Saudi Aramco Rajai Industri Migas Dunia, Valuasinya Tembus US$1,8 Triliun
Dominasi perusahaan minyak dunia masih belum tergoyahkan. Di tengah transisi energi dan geliat energi terbarukan, valuasi raksasa migas global justru terus menunjukkan kekuatan besar, dipicu tingginya permintaan energi, ketegangan geopolitik, hingga lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan laporan terbaru Visual Capitalist bertajuk Ranked: The World’s 20 Most Valuable Oil Companies (20/5/2026), Saudi Aramco tercatat sebagai perusahaan minyak dan gas paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$1,8 triliun. Nilai tersebut bahkan melampaui gabungan lima perusahaan migas terbesar berikutnya, yakni Exxon Mobil, Chevron, PetroChina, Shell, dan TotalEnergies.
Secara total, 20 perusahaan minyak dan gas terbesar dunia memiliki kapitalisasi pasar gabungan sebesar US$5,1 triliun. Angka ini mendekati ukuran ekonomi Jerman dan menunjukkan bahwa industri energi fosil masih menjadi salah satu konsentrasi nilai korporasi terbesar di dunia.
Amerika Serikat mendominasi daftar dari sisi jumlah perusahaan. Terdapat delapan perusahaan asal AS yang masuk dalam 20 besar, dipimpin oleh Exxon Mobil dengan kapitalisasi pasar US$637 miliar dan Chevron sebesar US$380 miliar. Selain itu, ConocoPhillips juga menempati posisi kedelapan dengan valuasi US$152 miliar.
Di luar AS, China diperkuat oleh tiga perusahaan migas milik negara, yakni PetroChina, CNOOC, dan Sinopec dengan total valuasi mencapai US$541,6 miliar. Sementara itu, Eropa Barat diwakili Shell, TotalEnergies, BP, Equinor, dan ENI, meski total nilai gabungannya masih berada di bawah kapitalisasi Saudi Aramco.
Laporan tersebut menilai valuasi perusahaan minyak dan gas global saat ini banyak dipengaruhi dua faktor utama, yakni risiko pasokan energi dan meningkatnya kebutuhan listrik global.
Salah satu perhatian utama pasar adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia dengan aliran sekitar 20 juta barel per hari. Ancaman terhadap jalur ini dinilai dapat mendorong lonjakan harga minyak sekaligus meningkatkan ekspektasi keuntungan perusahaan energi global.
Selain itu, pertumbuhan pusat data AI, elektrifikasi industri, dan kenaikan konsumsi listrik global juga memperkuat posisi strategis perusahaan energi. Kebutuhan energi yang terus meningkat membuat perusahaan minyak dan gas masih menjadi pemain penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Dalam daftar tersebut, Petrobras dari Brasil menjadi satu-satunya wakil Amerika Latin di 10 besar dengan kapitalisasi pasar US$142 miliar. Kanada juga menempatkan dua perusahaan besar, yakni Enbridge dan Canadian Natural Resources.
Meski tren energi hijau terus berkembang, data ini menunjukkan bahwa industri minyak dan gas global masih memiliki daya tarik besar di mata investor. Perusahaan-perusahaan energi fosil tetap menjadi tulang punggung ekonomi global, terutama saat kebutuhan energi dunia terus bertumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan transisi energi untuk menggantikannya sepenuhnya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.