Bali Siapkan Rp1,26 Triliun untuk Konversi Taksi Menjadi Taksi Listrik

Bali Siapkan Rp1,26 Triliun untuk Konversi Taksi Menjadi Taksi Listrik
SPKLU di Bali. (Foto : Silawati/SWA).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyiapkan dana sekitar Rp1,26 triliun untuk mempercepat peralihan taksi konvensional menjadi kendaraan listrik. Pemprov Bali berupaya memacu pertumbuhan populasi kendaraan listrik yang menembus 14.318 unit. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, menjelaskan peta jalan (roadmap) elektrifikasi transportasi 2026–2028 di Bali iti menargetkan penambahan 3.155 unit taksi listrik dalam skema optimistis.

Pada skema moderat, proses transisi diproyeksikan rampung pada 2030.“Keberhasilan program elektrifikasi transportasi ini memerlukan dukungan lintas sektor, mulai dari pembiayaan kendaraan listrik, penyediaan SPKLU, peningkatan kompetensi SDM teknisi kendaraan listrik, hingga penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku transportasi di Bali,” ujar Mudarta di Denpasar, Bali, pada akhir pekan lalu.

Langkah tersebut menunjukkan keseriusan Bali membangun sistem transportasi rendah emisi untuk menopang citra sebagai destinasi pariwisata hijau kelas dunia. Sektor transportasi memang menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas lingkungan dan pengalaman wisata di Pulau Dewata.

Hingga 31 Maret 2026, jumlah kendaraan listrik di Bali tercatat mencapai 14.318 unit, terdiri dari 9.893 sepeda motor listrik dan 4.425 mobil listrik. Sebaran terbesar berada di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dua wilayah dengan aktivitas ekonomi dan pariwisata tertinggi di Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan pertumbuhan kendaraan listrik di Bali tidak lepas dari implementasi Pergub Bali Nomor 48 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.“Lingkungan yang bersih dan udara yang bersih adalah kebutuhan kita. Karena itu penggunaan kendaraan listrik harus terus didorong sebagai bagian dari menjaga alam Bali,” kata Koster.

Menurutnya, sistem transportasi Bali harus dikelola secara modern, tertib, dan ramah lingkungan untuk menjaga daya saing Bali sebagai destinasi wisata global. Dukungan terhadap program elektrifikasi juga datang dari pelaku transportasi.

Ketua DPD Organda Bali, I Nyoman Arthaya, memohon pemerintah tidak hanya mempercepat peremajaan armada menuju kendaraan listrik, tetapi juga menertibkan angkutan ilegal yang dinilai mengganggu ekosistem transportasi resmi.Selain itu, Organda berharap ada dukungan pembiayaan maupun bantuan pengadaan kendaraan agar operator transportasi lebih cepat beradaptasi dengan teknologi kendaraan listrik.

Ketua Koperasi Taksi Ngurah Rai Bali, I Kadek Ari Sucipta, mengungkapkan pihaknya mulai bertahap melakukan elektrifikasi armada, termasuk mendukung operasional transportasi di kawasan bandara sejak penyelenggaraan G20.Namun, ia mengakui tantangan terbesar masih berada pada aspek pembiayaan dan pembangunan fasilitas pendukung.

Tahun ini, koperasi menargetkan sekitar 25% armada taksi telah menggunakan kendaraan listrik. Transformasi kendaraan listrik di Bali tidak sekadar menjadi agenda lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Mulai dari industri otomotif, infrastruktur charging station, pembiayaan hijau, energi bersih, hingga pengembangan SDM teknisi kendaraan listrik yang akan ikut tumbuh seiring percepatan elektrifikasi transportasi di Bali. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag