Anak Usaha Mulia Industrindo (MLIA) Menggeber Pemangkasan Emisi Karbon

Anak Usaha Mulia Industrindo (MLIA) Menggeber Pemangkasan Emisi Karbon
Ferdyan Khouw, Managing Director PT Muliaglass. (Foto: Syifa Nur Layla)

PT Muliaglass dan PT Muliakeramik, anak usaha dari PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) berupaya menerapkan Net Zero Emission 2060. Melalui operasional pabrik, kedua perusahaan ini memasang PLTS atap 22,5 MW dengan 36.862 panel-setara 17 kali lapangan sepak bola Gelora Bung Karno.

Ferdyan Khouw, Managing Director PT Muliaglass menuturkan di tengah tuntutan global terhadap penurunan emisi, membuat perusahaan harus bergerak selaras dengan target tersebut agar tak kehilangan daya saing.

"Porsi pasokan Muliaglass kepada pelanggan multinasional terbilang besar, yakni lebih dari 50 persen dari total produksi. Hal ini karena banyak perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia juga masuk dalam kategori pasar domestik," ucapnya di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).

Ferdyan menambahkan, pelanggan tertentu seperti Coca-Cola juga melakukan ekspor, misalnya ke Filipina dengan volume sekitar 36 ribu ton atau sekitar 15 persen dari total kapasitas produksi sebesar 260 ribu ton. Selain itu, Muliaglass juga memasok ke berbagai klien lain seperti Kraft Heinz serta Diageo.

Dengan pemasangan PLTS Atap dari Xurya ini, dapat memberikan kontribusi sekitar 11 persen terhadap total kebutuhan energi listrik di pabrik Muliaglass. Dari sisi finansial, penghematan biaya listrik yang dihasilkan memang tidak terlalu signifikan tetapi manfaat utama dari proyek ini bukan pada penghematan biaya, melainkan pada penurunan emisi karbon.

Ke depannya, Muliaglass masih memiliki ruang untuk mengembangkan kapasitas PLTS karena masih banyak area atap pabrik yang belum dimanfaatkan.

Inovasi Operasional Hijau

Ferdyan menuturkan peta jalan pengurangan emisi di Muliaglass juga mencakup modernisasi teknologi produksi, khususnya pada tungku-tungku yang sudah berusia tua. Peremajaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi.

Upaya lain yang dilakukan adalah meningkatkan penggunaan bahan baku daur ulang berupa pecahan kaca atau cullet. Material ini membutuhkan energi yang lebih rendah dalam proses peleburan dibandingkan bahan baku baru.

"Sebagai ilustrasi, peningkatan penggunaan cullet sebesar 10 persen dapat menurunkan konsumsi energi hingga sekitar 3 persen," pungkas Ferdyan.

Alhasil, jumlah cullet yang di daur ulang sebanyak 27% pasa 2025. Selain itu, pabrik operasional MLIA juga telah bersertifikasi ISO 50001:2018 untuk Divisi Kaca Kemasan atas pelaksanaan Sistem Manajemen Energi. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag