Riza Kamal Shadiq: Lewat Adore, Memasok Vanili dan Cokelat Premium Indonesia ke Dapur Dunia
Aroma, biasanya tak memiliki tubuh. Ia datang diam-diam, melintas sekejap di udara, lalu menghilang sebelum sempat disentuh.
Namun di tangan Riza Kamal Shadiq, aroma justru menjelma menjadi sesuatu yang kasatmata. Di permukaan batang vanili yang ia keluarkan perlahan dari ruang penyimpanan, tampak kristal-kristal halus berkilau ketika disentuh cahaya — seperti embun tipis yang membeku di kulit kayu.
Dalam dunia pastry premium, kristal itu bukan sekadar keanehan visual yang indah dipandang. Ia adalah penanda tingginya kandungan vanillin: senyawa yang melahirkan aroma hangat, manis, dan dalam pada vanili. Semakin kaya kristalnya, semakin tinggi pula nilainya di mata para chef dan pastry specialist yang terbiasa menilai kualitas lewat detail-detail nyaris tak terlihat.
Yang membuat kisah ini menarik, vanili tersebut tidak datang dari Madagaskar atau Tahiti, dua nama yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kiblatnya vanili dunia. Vanili itu lahir jauh dari pusat-pusat gastronomi global: dari Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Dari kebun-kebun milik petani yang sebelumnya tak pernah membayangkan hasil tanam mereka suatu hari akan melintasi benua dan tiba di dapur-dapur pastry elite Eropa.
Di situlah kisah Adore bermula. Bukan dari pabrik besar atau laboratorium modern, melainkan dari obsesi seorang anak muda yang percaya bahwa bahan pangan Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas murah tanpa nama. Bahwa sesuatu yang tumbuh sunyi di lereng-lereng tropis juga bisa memiliki martabat, identitas, sekaligus tempat terhormat di panggung kuliner dunia.
Bagaimana cerita yang sesungguhnya?
SWA.co.id berbincang dengan Riza, founder Adore, di sebuah sore yang hangat di Jakarta, yang kemudian mengundangnya untuk hadir di podcast BizzComm, kolaborasi SWA dengan LSPR Faculty of Business.
Tertarik cokelat sejak belia
Riza lahir di Jakarta pada 2 Juli 1988. Jauh sebelum mengenal istilah rantai pasok, fermentasi, atau inovasi pangan di dunia vanili, ada satu penganan yang membuatnya begitu tertarik: cokelat. Ketertarikan ini sudah tumbuh dalam bentuk yang sangat sederhana, yakni rasa penasaran.
Saat masih bocah, ia masih mengingat bagaimana kerabatnya yang pulang dari luar negeri kerap membawa oleh-oleh cokelat. Bukan kemasannya yang membekas di ingatan, melainkan rasanya. Cokelat itu terasa lebih lembut, lebih kaya rasa, dan lumer di mulut sehingga meninggalkan jejak yang lebih panjang di lidahnya. Ada sesuatu yang berbeda dibanding produk yang biasa ditemuinya di Indonesia, meski saat itu ia belum mengetahui, apalagi menjelaskan apa perbedaannya.
Bertahun-tahun kemudian, ia baru memahami jawabannya. Banyak produk yang beredar di pasar Indonesia pada masa itu bukan sepenuhnya cokelat berbasis kakao, melainkan campuran lemak nabati dan perisa. Namun penjelasan ilmiah itu justru melahirkan pertanyaan yang lebih besar. Jika Indonesia adalah negeri penghasil kakao, mengapa cokelat terbaik justru datang dari tempat lain?
Pertanyaan itulah yang diam-diam menuntunnya menuju Institut Pertanian Bogor pada 2006. Di Jurusan Teknologi Pangan, berbagai ketertarikan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri menemukan rumahnya. Kimia, biologi, fisika, matematika, dan makanan bertemu dalam satu ruang yang sama. Bagi Riza, pangan bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi manusia setiap hari. Ia adalah buah "pernikahan" dari ilmu pengetahuan, budaya, alam, serta kreativitas yang saling bertaut.
Selepas lulus pada 2010, jalan hidupnya bergerak ke arah yang relatif lazim bagi seorang sarjana: jalur korporasi. Riza bergabung dengan Nutrifood, meniti karier di divisi riset dan pengembangan.
Tahun demi tahun berlalu dengan cukup baik. Jabatan menanjak, tanggung jawab meningkat, dan kariernya bergerak ke arah yang diidamkan banyak profesional muda.
Dari luar, semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Namun di dalam dirinya tumbuh kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ada perasaan bahwa hidupnya memang bergerak maju, tetapi belum menuju tempat yang benar-benar ingin ia tuju. Ia belajar banyak tentang bagaimana mengembangkan produk, tetapi belum menemukan sesuatu yang terasa sepenuhnya miliknya. Ada sesuatu yang kosong.
Kesempatan untuk mengambil jarak dari kegelisahan itu akhirnya datang pada September 2016. Melalui beasiswa LPDP, Riza berangkat ke Belanda untuk menempuh program master di Wageningen University, salah satu kampus pertanian dan pangan terbaik di dunia. Ia mengambil spesialisasi Food Innovation and Management, sebuah bidang yang mempertemukan ilmu pangan dengan dunia bisnis dan inovasi.
Yang menarik, dalam motivation letter yang ditulis untuk LPDP, lelaki berambut sedikit ikal itu mencantumkan sebuah keinginan yang saat itu terdengar nyaris tanpa dasar: membangun bisnis cokelat di Sulawesi.
Kalimat itu terasa ganjil. Saat menuliskannya, ia belum pernah pergi ke tanah Sulawesi. Tidak mengenal petani kakao. Tidak memiliki kebun. Tidak memiliki pabrik. Bahkan tidak memiliki gambaran yang utuh sama sekali tentang bagaimana bisnis tersebut akan diwujudkan. Yang ia miliki hanyalah data, rasa ingin tahu, serta keyakinan yang sulit dijelaskan dengan logika.
Dari berbagai laporan yang dibacanya, Sulawesi dikenal sebagai salah satu sentra kakao terbesar di Indonesia. Namun yang terus mengusiknya bukanlah angka produksi, melainkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Negeri yang dicintainya ini menghasilkan bahan baku dalam jumlah besar, tetapi terlalu sering berhenti sebagai penjual komoditas. Kakao berlayar keluar negeri dalam bentuk mentah, lalu kembali ke pasar dunia sebagai produk bernilai tinggi dengan merek dan identitas negara lain.
"Entah mengapa saya menulis itu. Yang jelas, saya pengen produk Indonesia dikenal di dunia," kenangnya dengan suara yang dalam.
Barangkali itulah inti dari seluruh perjalanan yang kemudian ia tempuh. Bukan sekadar membangun bisnis, melainkan mencari cara agar sesuatu yang tumbuh di tanah Nusantara tidak selalu berakhir sebagai bahan baku tanpa nama.
Karena sesungguhnya, yang ingin dibawanya pulang dari universitas yang berdiri pada 9 Maret 1918 ini bukan hanya gelar akademik. Sebagai awardee LPDP, ia ingin membawa pulang sebuah harapan ke Tanah Air: bahwa Indonesia suatu hari tidak hanya dikenal sebagai negeri penghasil kakao, tetapi juga sebagai pencipta produk yang dihormati dunia.
Sambil tertawa kecil, Riza mengaku masih menyimpan motivation letter itu hingga sekarang. Dokumen tersebut tersimpan rapi di komputernya, seperti kapsul waktu yang mengingatkan pada satu hal sederhana: kadang-kadang hidup bergerak mengikuti kalimat yang kita tulis jauh sebelum kita benar-benar memahami maknanya.
Namun perjalanan menuju kalimat itu ternyata tidak berlangsung lurus. Sulawesi, kakao, dan bisnis cokelat masih berada jauh di depan sana. Selama menempuh studi di Belanda, perhatian Riza justru terserap pada banyak hal lain. Wageningen bukan hanya memberinya ruang untuk belajar tentang inovasi pangan, tetapi juga memperkenalkannya pada dunia kewirausahaan berbasis riset yang sedang berkembang pesat di Eropa.
Di lingkungan kampus itulah ia mulai membangun jaringan, berdiskusi dengan sesama mahasiswa dari berbagai negara, dan melihat bagaimana sebuah gagasan ilmiah dapat diubah menjadi model bisnis yang nyata. Bersama beberapa rekannya, pada 2017 ia mendirikan Crimson Gold, sebuah startup yang berfokus pada pemanfaatan limbah industri tomat menjadi produk bernilai tambah.
Proyek tersebut berkembang lebih jauh dari sekadar tugas akademik. Crimson Gold berhasil memenangkan ajang New Venture Creation 2017 yang diselenggarakan Wageningen University dan StartLife, sekaligus memperoleh pendanaan awal (seed funding) dari StartLife. Untuk pertama kalinya, Riza merasakan bagaimana sebuah ide dapat diuji di luar ruang kelas dan bertemu langsung dengan dunia bisnis.
Vanili
Ketertarikannya terhadap kakao semakin mendalam ketika mengerjakan tesis. Fokus risetnya sendiri tentang potensi nilai tambah kakao Indonesia. Ia ingin memahami lebih jauh bagaimana komoditas yang begitu besar di Indonesia justru belum mampu menghasilkan produk dengan nilai premium yang kuat di pasar global.
Untuk keperluan riset lapangan, Riza datang ke Sulawesi Barat. Di sana, ia mulai melihat langsung kehidupan para petani kakao dan rantai produksi yang selama ini hanya dibacanya dari jurnal atau laporan industri.
Namun di tengah riset tentang kakao itu, ia justru menemukan fenomena lain yang sedang ramai dibicarakan petani: vanili. Loh, kok bisa?
Saat itu, tahun 2017, harga vanili sedang melonjak tinggi akibat badai yang menghantam Madagaskar dan merusak sebagian produksi dunia. Banyak petani kakao mulai beralih menanam vanili karena nilainya jauh lebih tinggi.
Tetapi di balik booming tersebut, otak peneliti dan insting pengusaha Riza segera berdetak. Ia melihat sesuatu yang menurutnya janggal. Vanili berkualitas buruk pun tetap dibeli mahal, tapi kehidupan petani begitu-begitu saja.
Ia mulai bertanya-tanya mengapa komoditas dengan nilai setinggi itu tetap tidak menciptakan kesejahteraan yang stabil bagi petani.
Dari situlah rasa ingin tahunya terhadap vanili mulai tumbuh. Dan dari situ pula rasa ingin memahaminya mulai bergeser. Awalnya ia hanya ingin mengerti fenomena pasar vanili. Namun kian dalam ia belajar, semakin dalam pula ia merasa vanili Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar yang belum benar-benar dipahami, seperti juga kakao.
Akhirnya, tanpa ia sadari, sambil meriset tentang kakao untuk magisternya, ia perlahan merintis ke jalan yang sama sekali berbeda, jalan yang kelak menjadi pintu lahirnya Adore.
Pulang
Selepas menyelesaikan studi di Wageningen pada 2018, Riza belum langsung terjun ke dunia vanili atau cokelat yang tercantum dalam motivation letter-nya. Ia pulang ke Indonesia dan bersama sejumlah rekannya, ia mengembangkan PT Andalan Boga Jaya, sebuah perusahaan pangan yang bergerak sebagai pemasok B2B bagi jaringan restoran multinasional, sekaligus mengembangkan produk consumer.
Fase ini menjadi periode ketika Riza makin memahami bagaimana industri makanan bekerja dalam skala bisnis yang nyata. Ia tidak lagi hanya berbicara tentang inovasi seperti di Nutrifood, tetapi seputar bagaimana sebuah produk dirancang, diproduksi, dipasarkan, lalu bertahan di pasar yang kompetitif. Salah satu produk yang sempat mereka kembangkan adalah ISOPRO23, protein water yang diposisikan sebagai minuman protein siap konsumsi untuk pasar kebugaran.
Bisnis tersebut sempat berkembang cukup baik. Produk mereka masuk ke jaringan gym dan pasar gaya hidup sehat yang saat itu sedang tumbuh. Di atas kertas, jalur hidup Riza terlihat mulai menemukan bentuk baru sebagai entrepreneur di industri makanan dan minuman modern.
Namun di balik itu, ketertarikannya pada kakao dan bahan pangan asli Indonesia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya belum menemukan pintu masuk yang tepat untuk kembali ke sana.
Lalu, tiada disangka-sangka, pandemi pun datang. Ketika aktivitas dine-in berhenti dan industri makanan terpukul, bisnis yang dibangun bersama partnernya ikut terkena dampak besar. Kontrak terhenti, permintaan turun, dan ritme usaha yang sebelumnya berjalan stabil mulai goyah.
Di tengah situasi itulah, Riza perlahan kembali memikirkan sesuatu yang sempat ia tinggalkan sejak masa Wageningen: keinginan membangun produk pangan Indonesia dengan kualitas yang bisa dihormati dunia.
Adore lahir
Riza lalu mulai berkeliling mencari sentra vanili di berbagai daerah. Perjalanan itu membawanya ke Medan, Lampung, Jawa, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Bali, hingga Sulawesi Utara. Ia datang bukan sebagai eksportir besar atau investor dengan modal berlimpah, melainkan sebagai pembeli kecil yang ingin memahami vanili dari dekat: bagaimana tanaman itu tumbuh, bagaimana petani merawatnya, dan bagaimana hasil panennya diperlakukan setelah dipetik.
Di banyak tempat, pintu tidak selalu terbuka lebar. Sebagian petani enggan menunjukkan kebun mereka. Ada yang khawatir tanamannya ditiru, ada pula yang takut hasil panennya dicuri.
Namun dari satu daerah ke daerah lain, pencariannya perlahan mengerucut pada satu pertanyaan: di mana sebenarnya pusat vanili Indonesia yang sesungguhnya?
Setelah beberapa bulan menelusuri sejumlah daerah di Tanah Air, jawaban itu ia temukan di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Pemandangan yang tersaji di sana berbeda dari daerah-daerah lain yang pernah didatanginya. Bukan lagi kebun-kebun kecil yang tersebar di berbagai sudut desa, melainkan hamparan vanili yang membentang di lereng-lereng perbukitan. Di beberapa lokasi, ribuan tanaman tumbuh dalam satu kawasan.
Untuk pertama kalinya, Riza merasa menemukan sesuatu yang selama ini dicari: sumber vanili dengan skala yang cukup besar untuk dibangun menjadi fondasi bisnis jangka panjang.
Keputusan berikutnya terdengar nyaris impulsif. Pada awal 2022, ia memutuskan pindah ke Desa Lobu Satu, Kecamatan Touluaan, Kabupaten Minahasa Tenggara.
Sebuah rumah sederhana disewa. Rutinitas kota ditinggalkan. Tidak ada kantor megah, tidak ada tim besar, dan belum ada jaminan keberhasilan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa jika ingin memahami vanili Indonesia, tempat terbaik untuk belajar adalah hidup di tengah orang-orang yang menanamnya.
Di desa itulah sebuah nama mulai dipilih untuk perusahaan yang sedang dirintisnya: Adore Rempah Indonesia.
Nama Adore berasal dari kata adore, yang dalam bahasa Inggris berarti mencintai, mengagumi, atau menaruh perhatian yang mendalam terhadap sesuatu. Bagi Riza, maknanya jauh lebih personal. Sejak lama ia memegang prinsip bahwa apa pun yang dikerjakannya harus dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan standar setinggi mungkin.
"Whatever I do, I do the best. Saya nggak ingin setengah-setengah. Saya nggak ingin hasil yang medioker. Harus yang terbaik," ujarnya dengan mata berbinar.
Karena itulah, Adore bukan sekadar nama perusahaan. Ia merupakan pernyataan sikap. Sebuah pengingat bahwa kualitas lahir dari kecintaan terhadap proses, bukan semata-mata dari keinginan mengejar keuntungan. Dan di tengah desa kecil di Minahasa Tenggara itulah, keyakinan tersebut mulai diuji dan dipertaruhkan dalam kehidupan nyata.
Sinterklas
Faktanya, fase awal untuk tidak bekerja setengah-setengah tidaklah mudah. Bahkan sangat keras. Riza yang masih hijau untuk urusan vanili membeli komoditas ini langsung dari petani dengan harga tinggi, tetapi ternyata banyak barang yang belum matang. Ketika difermentasi, hasilnya justru berjamur dan rusak total. Belasan juta rupiah hilang begitu saja.
Riza sadar dirinya ditipu, tetapi pada saat yang sama ia juga sadar bahwa ia memang belum memiliki kemampuan membedakan vanili matang dan mentah.
Tidak ada mentor yang benar-benar membimbingnya. Ia belajar sendiri lewat buku, jurnal, dan eksperimen berulang. Ia mulai memahami bahwa kualitas vanili bukan hanya soal tanaman, tetapi tentang proses panjang setelah panen: fermentasi, curing (perawatan), pengeringan, hingga aging (pematangan) selama berbulan-bulan.
Dari situ, Riza mulai membangun model bisnis yang berbeda. Ia membeli langsung dari petani dan memotong rantai pengepul yang selama ini panjang. Jika pengepul membeli vanili muda dengan harga murah, Riza hanya mau membeli yang matang dengan harga jauh lebih tinggi. Selisihnya bisa sangat besar.
Pendekatan itu perlahan mengubah hubungan petani dengan dirinya. Mereka mulai melihat Riza bukan sekadar pembeli biasa. Ia datang langsung ke kebun, tinggal di desa, dan berbicara dengan petani setiap hari. Timnya (saat itu baru 3 orang) bahkan rutin berkeliling untuk membantu petani memahami standar kualitas dan praktik budidaya yang lebih baik.
Di titik tertentu, hubungan itu menjadi sangat dekat. Bahkan ada petani yang menyebut dirinya “Sinterklas” lantaran merasa hidup mereka berubah setelah bekerja sama dengan Adore. Bagi Riza, ini bukan sekadar program sosial. Ia percaya kualitas terbaik hanya bisa lahir jika petani merasa menjadi bagian penting dari sistem.
Ia pun mulai membangun pendekatan yang ia sebut sebagai bisnis inklusif. Petani bukan hanya pemasok (supplier), tetapi bagian inti dari kualitas produk. Ketika petani membutuhkan uang untuk menjaga kebun atau mencegah panen terlalu cepat, tim Adore memberikan bantuan dana terlebih dahulu. Tujuannya sederhana: memastikan vanili dipanen benar-benar matang dan siap difermentasi.
Di Minahasa sendiri, vanili bukan tanaman yang mudah dijaga. Banyak pencurian terjadi menjelang masa panen. Beberapa petani bahkan harus tidur di kebun agar hasil tanam mereka tidak hilang. Bagi Riza, semua detail itu penting dipahami karena kualitas vanili dimulai dari kondisi di lapangan, bukan dari ruang laboratorium.
Menembus Eropa
Usai membangun fondasi di sisi produksi, tantangan berikutnya adalah mengubah persepsi pasar. Riza sadar, menghasilkan vanili berkualitas hanyalah separuh perjalanan. Separuh lainnya adalah meyakinkan dunia bahwa vanili dari Indonesia layak berdiri sejajar dengan Madagaskar, Tahiti, atau Papua Nugini.
Modalnya nyaris tak ada selain keyakinan. Berbekal koper berisi sampel vanili, ia terbang ke berbagai pameran industri pangan di Eropa. Dari satu booth ke booth lain, ia memperkenalkan produknya kepada para buyer, chef, dan distributor. Tidak ada stan megah, tidak ada promosi besar-besaran. Ia bahkan menyebut dirinya hanya sebagai "pedagang keliling" yang menawarkan vanili Indonesia kepada orang-orang yang belum pernah mendengar nama Adore.
Hasilnya jauh dari kata mudah. Berkali-kali produknya ditolak. Buyer menganggap aroma vanili yang dibawanya belum berkembang sempurna, karakter rasanya masih datar, dan proses curing belum mencapai standar yang mereka harapkan. Penolakan demi penolakan itu justru membuka mata Riza. Ia menyadari bahwa kualitas vanili tidak berhenti ketika buah dipetik dari tanaman.
Sekembalinya ke Indonesia, seluruh proses pascapanen dibongkar ulang. Buah vanili yang semula dianggap siap jual ternyata masih harus melewati perjalanan yang panjang. Setelah dipanen sekitar enam hingga sembilan bulan sejak penyerbukan, buah yang masih hijau dan nyaris tanpa aroma harus difermentasi, menjalani proses curing, dikeringkan, lalu disimpan kembali agar aromanya berkembang secara alami.
Dari serangkaian eksperimen itulah Riza menemukan pelajaran terbesarnya. Menurutnya, vanili baru mencapai karakter terbaik setelah disimpan sedikitnya enam bulan. Bahkan, untuk menghasilkan aroma yang benar-benar kompleks, waktu idealnya bisa mencapai satu tahun. Di situlah ia memahami bahwa dalam bisnis vanili, waktu bukan sekadar biaya, melainkan bagian dari bahan baku itu sendiri.
Konsekuensinya tidak ringan. Semakin lama vanili disimpan, semakin lama pula modal tertahan. Arus kas perusahaan ikut tersandera. Demi menjaga bisnis tetap hidup, Riza sempat kembali berdagang komoditas lain, seperti cengkeh.
Namun pekerjaan itu tidak pernah memberinya kepuasan. "Capek doang," ujarnya. Trading hanya memperjualbelikan barang. Yang ingin ia bangun adalah identitas—produk yang memiliki karakter sehingga orang mengenal asalnya, bukan sekadar komoditasnya.
Cobaan berikutnya datang dari Prancis. Seorang buyer memesan ekstrak vanili setelah menyukai sampel yang dikirim Adore. Namun ketika produksi diperbesar, aromanya justru berubah dan pesanan gagal dipenuhi. Kerugian yang muncul mencapai ratusan juta rupiah.
Untungnya, mitra di Prancis tidak memilih pergi. Mereka justru membantu menanggung sebagian kerugian dan memberi kesempatan untuk mencoba lagi. Kepercayaan itu menjadi titik balik psikologis bagi Riza. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada pelanggan internasional yang benar-benar percaya pada kualitas yang sedang dibangunnya.
Berbulan-bulan eksperimen akhirnya membuahkan hasil. Dari kombinasi fermentasi, curing, suhu penyimpanan, dan proses aging tertentu, muncul kristal-kristal halus berwarna putih di permukaan vanili.
Banyak orang awam mengira kristal itu adalah jamur. Padahal justru sebaliknya. Kristal tersebut merupakan vanillin yang mengkristal — penanda tingginya kandungan senyawa pembentuk aroma alami yang menjadi ciri vanili premium. Kristal itu sengaja dipertahankan karena di sanalah sebagian karakter aromanya berada.
Produk itu kemudian dikenal sebagai vanilla crystal.
Perlahan, vanilla crystal menemukan jalannya sendiri. Sampel-sampel Adore berpindah dari satu dapur pastry ke dapur lainnya, hingga pada 2024 tampil di Sigep di Rimini, Italia, salah satu pameran gelato, pastry, dan bakery terbesar di dunia. Di ajang itulah vanilla crystal meraih penghargaan Organic Free From untuk kategori produk organik inovatif.
Penghargaan itu menjadi titik balik bagi Adore. Di media Italia, Sulawesi bahkan disebut sebagai "laboratorium terbuka" tempat Riza mengembangkan vanili bersama jaringan petani lokal. (Baca: La vaniglia di Golosaria premiata al Sigep)
Berikutnya: cokelat
Di tengah keberhasilan membangun bisnis vanili, dunia justru membuka pintu menuju mimpi lama yang nyaris terlupakan. Pada 2024, krisis iklim menghantam Pantai Gading dan Ghana, dua negara yang selama ini memasok sebagian besar kakao dunia. Produksi anjlok, harga melambung, dan para pembeli mulai berburu sumber pasokan baru.
Suatu hari, salah satu mitra Riza di Prancis melontarkan pertanyaan sederhana, "Kalau vanili bisa, apakah kamu juga bisa membuat cokelat?"
Bagi orang lain, itu mungkin sekadar peluang bisnis. Bagi Riza, pertanyaan itu seperti membawa dirinya kembali sepuluh tahun ke belakang, saat menulis motivation letter LPDP.
Kini, mimpi itu datang kembali — justru ketika ia sudah memiliki jaringan pelanggan internasional, reputasi, dan kepercayaan pasar.
Riza tidak langsung membeli mesin. Seperti ketika membangun bisnis vanili, ia kembali memulai dari hulu. Ia menelusuri berbagai sentra kakao di Sulawesi hingga menemukan satu nama yang terus muncul dalam percakapan para pelaku industri bean-to-bar dunia: Poso. Kakao dari daerah di Sulawesi Tengah itu dikenal memiliki kualitas fermentasi yang baik. Ia pun berangkat ke sana.
Sesampainya di Poso, Riza kembali mengambil keputusan yang pernah mengubah perjalanan Adore di Minahasa. Ia tidak ingin sekadar membeli biji kakao. Ia ingin membangun kualitas dari titik paling awal. Fasilitas fermentasi didirikan, tenaga-tenaga lokal direkrut, dan Poso perlahan menjadi rumah keduanya.
Hari-harinya pun mengikuti ritme kebun. Siang dihabiskan bersama para petani, mengamati panen dan kualitas buah kakao. Malam digunakan untuk memeriksa hasil fermentasi, suhu, dan kelembapan yang akan membentuk karakter cokelat beberapa bulan kemudian.
Selama berminggu-minggu ia bolak-balik Poso, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar. Di sanalah filosofi yang selalu dipegangnya kembali menemukan bentuk: we are at the source. Sebab bagi Riza, kualitas terbaik tidak pernah dimulai di pabrik, melainkan di kebun.
Tak kalah berat
Namun perjalanan membangun bisnis kakao ternyata tidak kalah berat dibanding vanili. Jika fermentasi kakao pertama berhasil memikat pelanggan di Prancis, semuanya berubah ketika produksi diperbesar. Mesin yang digunakan tidak mampu menghasilkan mutu yang konsisten. Aroma, tekstur, dan karakter cokelat berubah. Produk yang semula menjanjikan justru gagal ketika memasuki skala industri.
Sekali lagi, Riza dihadapkan pada pilihan yang sudah berkali-kali muncul dalam hidupnya: berhenti atau mempertaruhkan lebih banyak. Dan ia memilih yang kedua.
Bersama mitranya, Riza memutuskan membeli lini mesin pengolahan cokelat dari Italia dengan investasi miliaran rupiah. Sebagian pembiayaan diperoleh melalui pinjaman bank yang dijamin secara pribadi oleh sang partner. Nilainya jauh lebih besar dibanding seluruh risiko yang pernah diambil saat membangun bisnis vanilla.
Meski demikian, investasi tersebut belum membuatnya merasa selesai. Ia kembali menjadi murid. Di Italia, ia mengikuti program Cacao of Excellence di Roma untuk mempelajari ratusan origin kakao terbaik dunia. Ia memanggang dan mengevaluasi lebih dari 150 sampel biji kakao dari berbagai negara.
Perjalanan berlanjut ke Prancis, tempat ia belajar langsung dari mantan Direktur R&D salah satu perusahaan cokelat terbesar tentang bagaimana membangun couverture chocolate yang memenuhi standar pastry profesional dunia.
Pulang dari sana, ia menyewa tempat di Pondok Aren, Tangerang Selatan untuk menjadi laboratorium. Di sini, ia nyaris tidak pernah berhenti bekerja. Biji kakao dipanggang, diuji, lalu dibuang ketika hasilnya belum sesuai harapan. Polanya sama seperti saat ia membangun vanili: mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Kesabaran itu akhirnya mulai membuahkan hasil mulai awal 2026. Seperti halnya vanili, cokelat Adore mulai digunakan hotel-hotel berbintang dan pastry premium, baik di Indonesia maupun Eropa. Juga tersedia di e-commerce dalam kuantitas yang diungkap Reza, tidak sebanyak yang diproduksinya untuk segmen B2B.
Skala Adore memang belum sebesar produsen cokelat raksasa. Namun bagi Riza, saat ini ukuran bukanlah tujuan utama. Yang ingin ia bangun adalah sesuatu yang jauh lebih sulit: produk dengan karakter yang membuat orang mengenal Indonesia hanya dari rasa dan aromanya.
Baginya, kekuatan Adore tidak pernah terletak pada besarnya pabrik atau volume produksi. Keunggulan itu lahir dari kedekatan dengan sumbernya. Karena itulah, baik di Minahasa maupun di Poso, prinsip yang sama terus ia pegang: we are at the source. Sebab, menurut Riza, kualitas terbaik selalu dimulai dari kebun, jauh sebelum bahan baku memasuki pabrik.
Mimpi selanjutnya
Hari ini, Adore memang belum menjadi raksasa industri pangan. Produksinya masih jauh lebih kecil dibanding perusahaan-perusahaan multinasional yang telah puluhan tahun menguasai pasar.
Namun, seperti disinggung di atas, ukuran bukanlah sesuatu yang sementara ini ingin dikejar Riza. Yang lebih berarti baginya adalah ketika nama Adore mulai disebut di dapur-dapur pastry premium, dipercaya para chef, chocolatier, dan artisan yang menjadikan kualitas sebagai bahasa sehari-hari.
Karena itulah, tak heran bila ada yang menyebut visinya dengan sebuah analogi yang sederhana: Intel Inside. Seperti prosesor yang bekerja diam-diam di balik sebuah komputer, Riza ingin Adore menjadi penanda mutu di balik sebuah dessert, pastry, atau sebatang cokelat premium. Mungkin tidak selalu terlihat oleh konsumen, tetapi dikenali dan dicari oleh para profesional yang memahami kualitas.
Ambisi itu sesungguhnya jauh lebih besar daripada membangun sebuah perusahaan. Riza ingin Indonesia tidak lagi dikenal hanya sebagai pemasok vanili atau kakao mentah. Ia ingin sebuah merek asal Indonesia berdiri sejajar dengan nama-nama besar dunia — dihormati bukan karena murah, melainkan karena mutunya.
Perjalanan menuju cita-cita itu tentu masih panjang. Namun Riza tampaknya tidak pernah terburu-buru. Ia tahu benar, kristal pada sebatang vanili, atau cokelat yang membuat lumer di lidah, tidaklah terbentuk dalam semalam. Begitu pula reputasi.
Barangkali itulah yang sesungguhnya sedang dibangunnya melalui Adore. Bukan sekadar perusahaan, bukan pula hanya vanilla atau couverture chocolate premium, melainkan sebuah nama yang lahir dari kebun-kebun di Minahasa dan Poso — dan suatu hari nanti diharapkannya dapat dicari dunia bukan karena berasal dari Indonesia, melainkan karena kualitasnya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.