Ajung Santhika: Mengolah Sampah Bali dengan Semangat Tri Hita Karana

Ajung Santhika, no 3 dari kanan pada acara Talk Show World Book Day 2026. (Foto: Silawati/SWA)
(Dua dari kanan) Ajung Santhika pada acara Talk Show World Book Day 2026. (Foto: Silawati/SWA)

Di tengah meningkatnya persoalan sampah di Bali, muncul sosok muda yang memilih bergerak langsung menghadirkan solusi. Ajung Santhika, melalui yayasan Amara Cinta Semesta (ACS), mengembangkan pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga berlandaskan filosofi hidup masyarakat Bali, Tri Hita Karana.

Bagi Ajung, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis kebersihan. Ia melihatnya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan spiritual untuk menjaga harmoni hubungan manusia dengan alam. Dari pemikiran itulah lahir ACS, yayasan yang ia dirikan bersama sang ibu untuk menghadirkan sistem pengolahan sampah yang lebih bertanggung jawab.

“Ini lebih dari sekadar pengelolaan sampah. Ini adalah cara kami memberikan kembali kepada Bali,” ujarnya dalam acara World Book Day 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rabu (13/5/2026).

ACS merupakan singkatan dari Amara Cinta Semesta. Organisasi ini hadir dengan misi sederhana namun bermakna, yakni mengolah sampah agar tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di tengah kondisi TPA di Bali yang semakin terbebani, langkah tersebut dinilai semakin relevan dan mendesak.

Ajung menjelaskan, pendekatan yang dilakukan ACS berbeda dengan konsep daur ulang konvensional. Jika banyak pihak berfokus pada recycle, ACS mengembangkan metode bertajuk CINTA atau Cara Inovasi Ngolah Sampah Tanpa Sisa.

Melalui metode tersebut, sampah dipilah, dicacah, dicampur, lalu ditransformasikan menjadi bentuk baru yang lebih bermanfaat. Bahkan, residu akhir yang tidak dapat dimanfaatkan lagi tetap diolah agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

“Di sini kami bukan berbicara soal recycle seperti kebanyakan. Kami melakukan sesuatu yang berbeda. Kami memilah, mencacah, mencampur, mentransformasi, dan residunya kami bakar dengan pengolahan yang bertanggung jawab,” jelas Ajung.

Inspirasi besar di balik gerakan ini berasal dari filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Bagi Ajung, menjaga Bali tidak cukup hanya melalui pariwisata dan budaya, tetapi juga melalui pengelolaan lingkungan yang nyata.

Ia menilai persoalan sampah di Bali membutuhkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah. Karena itu, ACS tidak hanya fokus pada pengolahan sampah, tetapi juga membangun kesadaran publik mengenai pentingnya pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Pendekatan tersebut membuat ACS berkembang menjadi gerakan sosial yang membawa semangat keberlanjutan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan global, langkah Ajung Santhika menunjukkan bahwa solusi lokal berbasis budaya dapat menjadi jawaban atas tantangan modern.

Melalui Amara Cinta Semesta, Ajung berharap Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai pulau yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungannya secara mandiri dan bertanggung jawab. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag