Kemendag Pertemukan 31 Pelaku Usaha Ekonomi Hijau dengan Buyer Jepang

Kementerian Perdagangan memfasilitasi 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia dalam penjajakan bisnis (business matching) dengan buyer potensial Jepang di Jakarta. (Foto: dok.Kemendag)
Kementerian Perdagangan memfasilitasi 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia dalam penjajakan bisnis (business matching) dengan buyer potensial Jepang di Jakarta. (Foto: Kemendag)

Kementerian Perdagangan memfasilitasi 31 pelaku usaha ekonomi hijau Indonesia dalam penjajakan bisnis dengan calon pembeli potensial dari Jepang. Kegiatan bertajuk “Business Matching Sessions Indonesia-Japan” ini digelar di Jakarta pada Rabu (13/5/2026), sebagai bagian dari rangkaian partisipasi ASEAN-Japan Centre dalam “The 2nd Indonesia-Japan Environment Week 2026” yang berlangsung pada 11–12 Mei 2026 di Jakarta.

Melalui kolaborasi dengan ASEAN-Japan Centre, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag memfasilitasi pelaku usaha dan asosiasi Indonesia dari berbagai subsektor strategis, antara lain produk daur ulang, barang ramah lingkungan, energi dari limbah atau waste-to-energy, bahan baku daur ulang, serta jasa pengelolaan lingkungan. Keterlibatan para pelaku usaha ini mencerminkan semakin berkembangnya ekosistem industri hijau Indonesia untuk bersinergi dengan standar global.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi, yang juga Council Director of ASEAN-Japan Centre untuk Indonesia, mengatakan business matching ini merupakan langkah taktis untuk memanfaatkan momentum kunjungan delegasi Jepang yang membawa keunggulan dalam ekonomi sirkular. Forum ini menjadi upaya konkret pemerintah Indonesia dalam mendorong kemitraan bisnis, investasi, dan peningkatan ekspor ke Jepang.

Business matching tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses pasar ekspor bagi sektor ekonomi hijau, seiring permintaan global terhadap produk berkelanjutan yang terus meningkat.

“Melalui fasilitasi seperti ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok global yang berbasis keberlanjutan. Kami optimis bahwa melalui kolaborasi ini, pelaku usaha Indonesia akan memperoleh peluang lebih besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok produk hijau dunia, yang pada gilirannya memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” kata Puntodewi.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Sugih Rahmansyah menyampaikan, business matching dirancang secara spesifik untuk mempertemukan inovasi lokal dengan kebutuhan teknologi tinggi Jepang. Kesempatan ini diharapkan membuka cakrawala kerja sama yang lebih mendalam di sektor ekonomi sirkular yang memiliki prospek ekonomi jangka panjang.

Business matching ini menjadi jembatan konkret bagi pelaku usaha Indonesia untuk terhubung dengan mitra Jepang, khususnya dalam sektor ekonomi hijau yang memiliki prospek besar. Kami mendorong agar pertemuan ini dapat menghasilkan kerja sama nyata, baik dalam bentuk investasi, perdagangan, maupun alih teknologi,” ujar Sugih.

Sugih menilai kolaborasi dengan Jepang bersifat strategis karena industri di Negeri Sakura memiliki keunggulan dalam teknologi maju, efisiensi, serta komitmen tinggi terhadap sustainability dan praktik ekonomi sirkular.

Di sisi lain, Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan ekonomi hijau dan transisi energi, sekaligus memiliki potensi besar serta peluang pertumbuhan yang tinggi.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap terjadi transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia. Kami harapkan ada tindak lanjut dalam pengelolaan limbah menjadi energi, sistem pengelolaan sampah perkotaan, serta praktik industri berkelanjutan. Hal ini sekaligus akan memperkuat daya saing produk ekspor Indonesia yang bernilai tambah dan ramah lingkungan,” imbuh Sugih.

Perwakilan PT Rafandra Eternal Nusantara, Elisabeth, mengatakan partisipasinya dalam kegiatan ini membuka peluang baru bagi perusahaan untuk mengembangkan pasar produk ramah lingkungan ke Jepang.

Perusahaannya memproduksi kerajinan berbahan limbah pembibitan gambas atau luffa, yang diolah menjadi spons alami sebagai alternatif spons plastik. Produk tersebut telah menembus pasar ekspor seperti Korea Selatan, Italia, dan sejumlah wilayah di Amerika Serikat melalui platform digital.

“Pertemuan langsung dengan calon mitra Jepang memberikan nilai tambah dibandingkan forum sebelumnya yang umumnya dilakukan secara daring. Sejumlah perusahaan Jepang menunjukkan ketertarikan, khususnya untuk kebutuhan riset dan pengembangan,” ujar Elisabeth.

Ia menilai fasilitasi Kemendag, termasuk melalui program Export Coaching Program (ECP) di Jawa Timur untuk 2026, sangat membantu meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Ia berharap Kemendag dapat terus memperluas cakupan business matching ke lebih banyak negara untuk mendorong ekspor produk ramah lingkungan Indonesia yang memiliki potensi pasar besar.

Sementara itu, Chief Financial Officer Parongpong Raw Lab, Veran, menuturkan forum ini membuka peluang kolaborasi baru bagi perusahaannya. Parongpong Raw Lab berfokus pada pengolahan sampah residual yang selama ini jarang dimanfaatkan.

Perusahaan tersebut mengolah berbagai jenis limbah, termasuk jaring bekas nelayan, menjadi produk bernilai tambah seperti furnitur. Sampah residual juga dapat digunakan sebagai material bangunan multifungsi hingga produk kerajinan seperti perhiasan.

“Partisipasi dalam forum yang difasilitasi Kemendag ini membuka peluang kolaborasi dengan mitra Jepang yang memiliki perhatian tinggi terhadap isu lingkungan, khususnya kelautan. Kami terkesan dengan kehadiran berbagai perusahaan Jepang dan respons positif terhadap produk yang kami tawarkan,” ujar Veran. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag