Antara Bertahan dan Resign: Dilema Angkatan Kerja Produktif

Dewi Oktaviani – Peserta Program Wijawiyata Manajemen 91 Sekolah Tinggi Manajemen PPM. (Dok: PPM Manajemen)
Dewi Oktaviani – Peserta Program Wijawiyata Manajemen 91 Sekolah Tinggi Manajemen PPM. (Dok: PPM Manajemen)

Fenomena resign menjadi tren di media sosial, khususnya di kalangan usia produktif. Dewasa ini, kita bisa dengan mudah menemukan konten tentang burnout, tekanan pekerjaan, banyaknya jam lembur, lingkungan kerja yang toksik, lelahnya perjalanan menuju tempat kerja, hingga jenuhnya menghadapi rutinitas kantor setiap hari.

Banyak pula ditemukan konten tentang seseorang yang memutuskan keluar dari pekerjaan meskipun baru beberapa bulan bekerja. Fenomena ini memperlihatkan bahwa cara generasi sekarang memandang pekerjaan memang sudah berbeda dibandingkan dulu.

Dulu, banyak orang memilih bertahan dalam pekerjaan meskipun merasa tidak nyaman karena takut kehilangan penghasilan atau sulit mendapatkan pekerjaan baru.

Namun sekarang, banyak anak muda mulai sadar bahwa bekerja bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal kenyamanan, kesehatan mental, dan kualitas hidup. Mereka mulai mempertimbangkan apakah lingkungan kerja memberikan rasa aman dan ruang untuk berkembang. Akibatnya, keputusan untuk resign kini lebih sering diambil ketika seseorang merasa tidak lagi nyaman dengan pekerjaannya.

Perubahan pola pikir ini membuat perusahaan menghadapi tantangan baru. Tingginya angka turnover membuat perusahaan harus terus mencari dan melatih karyawan baru dalam waktu yang tidak singkat. Proses tersebut tentu membutuhkan biaya, tenaga, dan penyesuaian ulang dalam tim kerja. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, produktivitas perusahaan lama-kelamaan dapat mengalami penurunan.

Menariknya, keputusan seseorang untuk bertahan atau resign ternyata tidak selalu dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Berdasarkan survei kecil yang dilakukan penulis kepada 100 karyawan usia produktif dari berbagai bidang pekerjaan, ditemukan bahwa ada tiga faktor utama yang paling memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan di tempat kerja.

Faktor tersebut meliputi kesehatan mental, beban kerja, dan kestabilan perusahaan. Tiga hal ini ternyata cukup dekat dengan realitas dunia kerja yang banyak dirasakan anak muda saat ini.

Kesehatan mental menjadi faktor yang paling banyak memengaruhi keputusan karyawan dalam bertahan di tempat kerja. Tekanan pekerjaan sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi masalah mulai muncul ketika tekanan tersebut berlangsung secara terus-menerus tanpa dukungan dari lingkungan kerja.

Banyak karyawan merasa lelah secara emosional karena target pekerjaan yang tinggi, komunikasi yang buruk, atau suasana kerja yang terlalu menekan. Kondisi seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan semangat bekerja.

Karyawan yang merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya cenderung lebih loyal terhadap perusahaan. Hubungan kerja yang sehat membuat seseorang merasa lebih aman dan dihargai selama bekerja.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang penuh tekanan sering kali memicu keinginan untuk resign meskipun gaji yang diterima cukup besar. Maka, tidak heran saat ini banyak orang mulai lebih memikirkan kenyamanan batin saat bekerja.

Beban kerja menjadi alasan yang cukup kuat untuk membuat seseorang keluar dari tempat kerjanya. Banyak orang sebenarnya tidak keberatan bekerja keras, tetapi beban kerja yang terlalu tinggi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.

Kondisi tersebut dapat memicu burnout dan membuat seseorang kehilangan motivasi dalam bekerja. Ketika seseorang sudah kehilangan motivasi bekerja, keputusan resign kerap menjadi pilihan.

Cukup banyak orang mengaku pernah berpikir untuk resign karena merasa pekerjaan mereka terlalu melelahkan. Beberapa responden mengatakan bahwa kehidupan pribadi mereka mulai terganggu karena pekerjaan yang terus menumpuk.

Kondisi seperti ini sering dianggap biasa dalam dunia kerja, padahal dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Jika berlangsung terlalu lama, turnover di perusahaan juga akan semakin meningkat.

Faktor berikutnya yang memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan adalah kestabilan perusahaan. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang, banyak orang mulai memikirkan keamanan pekerjaan dan masa depan karier mereka. Perusahaan yang memiliki arah jelas, telah lama berdiri, dan memiliki jenjang karier yang jelas membuat karyawan merasa lebih tenang dan nyaman untuk bertahan lebih lama.

Sebaliknya, perusahaan yang sering mengalami konflik internal, baru berdiri, dan tidak memiliki jenjang karier yang jelas dapat membuat karyawan merasa khawatir terhadap masa depan mereka sehingga memicu keinginan untuk keluar dari perusahaan.

Karyawan cenderung lebih nyaman bekerja di perusahaan yang terbuka dan memiliki budaya kerja yang sehat. Kesempatan untuk berkembang juga menjadi salah satu hal yang mulai diperhatikan oleh usia produktif saat ini.

Banyak orang ingin bekerja di tempat yang memberikan ruang untuk belajar dan berkembang dalam jangka panjang. Karena itu, kestabilan perusahaan tidak hanya dilihat dari kondisi finansial, tetapi juga dari cara perusahaan memperlakukan karyawannya.

Pada akhirnya, keputusan seseorang untuk bertahan atau resign memang tidak sesederhana yang terlihat di banyak konten media sosial. Di balik keputusan tersebut, ada berbagai pertimbangan yang dipikirkan secara serius, mulai dari kesehatan mental, beban kerja, hingga rasa aman terhadap masa depan pekerjaan mereka.

Karena itu, perusahaan saat ini tidak bisa hanya mengandalkan gaji sebagai cara untuk mempertahankan karyawan. Sebab, banyak pekerja usia produktif saat ini juga mencari lingkungan kerja yang nyaman, aman, dan mampu memberikan ruang untuk berkembang. Ketika perusahaan mampu menciptakan kondisi kerja seperti itu, karyawan akan merasa lebih dihargai dan memiliki alasan untuk bertahan lebih lama. (*)


Penulis: Dewi Oktaviani – Peserta Program Wijawiyata Manajemen 91 Sekolah Tinggi Manajemen PPM. (Dok: PPM Manajemen)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag