Vietnam dan Korea Selatan Bakal Naik Tingkat Pasar, Bagaimana Nasib Indonesia di MSCI?

Vietnam dan Korea Selatan Bakal Naik Tingkat Pasar, Bagaimana Nasib Indonesia di MSCI?
Papan elektronik menampilkan harga saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Senin (11/5/2026). Foto: Nadia K. Putri/SWA).

PT Mandiri Sekuritas mencermati arah aliran dana asing yang akan masuk ke sejumlah negara calon Developed Market, yaitu Korea Selatan, dan Emerging Market yaitu Vietnam dan Indonesia. Kenaikan status pasar saham negara tersebut di Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menggerakkan bobot masing-masing pasar saham di negara tersebut

Deputy Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat mengatakan rencana Vietnam akan naik kelas dari Frontier Market ke Emerging Market, diikuti juga dengan potensi Korea Selatan naik kelas dari Emerging Market ke Developed Market.

Kresna menggambarkan potensi kenaikan bobot saham Indonesia di MSCI akan lebih tinggi, begitu Korea Selatan pindah kelas ke Developed Market. Alasannya, Korea Selatan memiliki bobot saham lebih dari 20%.

“Jadi kalau ada 20% dari indeks itu keluar otomatis, simpelnya, kita bagi rata saja Indonesia mendapatkan kebagian limpahan,” jelas Kresna dalam paparan Mandiri Macro and Market Brief 2026 secara daringdi Senin (11/5/2026).

Sementara, jika Vietnam naik kelas ke Emerging Market, maka ini belum bisa menggantikan potensi kenaikan bobot yang ditinggalkan Korea Selatan dari Emerging Market. Sehingga peluang Indonesia untuk meningkatkan bobot pasar sahamnya itu masih terbuka lebar.

Kresna mencermati dua negara tersebut rencananya akan masuk dalam pantauan MSCI pada Juni 2026. Namun, status perubahan pasar Korea Selatan dan Vietnam paling cepat diwujudkan pada tahun 2027 atau 2028.

“Itu merupakan medium-term development, bukan yang bisa kita ekspektasikan bisa terjadi di tahun ini juga. Ini memberikan juga satu sisi, peluang buat pasar saham kita untuk berbenah dan untuk mengantisipasi hal tersebut,” ujar Kresna.

Adapun, penyesuaian indeks yang akan diumumkan MSCI pada Rabu subuh (13/5/2026) atau Selasa (12/5/2026) waktu Amerika Serikat (AS) berdampak pada sentimen Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (12/5/2026).

Analis pasar modal, Elandry Pratama, mengatakan koreksi IHSG 0,68% ke level 6.858,90 pada perdagangan hari ini berasal dari kombinasi sentimen global dan posisi ulang investor menjelang pengumuman pengocokan ulang (rebalancing) MSCI.

“Investor asing cenderung melakukan penyesuaian portofolio lebih awal, terutama pada saham-saham dengan bobot besar di indeks, sehingga memicu volatilitas dan tekanan jual jangka pendek,” jelas Elandry saat dihubungi SWA.co.id pada Selasa sore ini.

Elandry memproyeksikan tekanan jual tersebut belum tentu berlangsung agresif hingga Juni 2026, yaitu periode pengumuman indeks global MSCI. Saat ini, pasar saham sedang sensitif terhadap arah suku bunga global, pergerakan Dolar AS, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

“Jadi selama faktor eksternal tersebut masih fluktuatif, arus dana asing kemungkinan masih cenderung selektif dan defensif,” tutup Elandry.

Aplikasi IDX Mobile mencatat, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) di seluruh pasar (reguler dan negosiasi) sebesar Rp5,80 triliun. Sedangkan investor domestik net sell sebesar Rp10,4 triliun.

Dari sisi pembelian bersih (net buy), investor asing mencatatkan sebesar Rp4,87 triliun. Namun, porsi investor domestik net buy masih mendominasi, yaitu sebesar Rp11,3 triliun pada perdagangan hari ini.

Selain IHSG koreksi, indeks komposit KOSPI (KRX) di Korea Selatan juga koreksi 2,99% ke level 7.643,15 dalam mata uang won (KRW), melansir dari laman TradingView. Sedangkan di Vietnam melalui Ho Chi Minh Stock Exchange atau VNINDEX, menguat 0,30% ke level 1.901,10 dalam mata uang dong (VND). (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag