Filosofi Amon Fernandes di Global Infotech Solution (GIS):Membangun Entrepreneur, Bukan Sekedar Karyawan
Di tengah dinamika industri teknologi informasi (TI) yang bergerak cepat dan penuh disrupsi, banyak perusahaan yang berlomba menghadirkan produk terbaru, membangun platform, atau menciptakan teknologi masa depan. Namun, bagi Amon Fernandes, Founder dan Managing Director Global Infotech Solution (GIS), kekuatan utama sebuah perusahaan TI bukan pada produk-produknya, melainkan pada manusia di dalamnya.
Amon membangun GIS dengan keyakinan bahwa talenta (talents)/sumber daya manusia (SDM) adalah aset paling strategis untuk menjaga daya saing bisnis di tengah perubahan teknologi yang terus berlangsung. Apalagi, “Sebagai perusahaan TI, kami awalnya tidak memiliki produk sendiri, melainkan menjual produk milik principal. Artinya, yang kami miliki hanyalah people.”
Bagi pria yang telah berkecimpung di industri TI lebih dari 30 tahun ini, ketika banyak perusahaan menawarkan produk teknologi yang relatif serupa, pembeda utamanya ialah kemampuan menciptakan nilai tambah. “Nilai tambah itu lahir dari manusia yang ada di dalam perusahaan,” ujarnya yakin.
“Kalau perusahaan lain juga menjual produk yang sama dengan kami, mengapa orang lain harus memilih membeli produk dari kami? Di situlah kami harus creating value. Who create the value? The people,” ia menambahkan.
Cara pandang tersebut membentuk filosofi bisnis GIS sejak awal beroperasi pada 2015. Perusahaan ini sekarang menyediakan sejumlah solusi TI. Mulai dari Enterprise IT Infrastructure, Managed Services, Cyber Security hingga Digital Payment Solutions. “GIS dibangun bukan hanya sebagai perusahaan System Integrator, tetapi sebagai ruang tumbuh bagi talenta-talenta terbaik,” Amon menandaskan.
Ia mengakui, pada awal perjalanan bisnisnya, GIS memilih jalur sebagai system integrator lantaran kebutuhan pasar untuk cepat menghasilkan revenue. Namun, ia sadar model bisnis itu tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.
Kesadaran itu mendorong transformasi besar di tubuh GIS. Karenanya, GIS berkembang dari sekadar system integrator menjadi IT services company yang menitikberatkan solusi, inovasi, dan kemampuan SDM dalam menyelesaikan persoalan pelanggan.
Dalam proses transformasi itulah Amon melihat bahwa fondasi utama pertumbuhan bisnis bukan semata teknologi, melainkan kualitas manusia di balik teknologi tersebut. “Untuk tumbuh, kami harus berinovasi yang lahir dari talenta-talenta kami sendiri,” ujarnya.
Pendekatan kepemimpinan yang ia bangun di GIS pun berbeda dari banyak perusahaan konvensional. Amon tidak ingin orang-orang di sekelilingnya hanya memiliki mental sebagai pekerja. Ia menanamkan semangat kewirausahaan hingga ke level kepemimpinan tertinggi perusahaan.
“Saya sudah menetapkan bahwa orang-orang sekitar saya, one level below me, harus punya kemampuan entrepreneurship. Mereka harus memiliki mindset seorang pembangun, bukan hanya sekedar pelaksana tugas,” katanya tegas.
Bahkan, kepada talenta-talenta muda yang baru bergabung, Amon selalu menanamkan pola pikir yang sama. Ia ingin GIS tumbuh besar, tapi lebih dari itu, ia ingin perusahaannya selalu menjadi pioneer. “I don’t want to be the number one, but I want to be the first,” ujarnya.
Menurut Amon, inovasi hanya bisa lahir ketika pemimpin memiliki visi ke depan dan keberanian membangun budaya ownership di dalam organisasi. Karena itu, konsep entrepreneurship di GIS tidak berhenti pada motivasi internal semata, melainkan diwujudkan melalui kesempatan nyata.
Amon percaya sense of ownership tidak mungkin tumbuh jika perusahaan tidak benar-benar berbagi ruang kepemilikan dengan karyawannya. Prinsip itulah yang kemudian melahirkan model kaderisasi unik di GIS.
Ketika talenta-talenta di dalam perusahaan berkembang, Amon justru mendorong mereka membangun entitas bisnis baru melalui skema spin-off company. Alih-alih mempertahankan semuanya dalam satu organisasi besar, ia memilih memperluas ekosistem bisnis dengan memberikan ruang kepemimpinan kepada generasi berikutnya.
Strategi tersebut membuat perjalanan GIS selama 11 tahun berkembang menjadi grup bisnis dengan tujuh perusahaan. Dalam pandangan Amon, investasi terbesar perusahaan bukan hanya pada teknologi, melainkan pada penciptaan pemimpin-pemimpin baru. “Seorang entrepreneur akan mencetak entrepreneur lain. Sedangkan seorang karyawan akan mencetak karyawan lain,” kata Amon, meyakini konsep mentalitas ini.
Filosofi pengembangan talenta itu juga menjadi landasan transformasi bisnis GIS menuju inovasi produk. Setelah bertahun-tahun bergerak dalam layanan system integrator, perusahaan ini mulai mengembangkan solusi in-house bernama ARMMADA (singkatan dari Advanced Resource Management & Monitoring for All Devices & Applications).

Global Infotech Solution (GIS) dibangun bukan hanya sebagai perusahaan system integrator, tetapi sebagai ruang tumbuh bagi talenta-talenta terbaik.
Amon Fernandes - Founder & Managing Director Global Infotech Solution (GIS)
Produk tersebut lahir dari pengamatan terhadap tantangan yang dihadapi banyak perusahaan di Indonesia —terutama di sektor perbankan, manufaktur dan ritel— dalam mengelola aset digital yang terus bertambah. Keterbatasan tim TI, lemahnya pengelolaan perangkat, hingga meningkatnya risiko keamanan siber menjadi persoalan yang semakin kompleks.
ARMMADA kemudian dikembangkan sebagai solusi manajemen perangkat dan monitoring terintegrasi yang proaktif dan berbasis kebijakan. Kehadiran produk ini menjadi simbol transformasi GIS dari perusahaan reseller teknologi menjadi perusahaan yang mulai membangun inovasinya sendiri.
Meski demikian, Amon tetap meyakini bahwa teknologi dan manusia berjalan beriringan walaupun tetap mengedepankan manusia sebagai penggeraknya. “Kami memasang target year on year minimum 20 persen. Bayangkan, bagaimana mengejar pertumbuhan seperti itu kalau saya tidak punya resources yang kuat,” katanya.
Karena itu, investasi pada talenta potensial terus diperluas. Termasuk melalui program scholarship bagi siswa SMK, yang telah berjalan sejak tahun lalu. Program tersebut ditujukan untuk membuka akses bagi talenta muda berbakat yang memiliki keterbatasan finansial. GIS memberikan kesempatan magang, pembinaan, hingga peluang karier bagi peserta terbaik sebagai bagian dari upaya mencetak para future leader di industri TI.
Kini, GIS Group menaungi sekitar 280 orang yang tersebar di tujuh perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti Network, Cloud, LED, ISP, Filming Equipment — sebuah ekosistem yang lahir dari filosofi sederhana: investasi pada manusia adalah investasi terbaik. Ia ingin meninggalkan warisan berupa lahirnya lebih banyak pemimpin dan entrepreneur baru dari lingkungan yang dibangunnya. “Mengenai legacy, saya mau orang-orang yang bersama saya akan menjadi orang yang jauh lebih sukses daripada saya,” katanya.
Di tengah era kecerdasan buatan dan otomatisasi yang terus mengubah lanskap industri TI, pendekatan kepemimpinan Amon Fernandes menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berubah, faktor manusia tetap menjadi pusat dari inovasi, keberlanjutan, dan pertumbuhan bisnis.§
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.