Desa Tibubeneng Edukasi Anak- Anak Mengelola Sampah untuk Mengerek Citra Pariwisata Bali
Tekanan persoalan sampah yang kian mencoreng citra Bali sebagai destinasi pariwisata global mendorong Desa Tibubeneng, Kuta Utara, mengambil langkah strategis berbasis edukasi. Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi 2026, desa ini menggandeng Ginting Institute meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup yang menyasar siswa sekolah dasar.
Program yang mulai dijalankan Juni 2026 ini menitikberatkan pada pembentukan kesadaran sejak dini melalui pengenalan, pemilahan, hingga pengolahan sampah. Inisiatif tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah desa, unsur pemuda, dan lembaga pendidikan berbasis komunitas dari Jakarta itu.
Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya, melihat kolaborasi ini sebagai penguatan dari berbagai inisiatif lingkungan yang telah berjalan sebelumnya, mulai dari aksi bersih pantai, pengelolaan sampah di tingkat banjar, hingga edukasi langsung ke masyarakat.
“Penanaman kesadaran sejak usia dini menjadi fondasi penting untuk menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan,” ujarnya pada keterangan tertulis yang dikutip Kamis (23/4/2026).
Pendekatan yang diusung tak sekadar teoritis. Ginting Institute menyiapkan materi ajar interaktif sekaligus pelatihan bagi pengajar yang melibatkan sekaa teruna-teruni dan karang taruna. Tujuannya, menciptakan kader lingkungan yang mampu menggerakkan perubahan dari level komunitas.
Kurikulum akan memperkenalkan konsep pengelolaan sampah berbasis prinsip 4R—reduce, reuse, recycle, dan replace/refuse—yang dikemas dalam buku cerita, permainan edukatif, serta aktivitas praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendiri Ginting Institute Daniel Ginting menilai pendidikan lingkungan di tingkat sekolah dasar merupakan investasi jangka panjang dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tangguh.
“Pembiasaan sejak dini akan membentuk etika dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan,” katanya. Yang menarik, program ini mengintegrasikan pendekatan kreatif melalui seni sebagai medium pembelajaran. Seniman Made Bayak akan mengajak siswa mengolah limbah plastik menjadi karya seni, sementara kartunis Jango Pramartha menghadirkan workshop visual berbasis kartun.
Hasil karya siswa direncanakan dipamerkan di berbagai ruang kreatif, termasuk Wija Reksa Art Hub & Residency di Tibubeneng. Kehadiran ruang kreatif tersebut juga diproyeksikan menjadi katalis kolaborasi lintas sektor, mempertemukan komunitas lokal dengan jejaring kreatif nasional hingga internasional.Bagi Desa Tibubeneng, langkah ini bukan sekadar program edukasi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang membangun model pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Jika berhasil, pendekatan ini berpotensi direplikasi sebagai best practice bagi desa-desa lain di Bali dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus daya saing pariwisata. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.