PLN (PPLN) Sampaikan Laporan Keuangan 2025, Laba Bersih Susut 66,86%

PLN (PPLN) Sampaikan Laporan Keuangan 2025, Laba Bersih Susut 66,86%

Emiten obligasi, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PPLN) menyampaikan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, dengan capaian laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp7,01 triliun. Posisi laba bersih tersebut anjlok 66,86% dibandingkan Rp21,17 triliun pada periode yang sama tahun 2024.

Melansir dari laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (22/5/2026), PPLN membukukan pendapatan sebesar Rp582,68 triliun pada tahun buku 2025. Posisi tersebut meningkat 6,83% dibandingkan Rp545,28 triliun pada tahun buku 2024.

PPLN merinci, kenaikan pendapatan berasal dari penjualan tenaga listrik sebesar Rp367,08 triliun, naik dari Rp353,17 triliun. Kemudian, pendapatan dari penyambungan pelanggan meningkat menjadi Rp2,24 triliun dari Rp1,74 triliun.

Selanjutnya, subsidi listrik pemerintah meningkat menjadi Rp87,46 triliun dari Rp77,04 triliun. Pendapatan kompensasi juga naik menjadi Rp112,73 triliun dari Rp100,18 triliun. Sementara itu, pendapatan lain-lain turun tipis menjadi Rp13,15 triliun dari Rp13,22 triliun.

Adapun, pendapatan lain-lain berasal dari penjualan batu bara sebesar Rp5,34 triliun, turun dari Rp6,20 triliun. Kemudian, pendapatan dari sewa transformator turun menjadi Rp619,28 miliar dari Rp642,21 miliar, serta perubahan daya tersambung dan administrasi menjadi Rp74,91 miliar dari Rp175,68 miliar.

Segmen yang mengalami peningkatan antara lain jaringan dan jasa telekomunikasi menjadi Rp4,22 triliun dari Rp3,76 triliun. Kemudian, jasa pemeliharaan naik menjadi Rp1,78 triliun dari Rp1,65 triliun. Pendapatan dari Layanan Energi Hijau-Sertifikat Energi Terbarukan meningkat menjadi Rp229,38 miliar dari Rp193,11 miliar, serta pendapatan lain-lain naik menjadi Rp881,17 miliar dari Rp587,77 miliar.

Namun, jumlah beban usaha membengkak 12,31% menjadi Rp533,45 triliun, dari sebelumnya Rp484,75 triliun. Kenaikan tersebut dipicu oleh membesarnya beban bahan bakar dan pelumas menjadi Rp198,61 triliun dari Rp179,29 triliun, pembelian tenaga listrik menjadi Rp195,21 triliun dari Rp178,62 triliun, biaya pemeliharaan menjadi Rp35,74 triliun dari Rp31,54 triliun, serta beban kepegawaian menjadi Rp36,01 triliun dari Rp30,70 triliun.

Kenaikan juga terjadi pada pos sewa menjadi Rp2,82 triliun dari Rp2,60 triliun, penyusutan aset tetap menjadi Rp50,26 triliun dari Rp46,67 triliun, serta beban lain-lain menjadi Rp11,67 triliun dari Rp11,48 triliun. Sementara itu, penyusutan aset hak guna berhasil ditekan menjadi Rp3,10 triliun dari Rp3,82 triliun.

Setelah dikurangi beban usaha, PPLN membukukan laba usaha sebesar Rp49,22 triliun pada tahun 2025. Posisi laba usaha tersebut menyusut 18,79% dibandingkan Rp60,62 triliun pada tahun 2024.

Dari sisi laba per saham dasar/dilusian, PPLN membukukan Rp46,599 per saham pada tahun 2025. Posisi tersebut turun dibandingkan Rp140,653 per saham pada tahun 2024.

Dari sisi neraca, jumlah aset PPLN per 31 Desember 2025 mencapai Rp1.837 triliun, meningkat 3,66% dibandingkan Rp1.772 triliun pada 31 Desember 2024. Jumlah liabilitas perseroan membengkak 9,93% menjadi Rp773,30 triliun dari Rp703,30 triliun.

Sementara itu, jumlah ekuitas PPLN tercatat sebesar Rp1.064 triliun pada tahun 2025. Posisi ekuitas tersebut turun tipis 0,45% dibandingkan Rp1.069 triliun pada tahun 2024.

Meski PPLN tercatat sebagai emiten surat utang, perusahaan milik negara tersebut bergerak di sektor infrastruktur, khususnya industri utilitas kelistrikan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag