Profil Pham Nhat Vuong, Miliarder Vietnam Pemilik Taksi Green SM

Profil Pham Nhat Vuong, Miliarder Vietnam Pemilik Taksi Green SM
Pham Nhat Vuong, konglomerat terkaya di Vietnam, pemilik Vingroup. (Foto: x.com/ngahpham)

Dari bisnis mi instan di Ukraina hingga bangun usaha bernilai miliaran dolar AS.

Dari bisnis mi instan di Ukraina hingga membangun kerajaan usaha bernilai miliaran dolar AS, Pham Nhat Vuong menjelma menjadi orang terkaya di Vietnam. Kini, konglomerat pemilik Vingroup itu memperluas pengaruhnya lewat bisnis kendaraan listrik dan layanan taksi Green SM.

Unit utama grup ini meliputi produsen kendaraan listrik VinFast, pengembang properti Vinhomes, dan jaringan hotel Vinpearl. VinFast telah menjadi produsen EV terbesar di Vietnam berdasarkan pangsa pasar, dengan pabrik di luar negeri di India dan Indonesia.

Pada 2023, ia membawa VinFast melantai di bursa melalui pencatatan SPAC di Nasdaq. Vinpearl terdaftar di Bursa Efek Ho Chi Minh pada Mei 2025.

Operator stasiun pengisian daya V-Green dipisahkan dari VinFast pada 2024, dan menginvestasikan lebih dari 400 juta dolar AS selama dua tahun ke depan untuk membangun infrastruktur pengisian daya di seluruh negeri.

Akhir 2025 lalu, VinFast menginvestasikan 1 miliar dolar AS untuk meningkatkan kapasitas produksi EV di Indonesia di tengah booming EV di negara ekonomi terbesar Asia Tenggara itu.

Dengan investasi terbarunya, perusahaan berencana meningkatkan kapasitas pabrik Subang yang terletak sekitar 120 kilometer tenggara Jakarta, tujuh kali lipat menjadi 350.000 EV per tahun ketika beroperasi penuh, kata perusahaan yang terdaftar di New York tersebut dalam pernyataan.

"Dengan pabrik Subang yang kini resmi beroperasi, VinFast telah menyelesaikan salah satu ekosistem kendaraan listrik yang paling komprehensif dan terintegrasi di Indonesia, menegaskan kembali komitmen kami terhadap kemitraan jangka panjang dan penciptaan nilai bersama dengan negara ini," kata CEO VinFast Asia Pham Sanh Chau dalam pernyataan dilansir dari laman Forbes.

VinFast telah menginvestasikan 300 juta dolar AS di pabrik seluas 171 hektare yang selesai dibangun hanya 17 bulan setelah peletakan batu pertama. Dengan investasi baru ini, perusahaan juga berencana meningkatkan kandungan lokal untuk mobil yang diproduksi di pabrik tersebut menjadi 80 persen mulai 2030, sekaligus menciptakan hingga 15.000 lapangan kerja pada kapasitas penuh. Selain model EV saat ini, pabrik tersebut juga akan merakit sepeda motor listrik dan MPV listrik komersial yang akan diluncurkan pada 2026.

Taksi Green SM di Indonesia

Di Indonesia, VinFast juga mulai memperluas ekosistem mobilitas melalui layanan taksi listrik Green SM. Perusahaan transportasi berbasis kendaraan listrik itu merupakan bagian dari ekosistem Vingroup dan sebelumnya telah beroperasi di Vietnam. Kehadiran Green SM dipandang sebagai strategi mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus memperluas penggunaan armada VinFast di pasar Indonesia.

Meskipun telah melakukan investasi besar, VinFast masih tertinggal dari raksasa EV China, BYD. Mereka menjual hampir 3.000 unit EV dari Januari hingga November, jauh lebih sedikit dibandingkan hampir 40.000 unit EV yang dijual BYD, menurut data Asosiasi Produsen Otomotif Indonesia.

VinFast telah memperluas fasilitas manufaktur di seluruh Asia di tengah meningkatnya permintaan EV. Pada awal Desember, VinFast mengumumkan rencana menginvestasikan 500 juta dolar AS untuk melipatgandakan kapasitas manufaktur EV di India selama beberapa tahun ke depan. Berbasis di kota pelabuhan Hai Phong di timur laut Vietnam, perusahaan ini masih merugi meski telah meningkatkan pengiriman global. VinFast mengirimkan 110.362 kendaraan listrik dalam sembilan bulan pertama tahun ini, melampaui 97.399 kendaraan yang dikirimkan sepanjang 2024.

Dengan kekayaan bersih real-time sebesar 25,7 miliar dolar AS, Pham memiliki kepentingan di bidang real estate, ritel, perawatan kesehatan, pendidikan, dan teknologi melalui perusahaan andalannya, Vingroup. Ia membangun kekayaannya dari bisnis mi instan yang dimulai di Ukraina pada 1993. Ia menjual bisnis tersebut kepada Nestle pada 2010 dan menjadikannya salah satu konglomerat paling terdiversifikasi di Vietnam.

Green SM Indonesia Sampaikan Belasungkawa

Senin (27/4/2026) lalu, salah satu taksi Green SM disebut-sebut menjadi penyebab kecelakaan besar di Stasiun Bekasi Timur. Sehari setelah kejadian, Selasa (28/4/2026), Manajemen Green SM Indonesia menyampaikan pernyataan dukanya.

"Kami menyampaikan duka mendalam serta belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekat dari para korban. Kami menaruh perhatian atas insiden ini dan berharap seluruh pihak yang terlibat segera pulih serta berada dalam kondisi aman," ungkap pernyataan resmi Green SM Indonesia.

Saat ini mereka menyatakan, insiden tersebut masih dalam proses investigasi dan belum terdapat kesimpulan resmi dari pihak berwenang. Green SM mengatakan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi yang relevan serta mendukung jalannya investigasi.

"Keselamatan dan transparansi tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar operasional yang ketat guna mendukung keselamatan pengemudi, penumpang, dan masyarakat," ujar keterangan.

Sumber: Republika.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag