Strategi Sudamala Resorts Kembangkan Konsep Hospitality yang Dekat dengan Alam dan Budaya Lokal

Sudamala Resort, Komodo, Flores. (Foto: Sudamala Resort)
Sudamala Resort, Komodo, Flores. (Foto: Sudamala Resort)

Di tengah pertumbuhan industri pariwisata yang semakin kompetitif, Sudamala Resorts memilih membangun identitas melalui pendekatan yang memadukan seni, budaya lokal dan kepedulian lingkungan. Didirikan pada 2011, grup perhotelan ini berkembang dari Sanur, Bali hingga memiliki properti di Ubud, Senggigi (Lombok), Pulau Seraya Kecil dan Labuan Bajo (Flores).

Nama Sudamala diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti purification atau penyucian. Filosofi tersebut menjadi dasar pendekatan yang dibangun perusahaan dalam menghadirkan pengalaman menginap. Sudamala ingin menghadirkan ruang yang memungkinkan tamu beristirahat dari rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, sekaligus kembali menikmati suasana yang lebih tenang dan dekat dengan alam maupun budaya setempat.

Pendiri Sudamala Resorts, Ben Subrata, pada awalnya memiliki gagasan membangun galeri seni di Sanur, Bali. Ketertarikannya pada seni dan budaya kemudian berkembang menjadi konsep resor yang tidak hanya menyediakan akomodasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman artistik dan kultural dalam satu ruang. Pendekatan tersebut masih menjadi ciri utama Sudamala hingga kini, terlihat dari arsitektur tradisional, penggunaan karya seni lokal, hingga pelayanan yang menonjolkan keramahan khas Indonesia.

Ekspansi yang dilakukan Sudamala Resorts juga berfokus pada kawasan timur Indonesia yang dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya yang kuat. Setiap properti dirancang mengikuti karakter wilayahnya masing-masing.

Dua resor bahkan dilengkapi dengan Aqura Dive Center untuk mendukung aktivitas wisata bahari di kawasan dengan ekosistem laut yang masih terjaga. Perusahaan juga tengah menyiapkan properti baru di Ubud, Bali, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026.

Dari sisi pasar, Sudamala Resorts banyak menarik wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa, Australia, China, dan kawasan Asia Pasifik, disertai wisatawan domestik. Tingkat okupansi rata-rata resor mereka berada di kisaran 80 hingga 90 persen.

Corporate Assistant Marketing Communication Director Sudamala Resorts, Narendra Wiriadijaya. (Foto: Wisnu Rahardjo/SWA)
Corporate Assistant Marketing Communication Director Sudamala Resorts, Narendra Wiriadijaya. (Foto: Wisnu Rahardjo/SWA)

Corporate Assistant Marketing Communication Director Sudamala Resorts, Narendra Wiriadijaya saat kunjungan ke kantor SWA mengatakan, “Kami memanfaatkan kerja sama dengan online travel agent (OTA) dan agen perjalanan untuk memperluas jangkauan pasar. Selain itu, Sudamala juga aktif menampilkan berbagai keunikan properti dan destinasi melalui media sosial maupun situs resmi sebagai bagian dari strategi komunikasi pemasaran.”

Memadukan konservasi dan pengalaman kunjungan

Di saat banyak pelaku industri pariwisata mulai memperhatikan isu keberlanjutan, Sudamala Resorts juga memperkuat komitmennya pada pengelolaan lingkungan. Salah satu langkah yang dilakukan terlihat di Sudamala Resort Seraya, yang berada di Pulau Seraya Kecil dekat Labuan Bajo. Resor tersebut kini menggunakan sistem energi surya terintegrasi yang mampu menyuplai sekitar 80 hingga 85 persen kebutuhan operasional harian menggunakan energi terbarukan.

Penggunaan energi surya tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan jejak karbon operasional resor. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan perkembangan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata internasional yang mulai mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan pelestarian lingkungan.

Tidak hanya di sektor energi, Sudamala juga memperluas program konservasi laut melalui inisiatif Sudamala Reef Revival. Program ini dijalankan Sudamala Resort Seraya bersama Yayasan Sudamala Bumi Insani dan Blue Harmony Bali sebagai upaya rehabilitasi terumbu karang di sekitar Pulau Seraya Kecil.

Melalui program tersebut, tamu yang menginap di seluruh jaringan Sudamala Resorts, baik di Sanur, Senggigi, Seraya, maupun Labuan Bajo, dapat ikut berpartisipasi langsung dalam konservasi ekosistem laut di Flores. Program ini menggabungkan rehabilitasi terumbu karang berbasis ilmiah, kolaborasi dengan komunitas, dan keterlibatan wisatawan dalam aktivitas konservasi.

Partisipasi tamu dilakukan melalui sejumlah skema kontribusi, mulai dari pengisian pasir karang, penanaman bibit karang, hingga pendanaan struktur Reef Star yang digunakan untuk menopang fragmen karang.

Seluruh kontribusi digunakan untuk mendukung material, pemasangan karang, instalasi, dan pemantauan kawasan konservasi. Tamu yang berpartisipasi juga akan memperoleh sertifikat digital sebagai bagian dari keterlibatan mereka dalam pemulihan ekosistem laut Seraya.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman wisata kini tidak hanya berfokus pada kenyamanan menginap, tetapi juga mulai diarahkan pada keterlibatan wisatawan terhadap pelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Bagi Sudamala Resorts, pengembangan bisnis hospitality tidak hanya terbatas pada ekspansi properti, tetapi juga sebagai upaya membangun hubungan yang lebih dekat antara wisatawan, alam, dan identitas budaya Indonesia. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag