Gek Nanda Putri Dana Asih: Dari Keresahan Pribadi Menjadi Brand Aksesoris yang Memberikan Makna Sosial
Di balik setiap produk By Ash Jewelry, ada cerita sederhana yang justru menjadi fondasi bisnisnya. Gek Nanda Putri Dana Asih memulai langkahnya sebagai pengusaha dari pengalaman pribadi, yakni ketidakcocokan menggunakan perhiasan imitasi yang memicu iritasi pada kulit.
Perempuan kelahiran Denpasar, 30 Januari 2001 ini kemudian mencari solusi. Ia menemukan bahwa material stainless steel hypoallergenic bisa menjadi alternatif yang lebih aman. Dari situ, muncul ide untuk tidak hanya memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi juga menjawab persoalan yang ternyata dialami banyak perempuan lain.
“Awalnya aku buat untuk diri sendiri, karena nggak cocok pakai perhiasan imitasi. Tapi ternyata banyak yang punya masalah yang sama,” ujarnya kepada SWA.co.id di Denpasar, Bali, Selasa (21/4/2026.
) Berbekal modal awal Rp5 juta—hasil patungan bersama sang kakak—Nanda mulai merintis By Ash Jewelry pada 2022. Ia mengerjakan semuanya secara mandiri, dari produksi hingga pemasaran. Produk yang dihadirkan mengusung konsep simpel dan elegan, menggunakan material stainless steel yang dipadukan dengan mutiara asli dari Lombok, sehingga aman digunakan sehari-hari, termasuk untuk kulit sensitif.
Namun, perjalanan sebagai pelaku usaha ultra-mikro tidak selalu mulus. Dua tahun pertama menjadi fase paling menantang. Penjualan yang belum stabil, ketiadaan pelanggan loyal, hingga belum adanya tempat jualan tetap sempat memicu keraguan
.“Tantangan terbesar itu justru melawan pikiran sendiri. Overthinking karena modal keluar lebih banyak daripada penjualan, apalagi di awal-awal,” ungkapnya. Fase trial and error tersebut bahkan sempat membuatnya berpikir untuk berhenti.
Namun, Nanda memilih bertahan dan keputusan itu menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnisnya. Momentum berikutnya datang saat ia mengikuti program inkubasi UMKM SisBerdaya 2025.
Berbeda dari program lain, Nanda menilai SisBerdaya memberikan pendampingan yang komprehensif—mulai dari kelas online, workshop langsung di Jakarta, hingga pelatihan pitching di hadapan juri.“Di sana aku belajar bahwa yang kita jual bukan cuma produk, tapi value. Bagaimana cerita di balik produk itu bisa sampai ke pelanggan,” katanya.
Keikutsertaannya dalam program ini membawanya masuk ke jajaran Top 15 dan akhirnya keluar sebagai Pemenang Kategori Ultra-Mikro Area II. Lebih dari sekadar prestasi, pengalaman ini mengubah cara pandangnya terhadap bisnis. Ia menjadi lebih percaya diri sekaligus menetapkan standar yang lebih tinggi, tidak hanya dari sisi kualitas produk, tetapi juga makna yang ingin disampaikan. Sebelumnya, produk By Ash Jewelry kerap dipandang sebelah mata karena bukan berbahan emas.
Namun kini, Nanda justru melihat hal tersebut sebagai tantangan untuk mengedukasi pasar bahwa nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh material, melainkan juga oleh desain, kenyamanan, dan cerita di baliknya. Sebagai lulusan S1 Teknologi Industri Pertanian dari Universitas Udayana, Nanda membawa pendekatan yang cukup sistematis dalam mengembangkan usahanya. Ia mulai memikirkan langkah jangka panjang, termasuk membangun sistem bisnis yang memungkinkan operasional berjalan lebih mandiri.
Ke depannya, ia berencana mendelegasikan pekerjaan operasional kepada tim agar dapat fokus pada riset dan pengembangan produk. Tak hanya itu, ia merintis usaha baru di bidang event organizer (EO), khususnya penyelenggaraan weekend market untuk UMKM lokal.Inisiatif ini lahir dari pengalaman pribadinya yang dulu kesulitan mendapatkan tempat berjualan yang layak dan konsisten.
Melalui EO tersebut, ia ingin menciptakan ruang bagi pelaku UMKM untuk lebih mudah menjangkau pasar.“Sekarang kami juga punya tempat jualan yang lebih pasti, jadi pemasukan bisa lebih stabil,” jelasnya.
Langkah ini sekaligus menciptakan ekosistem yang saling mendukung antara bisnis utamanya dan usaha baru yang dibangunnya. By Ash Jewelry tidak lagi sekadar jenama aksesoris, tetapi juga bagian dari upaya yang lebih besar dalam memberdayakan pelaku usaha kecil. Dari Bali, ia tidak hanya merangkai perhiasan, tetapi juga merangkai peluang—bagi dirinya sendiri dan bagi pelaku UMKM lainnya.
Gek Nanda Putri Dana Asih memperlihatkan bahwa bisnis bisa lahir dari persoalan sederhana, lalu tumbuh melalui ketekunan dan keberanian menghadapi ketidakpastian. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.