Telkom Jalankan Strategi TLKM 30 di Tengah Penurunan Laba dan Tekanan Biaya
Kinerja laba bersih PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) pada kuartal IV-2025 mengalami tekanan signifikan akibat percepatan depresiasi dan amortisasi (D&A) serta biaya implementasi sistem ERP. Berdasarkan laporan keuangan Telkom laba bersih perseroan pada periode tersebut turun tajam menjadi Rp2 triliun atau merosot 57,8% secara kuartalan dan 57,1% secara tahunan.
Penurunan tersebut dipicu perubahan klasifikasi umur manfaat aset, terutama kabel drop yang dipersingkat menjadi lima tahun, serta beban ERP fase kedua senilai sekitar Rp937 miliar. Secara tahunan, laba bersih Telkom sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp17,8 triliun atau turun 20,5% apabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Daniel Widjaja, menyebutkan realisasi itu berada di bawah ekspektasi Mirae Asset maupun konsensus pasar yang masing-masing hanya mencapai 79,5%/82,9% dari proyeksi.
Meski demikian, pendapatan Telkom pada kuartal IV-2025 masih mencapai Rp37,1 triliun, naik 1,4% dibanding kuartal sebelumnya meski turun 1,7% secara tahunan. Kinerja segmen seluler menjadi penopang dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 11,6% secara tahunan, didorong kenaikan average revenue per user (ARPU) menjadi Rp45 ribu. Pada akhir periode, exit ARPU tercatat mencapai Rp47 ribu.
Selain itu, yield data juga meningkat menjadi Rp3,8 per MB atau tumbuh 6% secara tahunan. Namun, jumlah pelanggan seluler turun menjadi 156 juta atau melemah 2,1% akibat meningkatnya churn pelanggan bernilai rendah di tengah kenaikan harga kartu perdana. Pertumbuhan konsumsi data juga relatif terbatas, yakni 34,7 GB per pelanggan atau hanya naik 1% secara tahunan.
Daniel mencermati tekanan dari kebijakan “kitchen sinking” diperkirakan masih berlanjut hingga 2028. Strategi ini dilakukan melalui percepatan depresiasi aset non-jaringan, terutama kabel drop dan aset jaringan lainnya. Kebijakan akuntansi tersebut telah diterapkan secara retrospektif dengan penyajian ulang laporan keuangan 2023 dan 2024.
Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas menilai langkah tersebut tidak akan berdampak terhadap arus kas maupun dividen perusahaan. Nilai percepatan depresiasi diperkirakan dapat mencapai Rp2,3 triliun pada 2028. Di sisi lain, proses spin-off bisnis fiber Telkom diproyeksikan selesai pada kuartal III 2026.
Mirae Asset juga merevisi turun proyeksi EBITDA dan laba bersih Telkom untuk 2026 dan 2027. Proyeksi EBITDA dipangkas masing-masing 2,8%dan 0,6%, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) dipotong 14,7% dan 17,9%. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan dampak percepatan depresiasi serta potensi program ERP lanjutan pada 2026 yang diperkirakan mencapai Rp1 triliun.
Meski demikian, Mirae Asset tetap mempertahankan asumsi dividen sambil menunggu keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa TLKM pada 8 Juni 2026. Target harga saham Telkom juga diturunkan menjadi Rp3.200 per saham dengan valuasi 4,4 kali EV/EBITDA di 2026.
Di tengah tekanan kinerja tersebut, Telkom mulai menjalankan strategi transformasi TLKM 30. Program ini dirancang sebagai respons strategis perusahaan untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan digital telekomunikasi terdepan di Indonesia sekaligus enabler ekosistem digital nasional.
Melalui TLKM 30, Telkom menargetkan transformasi menyeluruh mulai dari model bisnis, tata kelola perusahaan, hingga budaya kerja. Strategi tersebut difokuskan pada penciptaan nilai berkelanjutan dan menjaga relevansi perusahaan di tengah percepatan disrupsi industri digital. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.