Mengantisipasi Blunder Komunikasi: Tak Cukup Sekadar Hati-Hati

Ubaydillah Anwar. (Dok: Pribadi)
Ubaydillah Anwar. (Dok: Pribadi)

Di zaman ketika sebuah pernyataan dapat melesat melampaui batas ruang dan waktu, blunder dalam komunikasi publik bukan lagi sekadar kekeliruan biasa. Ia telah menjadi akselerator sunyi menuju erosi kredibilitas. Kamus Merriam-Webster mendefinisikan blunder sebagai kesalahan yang bersumber dari ketidaktahuan, pengabaian, atau kecerobohan.

Para pemimpin korporasi perlu belajar dari panggung tokoh politik, pejabat publik, atau figur masyarakat. Akibat satu blunder, keadaan dapat berubah seketika. Di ruang yang serba terekam dan mudah dipelintir, kata-kata kehilangan sifat sementaranya. Ia menjelma artefak digital yang terus hidup — dan diadili, terutama oleh mereka yang siap mengkritik.

Ketika pemimpin melakukan blunder komunikasi, dampaknya menjalar cepat. Kepercayaan menurun, kohesi tim retak, kekacauan internal mencuat, dan tidak jarang menyeret reputasi organisasi. Biaya pemulihan sering kali jauh lebih mahal dibandingkan upaya antisipasi yang seharusnya dilakukan sejak awal.

Empat blunder mematikan

Dalam komunikasi publik — baik internal maupun eksternal — terdapat empat jenis blunder yang patut diwaspadai.

Pertama, rhetorical blunder, ketika pemimpin keliru menggunakan bahasa sehingga gagal menyampaikan maksud, tujuan, dan arah komunikasi.

Bentuknya bisa berupa kalimat penuh jargon dan metafora kosong, pernyataan multitafsir, penggunaan istilah teknis berlebihan, hiperbola yang tidak proporsional, atau bahasa yang tidak peka terhadap situasi sehingga merusak suasana.

Kedua, logical blunder, yaitu ketika argumen yang disampaikan kontradiktif, data yang digunakan lemah, atau kesimpulan yang ditarik keliru. Dampaknya akan semakin besar ketika kesalahan tersebut berakar pada ketidakjujuran.

Ketiga, emotional blunder, ketika pemimpin meluapkan emosi secara tidak terkendali di ruang publik — baik dalam bentuk amarah, sarkasme, maupun krisis empati. Dalam kondisi ini, pilihan kata dan struktur berpikir biasanya runtuh seketika di bawah dominasi emosi negatif.

Keempat, contextual blunder, yaitu kegagalan membedakan ruang publik dan ruang privat. Ruang publik memiliki sensitivitas sosial, budaya, dan politik yang berlapis, sehingga satu pernyataan dapat dimaknai secara berbeda oleh audiens yang beragam.

Lebih dari sekadar hati-hati

Untuk mengantisipasi berbagai potensi blunder tersebut, solusi yang diperlukan tidak cukup hanya dengan “berhati-hati”. Sikap terlalu berhati-hati justru sering menciptakan jarak, membuat komunikasi terasa hambar, dan terjebak dalam basa-basi yang kehilangan makna.

Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih sistematis, antara lain:

  1. melakukan simulasi kreatif di alam mental sambil merasakan konsekuensi atau dampak pada audien;
  2. mengembangkan message discipline melalui key messages yang ringkas, konsisten, dan selaras dengan nilai-nilai dan arah organisasi;
  3. membaca dan menyimak isu dan tren yang berkembang untuk bisa menghasilkan pernyataan jauh dari blunder;
  4. menyiasati keadaan dengan cooling-off period (tidak langsung reaktif); dan
  5. membentuk red team komunikas atau tim kecil yang bertugas mengkritisi pesan sebelum dirilis.

Ketika blunder tak terhindarkan, respons cepat dan akuntabel menjadi kunci. Mulai dari mengakui kesalahan, melakukan koreksi, memberikan penjelasan, hingga menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Respons seperti ini jauh lebih bernilai dibandingkan sikap defensif yang justru memperkeruh situasi.

Kemahiran berkomunikasi bagi pemimpin bukan sekadar pelengkap strategi — ia adalah strategi itu sendiri. Satu kalimat dapat membangun jembatan kepercayaan, atau membakarnya dalam sekejap. Di titik inilah kepemimpinan diuji: bukan hanya pada apa yang diputuskan, tetapi pada bagaimana keputusan itu disampaikan. (*)


Penulis: Ubaydillah Anwar, Heart Intelligence & Soft Skills Specialist

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag