Permintaan Emas Perhiasan Merosot 20% di Januari-Maret 2026

Permintaan Emas Perhiasan Merosot 20% di Januari-Maret 2026
Ilustrasi etalase emas perhiasan di toko emas (Foto: emaspedia.com)

World Gold Council (WGC) melaporkan adanya pergeseran signifikan dalam pasar emas global sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Lonjakan harga emas yang terus menyentuh rekor tertinggi menjadi pemicu utama merosotnya volume permintaan perhiasan di berbagai pasar utama dunia, termasuk Indonesia. Permintaan emas perhhiasan di Republiki ini pada kuartal pertama 2026 menyusut sebesar 20% apabila dibandingkan periode yang sama di 2025.

Berdasarkan data terbaru, volume permintaan emas perhiasan global turun tajam sebesar 23% atau menjadi hanya 300 ton secara tahunan (year-on-year/yoy) . Penurunan ini merata di hampir seluruh pasar besar. Tiongkok mencatat penurunan terdalam sebesar 32%, disusul Timur Tengah sebesar 23%, India 19%, dan Indonesia yang mencatat penurunan sebesar 20% dengan total permintaan perhiasan mencapai 3,3 ton.

Namun, fenomena menarik terjadi pada sisi nilai pasar. Meski volume barang menyusut, nilai belanja masyarakat untuk perhiasan justru melonjak ke angka US$47 miliar. Angka ini merupakan rekor tertinggi untuk periode kuartal pertama.

Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks World Gold Council, menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan daya tahan konsumen terhadap emas.

"Nilai pengeluaran yang meningkat menandakan bahwa konsumen tetap bersedia berinvestasi pada emas meskipun harga berada di level rekor. Analisis kami menunjukkan sebagian permintaan perhiasan telah beralih ke emas batangan dan koin, terutama di pasar seperti Tiongkok dan India,lantaran perhiasan juga berfungsi sebagai instrumen investasi alternatif," ujar Shaokai Fan sesi taklimat media di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Proyeksi Pasar dan Tren 'Recycling'

Melihat tren ke depan, Shaokai Fan memprediksi permintaan perhiasan kemungkinan besar akan tetap melandai sepanjang tahun ini. Ia menegaskan adanya hubungan yang sangat jelas antara tingginya harga dan rendahnya minat beli perhiasan di sebagian besar pasar.

Di sisi lain, dari aspek pasokan, WGC memperkirakan pertumbuhan pasokan tambang akan berlangsung moderat. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala operasional seperti inflasi dan kekurangan bahan bakar yang masih membayangi industri pertambangan.

Menariknya, tingginya harga emas mulai mendorong masyarakat untuk melakukan aksi ambil untung dengan menjual koleksi lama mereka.

"Tahun lalu kita tidak melihat volume daur ulang (recycling) yang kuat meski harga tinggi. Namun, tahun ini kami melihat orang-orang mulai kembali ke pasar untuk menjual kembali emas lama mereka. Oleh karena itu, kami memperkirakan volume emas daur ulang akan meningkat tahun ini," pungkasnya.

Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, emas batangan kini menjadi primadona baru bagi konsumen yang mengejar nilai investasi murni, sementara pasar perhiasan harus beradaptasi dengan daya beli yang tertahan akibat tingginya harga komoditas logam mulia tersebut. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag