Kementan Prioritaskan Peternak Rakyat dalam Pengembangan Industri Unggas Nasional
Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk menempatkan peternak rakyat sebagai prioritas utama dalam peta jalan pengembangan industri perunggasan nasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak domestik di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa setiap investasi yang masuk ke sektor perunggasan harus memberikan manfaat nyata bagi peternak lokal. Menurutnya, investasi tidak hanya ditujukan untuk memperkuat produksi nasional dan menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Penegasan tersebut muncul sebagai respons terhadap dinamika industri perunggasan yang saat ini diwarnai fluktuasi harga serta meningkatnya perhatian publik terhadap rencana investasi besar di sektor tersebut.
“Penguatan ekosistem nasional sangat krusial agar industri perunggasan Indonesia tetap sehat dan memiliki daya saing tinggi tanpa mengesampingkan peran peternak rakyat sebagai tulang punggung produksi,” jelas Agung dalam keterangannya, Senin (11/5).
Lebih lanjut, Agung mengungkapkan bahwa pembangunan subsektor peternakan akan dilakukan secara terukur melalui penguatan kemitraan strategis. Skema ini melibatkan sinergi antara peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, serta BUMN pangan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem perunggasan yang berkeadilan, sesuai arahan Menteri Pertanian untuk melibatkan seluruh elemen lokal dalam rantai pasok.
Meski pemerintah membuka ruang bagi investasi, Agung menegaskan bahwa modal yang masuk harus mampu memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir.
“Fokus utamanya tetap pada perlindungan kepentingan peternak dalam negeri dan penguatan model kemitraan yang inklusif untuk menciptakan pertumbuhan industri yang sehat,” jelas Agung.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa investasi tidak boleh membuat peternak rakyat tersisih di negeri sendiri. Mentan berkali-kali mengingatkan bahwa ruang tumbuh bagi peternak nasional harus tetap terjaga guna mencegah meluasnya ketimpangan ekonomi.
Sebagai langkah konkret, Kementan terus mengoptimalkan model Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) berbasis kemitraan nasional. Program ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, pengolahan, hingga distribusi dan penyerapan produk protein hewani. Dalam skema HAT, peternak rakyat ditempatkan sebagai aktor utama dalam rantai produksi nasional.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat peran BUMN pangan dalam menyerap hasil produksi peternak, menstabilkan harga, serta memperbaiki jalur distribusi. Langkah ini dilakukan agar industri perunggasan nasional berjalan lebih seimbang dan mampu memberikan kesejahteraan yang lebih merata.
Di tengah kondisi produksi telur nasional yang sedang mengalami surplus, Agung menilai tantangan utama industri kini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan akses pasar, efisiensi distribusi, serta perlindungan hukum bagi peternak rakyat.
Kementan memastikan arah kebijakan ke depan akan terus difokuskan pada hilirisasi dan penguatan kemitraan usaha agar subsektor peternakan Indonesia menjadi lebih modern dan berdaya saing global. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.