Dari Gerakan Sosial ke Hotel Syariah, ‘Aisyiyah Mulai Garap Hospitality

Tampak depan Aisyi Tower Hotel di Klaten, Jawa Tengah. Hotel syariah modern milik ‘Aisyiyah ini mengusung konsep hospitality berbasis keluarga, pemberdayaan UMKM, dan penguatan ekonomi persyarikatan. (Istimewa)
Tampak depan Aisyi Tower Hotel di Klaten, Jawa Tengah. Hotel syariah modern milik ‘Aisyiyah ini mengusung konsep hospitality berbasis keluarga, pemberdayaan UMKM, dan penguatan ekonomi persyarikatan. (Istimewa)

Di tangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, hotel tampaknya mulai dimaknai lebih dari sekadar bisnis penginapan. Di balik kamar, lobi, dan tingkat okupansi, tersimpan ambisi yang lebih besar: membangun mesin ekonomi baru persyarikatan yang modern, profesional, tetapi tetap berpijak pada nilai syariah dan pemberdayaan umat.

Ambisi itu kini mulai terlihat di Klaten, Jawa Tengah. Di kota yang selama ini lebih dikenal sebagai jalur penghubung Yogyakarta dan Solo tersebut, berdiri Aisyi Tower Hotel — hotel syariah modern yang menjadi tonggak baru gerakan perempuan Muhammadiyah.

Untuk pertama kalinya, ‘Aisyiyah hadir bukan hanya sebagai organisasi sosial dan pendidikan, tetapi juga sebagai pemilik sekaligus pengelola hotel modern berbasis syariah.

Soft opening hotel tersebut direncanakan berlangsung pada 16 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah sekaligus momentum Milad ke-3 SM Tower Malioboro Yogyakarta.

Bagi Muhammadiyah, langkah ini bukan sepenuhnya wilayah baru. Sebelumnya, SM Tower Malioboro lebih dahulu berkembang sebagai salah satu ikon hotel syariah milik persyarikatan di pusat Kota Yogyakarta. Namun, Aisyi Tower membawa pendekatan yang sedikit berbeda.

Jika SM Tower tumbuh sebagai hotel bisnis dan persinggahan wisata di kawasan Malioboro, Aisyi Tower diposisikan sebagai hotel keluarga dengan sentuhan pelayanan islami, pemberdayaan UMKM, sekaligus penguatan ekonomi perempuan.

Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari, menyebut hotel tersebut lahir bukan sekadar proyek bisnis baru, melainkan bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi persyarikatan yang sebelumnya telah diuji melalui SM Tower.

“Ini menjadi sejarah pertama hotel yang dimiliki dan dikelola perempuan ‘Aisyiyah. Selama ini orang mengenal ‘Aisyiyah identik dengan PAUD dan TK, tetapi kini mulai merambah dunia hotel dan hospitality,” ujarnya.

Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, di Aisyi Tower Hotel, Klaten, Jawa Tengah. Hotel syariah modern ini menjadi langkah baru ‘Aisyiyah dalam mengembangkan bisnis hospitality berbasis pemberdayaan dan ekonomi persyarikatan. (Istimewa)
Deni Asy’ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, di Aisyi Tower Hotel, Klaten, Jawa Tengah. Hotel syariah modern ini menjadi langkah baru ‘Aisyiyah dalam mengembangkan bisnis hospitality berbasis pemberdayaan dan ekonomi persyarikatan. (Dok: Pribadi)

Dari amal usaha ke mesin ekonomi baru persyarikatan

Pernyataan itu menunjukkan perubahan cara pandang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terhadap pengelolaan aset organisasi. Selama puluhan tahun, amal usaha Muhammadiyah identik dengan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan layanan sosial. Kini, persyarikatan mulai masuk lebih dalam ke industri jasa modern dengan pendekatan bisnis yang lebih profesional.

Aisyi Tower menjadi bagian dari transformasi tersebut. Bangunan dua lantai itu memiliki 28 kamar dengan berbagai tipe, mulai dormitory hingga President Suite. Hotel juga dilengkapi ballroom berkapasitas 300 orang serta meeting room yang dapat digunakan untuk seminar, resepsi, maupun berbagai agenda komunitas dan persyarikatan.

Namun yang ingin dijual tampaknya bukan semata fasilitas fisik. Konsep yang dibangun lebih menekankan pengalaman menginap yang ramah keluarga dan dekat dengan nilai-nilai islami. Di dalam hotel tersedia perpustakaan anak, taman bermain, ruang komunitas, hingga area promosi bagi UMKM lokal.

Di tengah industri hospitality yang semakin kompetitif, pendekatan tersebut menjadi diferensiasi tersendiri. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tampaknya ingin menghadirkan hotel syariah yang tidak tampil kaku, tetapi tetap modern, nyaman, dan profesional.

Membidik ceruk pasar keluarga dan wisata Islami

Lokasi Klaten dipilih bukan tanpa alasan. Kabupaten yang berada di antara Yogyakarta dan Solo itu selama ini menjadi jalur transit wisata sekaligus pusat aktivitas masyarakat di kawasan Solo Raya bagian selatan. Namun pilihan hotel modern dengan konsep keluarga dan nuansa islami masih relatif terbatas.

Di titik inilah Muhammadiyah melihat peluang pasar. Alih-alih bertarung langsung di segmen hotel premium kota besar, Aisyi Tower menyasar pasar yang lebih spesifik: keluarga Muhammadiyah, kegiatan organisasi, seminar komunitas, hingga wisatawan domestik yang membutuhkan penginapan nyaman dengan atmosfer islami.

Model bisnis seperti ini memperlihatkan transformasi yang lebih luas dalam tubuh persyarikatan. Jika dahulu aset organisasi lebih banyak diposisikan sebagai fasilitas pelayanan sosial, kini aset tersebut mulai diarahkan menjadi sumber ekonomi produktif yang berkelanjutan.

Menurut Deni Asy’ari, masih banyak daerah yang memiliki potensi besar tetapi belum tergarap maksimal oleh industri hospitality modern. “Ini menjadi sejarah pertama hotel yang dimiliki dan dikelola perempuan ‘Aisyiyah,” ujar Deni.

Bagi Muhammadiyah, kekuatan terbesar memang bukan hanya modal finansial. Jaringan komunitas dan aset yang tersebar di berbagai daerah menjadi modal penting yang selama ini belum seluruhnya dioptimalkan secara ekonomi.

Dari sekolah, rumah sakit, kampus, hingga lahan strategis, semuanya menyimpan potensi bisnis besar apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan.

Meski bergerak di sektor hospitality modern, identitas persyarikatan tetap dipertahankan. Kehadiran ruang promosi UMKM, misalnya, menunjukkan bahwa hotel ini tidak hanya mengejar okupansi kamar, tetapi juga ingin menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar.

Melalui Aisyi Tower Hotel, ‘Aisyiyah kini tampil dengan wajah baru. Organisasi yang selama ini identik dengan pendidikan anak usia dini dan layanan sosial itu mulai memasuki industri yang menuntut profesionalisme tinggi, pelayanan prima, serta tata kelola bisnis yang disiplin.

Di Klaten, transformasi itu mulai menemukan bentuknya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag