Jurus Bosnet Taklukkan Bisnis Distribusi

Surianto Tjhin, Presiden Direktur Bosnet. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Surianto Tjhin, Presiden Direktur Bosnet. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Di tengah kompleksitas rantai pasok nasional yang membentang dari kota besar hingga pelosok kepulauan, visibilitas menjadi kata kunci. Tanpa data yang akurat dan real-time, distribusi berubah menjadi aktivitas yang penuh asumsi.

Di ruang inilah, PT Bosnet Distribution Indonesia mengambil posisi. Dipimpin oleh Surianto Tjhin, perusahaan ini membangun fondasinya di atas satu kebutuhan mendasar: memastikan setiap pergerakan barang, salesman, hingga armada dapat dipantau dan dioptimalkan secara sistematis.

Tiga pilar

Bosnet berdiri pada 2012, ketika banyak proses masih bertumpu pada perangkat mobile dengan stylus dan pelaporan yang tak selalu rapi. Keterbatasan ini membuat aktivitas tim distribusi sulit dilihat utuh. Dari situ Bosnet mengembangkan aplikasi yang memungkinkan tim penjualan menjalankan aktivitas langsung di lapangan sekaligus merekam datanya sebagai bahan kontrol dan perbaikan.

Produk pertama yang menjadi tulang punggung adalah Distribution Management System (DMS). Setelah itu, Bosnet memperluas kapabilitas dengan solusi mobile untuk mendukung eksekusi di lapangan. Portofolio terus bertambah hingga membentuk ekosistem yang saling terhubung. Hari ini Bosnet memiliki sekitar 40 produk untuk menjawab kebutuhan distribusi end-to-end.

Sebagai negara kepulauan, parameter distribusi — mulai dari lead time, akses wilayah, hingga faktor musiman — jauh lebih berlapis. Di level mikro, outlet pun tidak selalu permanen: warung bisa berpindah lokasi karena penertiban, cuaca, atau banjir, sehingga data dan rute distribusi cepat menjadi usang.

Bosnet merancang sistem yang lentur untuk menghadapi realitas tersebut. Pembaruan titik, koordinat, dan identitas outlet dapat dilakukan cepat melalui aplikasi mobile, sehingga data tetap sinkron dengan kondisi lapangan dan operasional berjalan akurat.

Dalam struktur layanannya, Bosnet membangun tiga pilar: high level consultancy, digitalisasi, dan operation ecosystem (dukungan operasional). Ketiganya diposisikan saling terkait: konsultasi menentukan arah proses, digitalisasi menjadi alat pengungkit, dan operasi harian memastikan sistem benar-benar berjalan di lapangan.

Saat ini, fokus yang paling didorong ialah digitalisasi, termasuk integrasi AI pada use case spesifik distribusi. “Jika ditanya mana yang paling kami push saat ini, jawabannya tetap digitalisasi,” ujar Surianto Tjhin, Presiden Direktur Bosnet Distribution Indonesia. Targetnya jelas: decision making harus berbasis data, bukan sekadar feeling.

Salah satu penerapannya ialah Vision Planogram. Tim cukup memotret rak di modern market atau pasar tradisional, sistem AI kemudian menghitung komposisi penempatan produk —misalnya, persentase produk tertentu dibandingkan kompetitor— tanpa intervensi manual. Jika ada susunan yang tidak sesuai, sistem memberikan notifikasi agar segera diperbaiki.

Use case berikutnya ialah Digital Document AI. Proses purchase order atau sales order bisa terdeteksi dan diproses otomatis oleh sistem yang mampu memahami konteks dokumen, melampaui pendekatan OCR yang hanya membaca teks. Dengan begitu, administrasi lebih ringkas, risiko salah input menurun, dan pekerjaan repetitif dapat ditekan.

Bosnet juga mengembangkan Outlet Consolidation untuk merapikan data outlet yang kerap ganda: satu toko yang sama didaftarkan dengan nama berbeda. AI membantu mengidentifikasi kemungkinan outlet yang sama, sehingga perusahaan tidak memberikan credit limit berlebihan dan dapat mencegah potensi outlet fiktif. Di distribusi, terutama FMCG, akurasi data berarti kontrol risiko.

Surianto mendorong digitalisasi dan pemanfaatan AI untuk meningkatkan visibilitas serta efisiensi dalam pengelolaan distribusi nasional. (Foto: Sri Niken Handayani/SWA)
Surianto mendorong digitalisasi dan pemanfaatan AI untuk meningkatkan visibilitas serta efisiensi dalam pengelolaan distribusi nasional. (Foto: Sri Niken Handayani/SWA)

Dua value utama

Dalam konteks pasar, segmen utama Bosnet adalah FMCG: food, beverage, kosmetik, personal care, farmasi, rokok, hingga IMDK (industri minuman dalam kemasan). Namun, perusahaan juga melayani sektor non-FMCG yang pola distribusinya mirip, seperti Astra Otoparts untuk spare parts dan Shell untuk produk oli. Benang merahnya adalah kebutuhan kontrol operasional yang ketat di jaringan distribusi.

Di sisi komersial, Bosnet tidak ingin percakapan berhenti pada fitur atau harga. “Bosnet harus memberikan value, kami tidak ingin tim sales hanya menjual fitur atau berbicara soal harga,” kata Surianto. Karena itu, Bosnet menekankan dua value utama: increase revenue dan reduce cost —meningkatkan produktivitas kunjungan melalui optimasi waktu dan rute, sekaligus menekan biaya terutama di logistik lewat Smart Routing dan kontrol kebocoran melalui Daily Settlement.

Ke depan, Bosnet menyiapkan peluncuran 10 produk pada 2026: lima di semester I sebagai rejuvenasi produk lama dengan teknologi terbaru, dan produk baru di semester II, salah satunya platform online order khusus FMCG.

Dengan hampir 150 karyawan, tim after-sales support, serta SLA untuk penanganan critical bug, Bosnet menegaskan bahwa sistem distribusi bukan proyek sekali jadi: ia harus hidup setiap hari, mengikuti dinamika market, dan konsisten menghasilkan dampak yang terukur. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag