Kecelakaan Didominasi Usia Muda, MTI Dorong Edukasi Lalu Lintas Masuk Kurikulum

Kecelakaan Didominasi Usia Muda, MTI Dorong Edukasi Lalu Lintas Masuk Kurikulum

Pentingnya pengintegrasian pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum di Indonesia bukan sekadar upaya administratif, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai kecelakaan yang selama ini didominasi kelompok usia produktif.

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai bahwa memasukkan pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum sekolah akan menempatkan etika berlalu lintas sebagai bagian dari norma sosial dan karakter bangsa, bukan sekadar didorong oleh ketakutan terhadap sanksi.

Anak-anak yang mendapatkan edukasi sejak dini bahkan kerap berperan sebagai pengingat bagi orang tua saat berkendara. Dalam praktiknya, hal ini memperluas jangkauan edukasi hingga ke lingkungan keluarga.

Berdasarkan data Korlantas Polri, sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok usia produktif masih menjadi pihak paling rentan.

Kurikulum keselamatan lalu lintas dinilai penting untuk memberikan pemahaman mengenai risiko teknis maupun konsekuensi hukum yang selama ini kerap diabaikan. “Melindungi usia produktif dari kecelakaan berarti melindungi potensi ekonomi dan masa depan bangsa,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).

Melalui kurikulum etika lalu lintas, siswa juga diperkenalkan pada hierarki pengguna jalan, yakni pemahaman bahwa pejalan kaki dan pesepeda memiliki prioritas utama dibandingkan kendaraan bermotor.

Dalam implementasinya, pendidikan keselamatan jalan tidak cukup hanya berhenti pada teori di buku teks. Pendekatan pembelajaran dapat dikembangkan secara integratif, misalnya dengan memasukkan konteks lalu lintas ke dalam soal matematika seperti perhitungan jarak pengereman, atau konsep fisika terkait momentum dan gaya gesek.

Selain itu, pemanfaatan fasilitas praktik menjadi penting agar siswa dapat merasakan simulasi berkendara yang aman tanpa menghadapi risiko nyata di jalan.

Upaya ini juga membutuhkan sinergi lintas lembaga, antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan, dan Kepolisian, untuk memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kondisi lapangan.

“Tanpa kurikulum yang kuat, upaya perbaikan infrastruktur jalan yang masif di Indonesia tidak akan memberikan dampak maksimal, karena faktor manusia (human error) tetap menjadi penyebab utama kecelakaan,” pungkas Djoko. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag