ChatGPT Memang Mengguncang Dunia, tetapi Google yang Kini Menguasai Permainan AI

Sundar Pichai, CEO Google dan Alphabet. (Foto: wired.me)
Sundar Pichai, CEO Google dan Alphabet. (Foto: wired.me)

Dua tahun lalu, Google tampak seperti raksasa yang tersandung di depan umum. Di tengah kepanikan industri teknologi akibat kemunculan ChatGPT, perusahaan yang selama dua dekade menjadi gerbang utama internet itu meluncurkan chatbot AI yang justru menjadi bahan olok-olok. Apa sebab?

Model awal Gemini — saat itu masih bernama Bard — memberi saran aneh kepada pengguna: makan batu dan mengoleskan lem pada pizza. Tak heran, di Silicon Valley, narasinya cepat terbentuk: OpenAI adalah masa depan, sementara Google terlambat membaca perubahan zaman.

Posisi terkuat

Namun 19 Mei 2026 menghadirkan pemandangan yang sangat berbeda. Di panggung Google I/O, konferensi tahunan pengembang Google di Mountain View, Sundar Pichai tidak lagi berbicara seperti CEO perusahaan yang sedang bertahan hidup. Ia berbicara seperti pemimpin perusahaan yang percaya diri sedang membangun infrastruktur digital generasi berikutnya.

Presentasi selama hampir dua jam itu bukan sekadar parade produk AI baru. Itu adalah deklarasi bahwa Google tidak ingin sekadar ikut perlombaan AI. Google ingin menjadikan AI sebagai lapisan dasar internet modern.

The New York Times (19/5/2026) menangkap perubahan atmosfer itu dengan cukup tajam. Dalam artikelnya berjudul "How Google Is Starting to Win the A.I. Race" itu, Brian X. Chen menulis bahwa mulai terbentuk konsensus baru di Silicon Valley: Google bukan hanya berhasil mengejar ketertinggalan dari OpenAI, tetapi mungkin justru berada di posisi terkuat untuk memenangkan era AI. (Baca: NY Times )

Artikel tersebut penting bukan karena memuji Gemini sebagai model paling pintar, melainkan karena menunjukkan bahwa Google memiliki sesuatu yang tidak dimiliki startup AI lain. Apa itu?

Distribusi global yang sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari miliaran manusia.

Itulah inti strategi Google hari ini. AI bukan lagi aplikasi terpisah yang harus dicari pengguna. AI harus hidup di Search, Gmail, Chrome, Android, YouTube, Maps, hingga Docs.

Dalam bahasa Sundar Pichai sendiri, Google kini memasuki “agentic Gemini era”, sebuah fase ketika AI bukan hanya menjawab pertanyaan, melainkan mulai bertindak sebagai agen digital yang bekerja untuk manusia di latar belakang. (Baca: Agentic Gemini AI )

Angka-angka yang diumumkan Google memperlihatkan skala transformasi itu. Gemini kini memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif bulanan, naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu yang masih sekitar 400 juta pengguna. Permintaan harian melonjak tujuh kali lipat hanya dalam setahun.

Sementara AI Overviews di Google Search telah digunakan lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif bulanan. AI Mode, fitur pencarian berbasis AI yang disebut Google sebagai peningkatan terbesar Search sepanjang sejarah, sudah melampaui satu miliar pengguna bulanan.

Business Insider (20/5/2026) menyebut angka-angka itu sebagai bukti bahwa “takdir numerik Google” mulai menjadi nyata. Sundar Pichai mengungkapkan Google kini memproses lebih dari 3,2 kuadriliun token AI per bulan — melonjak dari 480 triliun token setahun sebelumnya dan hanya 9,7 triliun pada 2024. Lima layanan Google — Search, Gmail, Android, Chrome, dan YouTube — kini masing-masing memiliki lebih dari tiga miliar pengguna.

Berubah bentuk

Di titik inilah perlombaan AI berubah bentuk. Selama dua tahun terakhir, publik melihat persaingan AI sebagai pertarungan chatbot: ChatGPT versus Gemini versus Claude. Namun Google tampaknya sedang bermain dalam arena berbeda. Mereka tidak sedang membangun satu aplikasi AI. Mereka sedang menyuntikkan AI ke seluruh ekosistem digital yang sudah digunakan miliaran orang setiap hari.

Search menjadi pusat transformasi itu. Selama seperempat abad, Google Search bekerja dengan logika sederhana: pengguna mengetik kata kunci, lalu Google menyajikan tautan.

Kini logika itu mulai dirombak total. Google memperkenalkan “intelligent search box”, sistem pencarian baru yang dapat memahami teks, gambar, video, file, bahkan tab Chrome sekaligus. Search tidak lagi terasa seperti mesin pencari, melainkan percakapan berkelanjutan.

Dalam demo di panggung I/O, ketika pengguna bertanya tentang black hole, AI Google bukan hanya memberi jawaban teks, tetapi juga membuat video visual penjelasan secara langsung di halaman hasil pencarian.

Search juga mulai menghadirkan “Generative UI”, tata letak dinamis yang dapat mengubah tampilan hasil pencarian sesuai konteks pertanyaan pengguna — lengkap dengan grafik interaktif, simulasi, hingga mini dashboard.

Bagi Google, perubahan ini bukan sekadar inovasi produk. Ini soal mempertahankan dominasi internet di era AI. Sebab ancaman terbesar bagi Google bukanlah chatbot OpenAI semata, melainkan kemungkinan bahwa orang tidak lagi membuka Google Search untuk mencari jawaban. Dengan menjadikan AI sebagai inti Search, Google mencoba memastikan internet generasi berikutnya tetap berjalan melalui platform mereka.

Yang menarik, Google tidak berhenti di pencarian. Mereka mulai mendorong AI menjadi “agen digital” yang bisa bekerja sendiri. Fitur baru bernama Gemini Spark menjadi contoh paling ambisius.

Spark digambarkan sebagai AI pribadi 24 jam yang bisa membantu mengelola kehidupan digital pengguna: menulis email, mengatur jadwal, merangkum agenda harian, hingga menjalankan tugas jangka panjang di cloud tanpa laptop harus tetap menyala.

Ilustrasi Gemini Spark, AI agent terbaru Google yang dirancang bekerja secara proaktif membantu aktivitas digital pengguna, mulai dari mengelola jadwal, email, hingga tugas harian. Fitur ini menjadi bagian dari strategi Google memperluas dominasi AI di seluruh ekosistem produknya. (Foto: REUTERS/Manuel Orbegozo)
Sundar Pichai menjelaskan Gemini Spark, AI agent terbaru Google yang dirancang bekerja secara proaktif membantu aktivitas digital pengguna, mulai dari mengelola jadwal, email, hingga tugas harian. Fitur ini menjadi bagian dari strategi Google memperluas dominasi AI di seluruh ekosistem produknya. (Foto: REUTERS/Manuel Orbegozo)

Google juga memperkenalkan Daily Brief, asisten yang setiap pagi akan membuat ringkasan personal berdasarkan Gmail, kalender, dan tugas pengguna. Sementara Docs Live memungkinkan orang membuat dokumen hanya dengan berbicara. Pengguna cukup menuangkan pikiran secara verbal, dan Gemini akan menyusun dokumen lengkap, menarik data dari Gmail, Drive, maupun web.

WIRED (20/5/2026) menyebut strategi Google ini sebagai upaya “menempatkan AI agents di seluruh layanan utama Google”. Search, Gmail, YouTube, Chrome, hingga Docs perlahan berubah menjadi lapisan AI yang saling terhubung. (Baca: WIRED )

Perang infrastruktur

Di belakang semua itu, ada perang infrastruktur berskala raksasa yang jarang terlihat publik. Sundar Pichai mengungkapkan bahwa pengeluaran modal Google melonjak drastis dari US$31 miliar pada 2022 menjadi sekitar US$180–190 miliar tahun ini. Investasi itu diarahkan terutama untuk memperbesar kapasitas AI melalui TPU generasi kedelapan, chip buatan Google sendiri untuk melatih dan menjalankan model AI.

