup, bahkan di tengah narasi perlambatan.

Arif melihat tren ini secara langsung. Pengiriman ke berbagai daerah terus meningkat, menandakan bahwa daya beli masyarakat masih bergerak, terutama melalui kanal UMKM dan perdagangan digital.

Ke depan, peran logistik diperkirakan akan semakin mendasar. Ia tidak lagi sekadar fungsi operasional, tetapi menjadi infrastruktur ekonomi yang setara dengan utilitas lain.

“Logistik ke depan akan seperti listrik dan juga air,” kata Arif. Pernyataan ini menegaskan bahwa logistik akan menjadi kebutuhan primer dalam ekosistem bisnis.

Namun, di tengah kemungkinan itu, satu hal tetap tidak berubah: kemampuan perusahaan logistik untuk memahami kebutuhan klien dan menerjemahkannya menjadi solusi akan tetap menjadi sumber keunggulan kompetitif. Di situlah pertarungan industri ini akan berlangsung: bukan hanya di jalur distribusi, tetapi di dalam strategi bisnis itu sendiri. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag