Allianz Indonesia Catat AUM Rp43,7 Triliun, Siapkan Strategi Investasi Selektif pada 2026

Allianz Indonesia Catat AUM Rp43,7 Triliun, Siapkan Strategi Investasi Selektif pada 2026
Allianz Indonesia (Ist)

Allianz Indonesia melaporkan capaian kinerja positif sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) sebesar Rp43,7 triliun. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, angka tersebut tumbuh 9,8% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Total AUM tersebut merupakan konsolidasi dana kelolaan Allianz Life, Allianz Syariah, serta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Allianz. Hingga akhir 2025, perusahaan mengelola aset yang tersebar dalam 49 jenis unit link fund.

Tiga produk menjadi kontributor utama dana kelolaan sepanjang tahun lalu. Smartlink Equity mencatatkan AUM terbesar senilai Rp5,8 triliun, disusul Smartlink Fixed Income sebesar Rp1,7 triliun, dan Smartlink Balanced sebesar Rp1,4 triliun.

Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan bahwa di tengah volatilitas pasar global sepanjang 2025, perusahaan tetap konsisten menerapkan pendekatan investasi yang disiplin dan adaptif guna menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil portofolio nasabah.

“Resiliensi ekonomi domestik dan likuiditas pasar menjadi fondasi penting dalam mendukung komitmen perlindungan serta manfaat investasi bagi nasabah. Memasuki 2026, kami mempersiapkan strategi yang lebih selektif dengan menekankan kualitas aset dan pengelolaan risiko yang terukur,” ujar Ni Made dalam keterangan resminya.

Memasuki 2026, Allianz Indonesia memproyeksikan kondisi makroekonomi domestik tetap kondusif. Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan berada pada kisaran 5,2% hingga 5,8% dengan tingkat inflasi terjaga di rentang 1,5% sampai 3,5%.

Sentimen positif juga dinilai datang dari kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif, terutama pada agenda hilirisasi dan peningkatan belanja modal. Sektor infrastruktur dan transportasi diproyeksikan mengalami kenaikan belanja modal sekitar 37% YoY menjadi Rp156 triliun. Selain itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat melalui program bantuan sosial dan penguatan ketahanan pangan.

Di pasar modal, performa saham Indonesia dinilai memiliki fondasi yang cukup kuat, ditopang partisipasi investor domestik dan ekspektasi perbaikan kinerja emiten. Sementara itu, instrumen obligasi dan pasar uang diperkirakan masih atraktif dengan likuiditas yang memadai, meskipun terdapat potensi kenaikan imbal hasil obligasi secara terbatas.

Secara global, meski pertumbuhan PDB dunia menunjukkan ketahanan, Allianz tetap mewaspadai dinamika politik dan kebijakan perdagangan internasional. Sektor informasi, komunikasi, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru.

Ke depan, strategi investasi Allianz Indonesia akan difokuskan pada pemilihan aset berkualitas tinggi serta pengelolaan likuiditas yang fleksibel guna menjaga keberlanjutan kinerja portofolio jangka panjang.

Ni Made juga mengingatkan nasabah untuk tetap proaktif memantau rencana keuangan mereka. “Dalam situasi pasar yang berubah cepat, kami mengajak nasabah untuk meninjau tujuan investasi dan alokasi aset secara berkala. Diversifikasi tetap menjadi kunci agar tujuan proteksi dan investasi berjalan seimbang,” tutupnya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag