CNG 3 Kg Disiapkan sebagai Alternatif LPG, Diklaim 30–40% Lebih Murah

CNG 3 Kg Disiapkan sebagai Alternatif LPG, Diklaim 30–40% Lebih Murah
Ilustrasi Compressed Natural Gas (CNG) (Foto: Ist)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia , mengatakan pemerintah tengah menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah ini diambil untuk menekan ketergantungan pada impor gas sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dikutip dari Antara News , Bahlil, dalam acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/2026), mengungkapkan bahwa produksi tabung CNG 3 kg tersebut merupakan bagian dari upaya efisiensi energi. Keunggulan utamanya terletak pada sisi ekonomi, di mana harga CNG diklaim jauh lebih terjangkau bagi masyarakat.

"Kami baru saja memulai produksi tabung 3 kilogram ini, yang biayanya 30 hingga 40 persen lebih murah (dibandingkan LPG)," ujar Bahlil.

Sebelumnya, dalam artikel SWA.co.id, Rabu (29/4/26), Bahlil menjelaskan bahwa bahan baku CNG dapat dipenuhi dari industri dalam negeri, yakni dari gas cair C1 dan C2 yang kemudian dipadatkan (compress) hingga mencapai tekanan tertentu.

Gas C1 dan C2 merupakan komponen gas alam (natural gas) yang didominasi oleh metana (C1) dan etana (C2), yang diproses untuk mempermudah penyimpanan dan transportasi. Saat ini, terdapat 57 badan usaha niaga yang bergerak di bidang CNG.

"Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya. Sehingga pemakaiannya itu bisa baik. Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik," jelasnya.

CNG sendiri telah dimanfaatkan oleh berbagai sektor, seperti perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), dengan bahan baku yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri. Karena itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan penggunaan energi domestik sebagai bagian dari strategi kemandirian energi.

"Tapi kalau untuk CNG, itu sebagian sudah dipakai. Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai. Sebagian SPBG sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri. Nah ini yang coba kita, kita cari alternatif. Karena di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan," tandas Bahlil. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag