Untuk Pertama Kalinya Sejak 1919, Energi Terbarukan Ungguli Batu Bara di Listrik Global
Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, energi terbarukan berhasil melampaui batu bara dalam bauran pembangkit listrik global. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam transisi energi dunia yang selama beberapa dekade masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Data terbaru Ember, lembaga riset energi global independen, menunjukkan energi terbarukan menghasilkan 33,8% listrik global pada 2025, sedikit lebih tinggi dibanding batu bara yang berada di level 33,0%. Ini menjadi pertama kalinya sejak 1919 energi terbarukan kembali memimpin produksi listrik dunia.
Pencapaian tersebut didorong percepatan pengembangan energi surya dan angin di sejumlah kawasan utama seperti China, Eropa, dan Amerika Serikat. Turunnya biaya panel surya, turbin angin, hingga teknologi penyimpanan baterai juga membuat energi bersih semakin kompetitif dibanding pembangkit berbasis batu bara.
Sepanjang 2025, energi terbarukan menghasilkan sekitar 10.730 terawatt-jam (TWh) listrik global. Sementara batu bara menghasilkan 10.476 TWh. Dalam satu dekade terakhir, porsi energi terbarukan melonjak hampir 11 poin persentase, dari 23,0% pada 2015 menjadi 33,8% pada 2025.
Pertumbuhan terbesar berasal dari proyek pembangkit listrik tenaga surya dan angin skala besar. Meski tenaga air masih memiliki kontribusi signifikan, ekspansi energi bersih kini semakin ditopang teknologi baru yang lebih fleksibel dan efisien.
Di sisi lain, dominasi batu bara perlahan mulai melemah. Pada 2025, produksi listrik berbasis batu bara turun 63 TWh dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang pertama sejak perlambatan ekonomi global akibat pandemi pada 2020.
Sepanjang abad ke-20, batu bara menjadi sumber listrik utama dunia dan bahkan sempat menyumbang lebih dari 40% bauran listrik global pada era 2000-an. Namun meningkatnya investasi energi bersih dan tekanan terhadap target penurunan emisi membuat peta energi global mulai berubah.
Meski demikian, transisi energi dunia dinilai masih belum selesai. Jika gas dan sumber fosil lainnya dihitung, bahan bakar fosil secara keseluruhan masih menyumbang sekitar 57% pembangkit listrik global pada 2025.
Gas dan sumber energi fosil lain tercatat menyumbang 24,4% bauran listrik global, sementara tenaga nuklir berada di level 8,9%.
Artinya, walaupun energi terbarukan kini telah melampaui batu bara secara individual, dunia masih tetap bergantung pada energi fosil untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Perubahan ini sekaligus memperlihatkan arah baru sistem energi global, di mana investasi, inovasi teknologi, dan kebijakan keberlanjutan mulai memainkan peran lebih besar dalam menentukan masa depan pembangkit listrik dunia. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.