Menyulap Limbah Jadi Nilai: Strategi Wasana Bali Membawa Bone Carving ke Panggung Global

Menyulap Limbah Jadi Nilai: Strategi Wasana Bali Membawa Bone Carving ke Panggung Global
Putu Evan, pendiri Wasana Bali, menunjukkan aksesori berbahan limbah tulang ternak yang diolah menjadi produk bernilai seni dan ekonomi di Tampaksiring, Gianyar, Bali. (Dok: Pribadi)

Di tengah tren ekonomi berkelanjutan, inovasi kerap lahir dari hal yang tak terduga. Itulah yang dilakukan Putu Evan (28) melalui Wasana Bali, yang mengubah limbah tulang sapi dan kerbau berpadu untaian tali menjadi aksesori bernilai seni sekaligus ekonomi.

Berbasis di Tampaksiring, Gianyar, Evan bukan pemain baru di dunia ukir tulang. Ia merupakan generasi penerus tradisi keluarga yang telah bergelut dalam kerajinan bone carving sejak 1980-an. Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya yang sempat menggunakan gading gajah — yang kini dilarang karena alasan konservasi — Evan memilih jalur yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah tulang ternak sebagai bahan baku utama.

“Ini bukan sekadar bisnis, tapi upaya memuliakan limbah menjadi produk bernilai tambah, baik secara lingkungan maupun sosial,” ujarnya kepada SWA.co.id.

Langkah strategis Evan dimulai ketika melihat celah dalam ekosistem industri kerajinan lokal. Selama ini, banyak pengrajin di Tampaksiring hanya berperan sebagai produsen atau pemasok bagi buyer luar negeri tanpa membangun merek sendiri.

Berbekal latar belakang pendidikan Manajemen, ia mendirikan Wasana Bali pada 2024. Branding menjadi diferensiasi utama. Nama “Wasana”, yang diambil dari filosofi Hindu “Wasana Karma”, mencerminkan nilai keberlanjutan yang selaras dengan konsep upcycling yang diusung.

Keputusan membangun brand sendiri terbukti krusial. Evan tidak lagi sekadar menjual produk, tetapi juga cerita dan nilai di baliknya — faktor yang kini semakin dicari pasar global, khususnya segmen conscious consumer.

Putu Evan memasarkan produk aksesori Wasana Bali berbahan limbah tulang ternak. Melalui pendekatan berkelanjutan, Wasana Bali menyasar pasar conscious consumer dan wisatawan mancanegara. (Dok: Pribadi)
Putu Evan memasarkan produk aksesori Wasana Bali berbahan limbah tulang ternak. Melalui pendekatan berkelanjutan, Wasana Bali menyasar pasar conscious consumer dan wisatawan mancanegara. (Dok: Pribadi)

Momentum penting datang saat Evan mengikuti program inkubasi di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar. Meski hanya bermodalkan ide dan produk pinjaman, ia berhasil lolos di tengah ketatnya persaingan.

Program tersebut membekalinya dengan fondasi bisnis, mulai dari penyusunan profil usaha hingga penguatan “soul” brand. “Kalau tidak paham tujuan awal, brand akan mudah goyah saat melihat kompetitor,” katanya.

Dari modal awal sekitar Rp1 juta–Rp2 juta dan produksi terbatas hanya 10 item, kini Wasana Bali mampu menjual produknya di kisaran Rp100 ribu per unit, dengan kualitas dan positioning yang lebih matang.

Dalam operasionalnya, Wasana Bali mengusung model produksi berbasis komunitas. Evan melibatkan 6–7 pekerja lokal dengan pembagian tugas spesifik, mulai dari pemotongan, pengukiran, hingga finishing.

Produksi dilakukan secara periodik, sekitar dua pekan sekali, dengan output 250–300 unit per bulan. Skema ini tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga menyesuaikan ritme sosial dan budaya Bali yang kental dengan upacara adat.

Menariknya, seluruh proses produksi dilakukan tanpa bahan kimia atau pewarna tambahan. Variasi warna diperoleh secara alami dari material, termasuk penggunaan tanduk untuk menghasilkan warna hitam.

Strategi pemasaran Wasana Bali masih mengandalkan jejaring komunitas dan kemitraan B2B, khususnya dengan eco-store di kawasan wisata seperti Amed, Canggu, Ubud, dan Sanur. Hingga kini, tercatat sekitar tujuh mitra yang menjadi kanal distribusi utama.

Pendekatan tersebut dinilai efektif bagi bisnis skala mikro karena minim biaya pemasaran, tetapi tetap mampu menjangkau target pasar yang relevan.

Selain itu, Evan aktif mengikuti pop-up market dan pameran, memanfaatkan interaksi langsung untuk mengedukasi pasar. Hasilnya, sekitar 80% konsumennya berasal dari wisatawan mancanegara.

Produk Wasana Bali bahkan telah “menembus ekspor” secara organik, dibawa wisatawan ke negara asal seperti Jepang, Korea, dan Belanda, dengan jumlah pembelian mencapai 100 unit per transaksi.

Di balik pertumbuhan tersebut, tantangan tetap ada. Faktor waktu produksi yang bergantung pada aktivitas adat menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, custom order berbasis referensi visual juga kerap sulit direalisasikan secara presisi dalam bentuk tiga dimensi.

Ke depan, Evan menargetkan penguatan database produk dan eksplorasi lini baru, seperti aksesori kalung dan anting.

Evan menunjukkan bahwa transformasi bisnis tidak selalu membutuhkan teknologi tinggi. Dengan memadukan warisan budaya, kesadaran lingkungan, dan strategi branding yang tepat, limbah pun dapat naik kelas menjadi produk premium yang diminati pasar global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag