MSCI Akui Reformasi Pasar Modal Indonesia, Bakal Depak Saham Berkonsentrasi Tinggi (HSC) dari Indeks
Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah resmi meninjau kembali saham-saham Indonesia yang akan masuk ke indeks Mei 2026. MSCI juga mengakui langkah transparansi pasar modal Indonesia, mulai dari pengungkapan pemegang saham di atas 1% hingga saham beredar di publik (free float) minimal 15%.
“MSCI sedang mengevaluasi cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data dan langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kelayakan investasi secara lebih luas,” jelas MSCI dari laman resmi yang terbit pada 20 April 2026 pukul 20.04 waktu setempat.
Selanjutnya, MSCI akan membekukan semua kenaikan pada Faktor Inklusi Asing (FIF) dan Jumlah Saham (NOS). MSCI juga tidak akan menerapkan penambahan ke dalam Indeks MSCI Investable Market (IMI).
Selain itu, MSCI juga tidak akan menerapkan migrasi lanjutan di seluruh segmen indeks, termasuk dari indeks Small Cap ke Standard.
MSCI menegaskan, bahwa akan menghapus sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka kerja pemegang saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) yang baru.
MSCI juga akan menggunakan data pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan perkiraan free float, jika dianggap perlu.
“MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan pengungkapan baru tersebut ke dalam penilaian free float atau perhitungan indeksnya sampai tinjauan selesai dan masukan dari pelaku pasar telah diterima serta dievaluasi,” terang MSCI.
MSCI menilai, langkah ini untuk membatasi risiko rotasi indeks dan risiko investabilitas, sambil memberi waktu untuk evaluasi lebih lanjut atas inisiatif pasar modal yang sedang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
“MSCI berencana untuk memberikan informasi lebih lanjut mengenai topik ini sebagai bagian dari Tinjauan Aksesibilitas Pasar yang dijadwalkan pada Juni 2026,” tutup MSCI dalam keterangan resmi tersebut.
Adapun, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menegaskan, bahwa pertemuan BEI, lembaga regulator mandiri (SRO)—termasuk OJK dan KSEI—dengan MSCI bersifat rahasia.
“Kami telah bertemu dengan MSCI tanggal 16 April 2026. Kami mengapresiasi bahwa empat proposal yang telah kami sampaikan diakui oleh MSCI,” kata Jeffrey secara tertulis kepada awak media pada Selasa pagi (21/4/2026).
Selanjutnya, BEI akan terus berkomunikasi dengan MSCI, termasuk dengan lembaga penyedia indeks global lainnya. BEI juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan.
Sementara MSCI akan berkomunikasi lanjut dengan BEI dan para SRO, untuk menilai inisiatif yang diajukan mulai dari sumber data pemegang saham lebih dari 1%, pemegang saham terkonsentrasi tinggi (HSC), free float minimum 15%, hingga klasifikasi investor dalam data kepemilikan saham.
Pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ke level 7.560,28 pada pukul 09.00 WIB dari aplikasi IDX Mobile, dan melanjutkan koreksi sebagai imbas dari pengumuman MSCI tersebut. Per pukul 09.10 WIB, IHSG koreksi ke level 7.537 dan masih bergerak dinamis hingga jeda perdagangan pukul 12.00 WIB. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.