Google tampaknya belajar dari sejarah industri teknologi: era baru biasanya dimenangkan bukan hanya oleh teknologi terbaik, tetapi oleh perusahaan yang menguasai infrastruktur dan distribusi. Dalam konteks AI, itu berarti pusat data, chip, cloud, aplikasi, dan pengguna harus berada dalam satu ekosistem yang saling mengunci.

Karena itu, Google mulai bermain agresif dalam harga model AI. Investor’s Business Daily menulis bahwa Alphabet “melepas sarung tinju” dalam perang harga melawan OpenAI dan Anthropic. Gemini 3.5 Flash diposisikan sebagai model AI frontier yang lebih cepat dan jauh lebih murah dibanding pesaingnya. Google bahkan mengklaim perusahaan dapat menghemat lebih dari US$1 miliar per tahun jika memindahkan sebagian besar workload AI mereka ke Gemini Flash.

Langkah ini mengingatkan banyak orang pada strategi Android dan Chrome satu dekade lalu: bukan selalu menjadi yang paling glamor, tetapi menjadi yang paling luas dipakai.

Google juga mulai memperluas AI ke dunia fisik. Perusahaan itu memperkenalkan intelligent eyewear berbasis Android XR, kacamata AI yang bisa memberi petunjuk arah, menerjemahkan bahasa secara langsung, hingga memahami objek di dunia nyata lewat kamera. Ada versi audio-only yang akan dirilis musim gugur tahun ini, dan versi dengan display yang masih dikembangkan bersama Samsung, Warby Parker, dan Gentle Monster.

Semua pengumuman itu membuat Google I/O 2026 terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini bukan lagi konferensi tentang fitur-fitur baru. Ini adalah presentasi tentang bagaimana Google ingin membangun ulang hubungan manusia dengan internet.

Daily Brief. Fitur berbasis Gemini ini dirancang menjadi AI assistant personal yang merangkum agenda, email, dan aktivitas harian pengguna secara otomatis. (Ist)
Daily Brief. Fitur berbasis Gemini ini dirancang menjadi AI assistant personal yang merangkum agenda, email, dan aktivitas harian pengguna secara otomatis. (Ist)

Kegelisahan

Di balik optimisme itu, ada pula kegelisahan besar yang tidak disebut secara eksplisit. Ketika Search berubah menjadi mesin jawaban AI, lalu lintas ke website bisa menurun drastis. Media, publisher, industri SEO, dan ekonomi web tradisional menghadapi ancaman baru.

Yang menarik, The New York Times — media yang menggugat OpenAI karena isu hak cipta — justru ikut mencatat bahwa Google pun sedang bergerak ke arah yang serupa: membuat pengguna semakin jarang meninggalkan ekosistemnya sendiri.

Namun bagi Google, ini mungkin satu-satunya cara bertahan. Sejarah industri teknologi penuh dengan perusahaan dominan yang gagal melewati perubahan platform. Microsoft kehilangan momentum saat era mobile datang. Yahoo gagal beradaptasi dengan era pencarian modern. BlackBerry runtuh ketika smartphone menjadi komputer mini.

Google tampaknya tidak ingin menjadi nama berikutnya dalam daftar itu. Dan mungkin karena itulah kalimat penutup artikel The New York Times terasa sangat kuat: “Looking for the next Google? It’s probably Google.”

Di tengah euforia startup AI dan ketakutan bahwa OpenAI akan menggantikan mesin pencari, catatan penting mungkin justru ini: perusahaan yang paling berpeluang memenangkan era AI bukanlah pendatang baru yang revolusioner, melainkan raksasa lama yang diam-diam berhasil mengubah dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag