Langkah Chitose Merespons Ketegangan Geopolitik dan Kenaikan Harga Plastik

Karyawan pabrik PT Chitose Internasional di Cimahi sedang menyusun rangka kursi untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin pengecatan menggunakan nickel chrome, Rabu (22/4/2026). aat perang Ukraina dan Rusia pecah, harga nikel naik tajam hingga menghambat proses produksi. (foto M. Ubaidillah/SWA)
Karyawan pabrik PT Chitose Internasional di Cimahi sedang menyusun rangka kursi untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin pengecatan menggunakan nickel chrome, Rabu (22/4/2026). aat perang Ukraina dan Rusia pecah, harga nikel naik tajam hingga menghambat proses produksi. (foto M. Ubaidillah/SWA)

Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran itu berdampak negatif terhadap perekonomian global. Berbagai sektor industri terkena pukulan telak, semisal memicu kenaikan hanya minyak dan gas serta industri turunannya seperti harga bahan baku plastik. Salah satu produk yang menggunakan bahan baku plastik adalah perusahaan furnitur. PT Chitose Internasional Tbk, misalnya, terdampak akibat perang yang terjadi di wilayah tersebut.

Direktur Chitose, Susanto, menceritakan = perang yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama, sebelumnya ada konflik antara Ukraina dan Rusia. Perang Ukraina dan Rusia saat itu membuat harga nikel naik tajam, bahkan sempat menghambat operasional Chitose waktu itu.

Salah satu proses pembuatan furnitur di Chitose menggunakan nickel chrome. “Banyak perusahaan-perusahaan tidak bisa kasih harga waktu itu. Karena nikel naik luar biasa. Kita sempat juga mati waktu itu, tapi kita mengatasi dengan baik juga dengan berbagai strategi yang ada,” kata Susanto ketika dijumpai SWA.co.id dan awak media di Cimahi, Jawa Barat, pada Rabu (22/4/2026).

Belajar dari Pengalaman

Susanto mengaku saat itu, Perseroan menjalin komunikasi baik dengan para customer dan pengalihan produk. Begitu juga seperti saat ini. “Kami sudah punya pengalaman juga saat mengalami gejolak perang Rusia sama Ukraina,” ungkapnya.

Susanto mengaku ada dampak akibat perang ke perseroan, terutama material yang berhubungan dengan plastik. Kenaikan cukup tinggi, hingga mencapai 45% ke atas, namun keran komponen plastik bukan material utama, sehingga harga produk masih tetap stabil.

“Kami bersyukur punya produk variatif. Juga komponen plastik bagi kita bukan komponen utama, sehingga harga kita masih bisa menjaga (stabil). Supaya market juga jangan sampai panik, takut. Perseroan juga mengalihkan sebagian besar ke material kayu di Indonesia. Ini membantu sekali,” ungkapnya.

Susanto mmenjabarkan produksi CINT d dari bahan plastik ke kayu itu dalam setahun terakhir ini cukup besar. “Sedangkan yang masih memakai plastik kita terus menjaga harga pasar juga (agar tetap stabil),” tegasnya.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag