Lebih dari Sekadar Perangkat Komunikasi, AI Smartwatch Kini Menyetir Identitas Lintas Generasi

Dr. Ressa Uli Patrissia, dosen dan peneliti yang melakukan riset dengan topik “AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations” di Universitas Sahid, Jakarta
Dr. Ressa Uli Patrissia. (Istimewa)

Pasar perangkat komunikasi wearable di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, pemandangan pergelangan tangan yang dilingkari smartwatch (jam tangan pintar) kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital sehari-hari. Berbagai produk baru yang menunjang gaya hidup sehat pun tak henti membanjiri pasar.

Namun, di balik fungsinya yang populer sebagai pemantau kesehatan, banyak pihak yang belum menyadari dampak psikologis dan sosial dari perangkat berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ini. AI smartwatch yang melekat pada jutaan warga Indonesia ternyata bukan lagi sekadar alat pelacak digital yang pasif.

“Ia telah menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan yang memengaruhi penggunanya,” ujar Dr. Ressa Uli Patrissia, dosen dan peneliti yang baru saja meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Rabu (25/5).

Dalam riset disertasinya yang berjudul “AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations”, Ressa menemukan fenomena menarik. Smartwatch kini telah bertransformasi menjadi semacam pribadi pendamping atau "co-author" yang turut serta membentuk identitas penggunanya.

Berdasarkan wawancara mendalam terhadap 30 partisipan dari lintas generasi—Gen X, Milenial, dan Gen Z—Ressa menyimpulkan bahwa para pengguna AI smartwatch di Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran ke arah pribadi yang dikendalikan oleh algoritma.

Pemilihan ketiga generasi ini pun bukan tanpa alasan. Merujuk pada data tahun 2024, pangsa pasar smartwatch di tanah air memang didominasi secara mutlak oleh Gen Z sebesar 51 persen dan Milenial sebanyak 49 persen, dengan tren pertumbuhan yang terus mendaki.

Melalui interaksi yang intens, teknologi ini mampu mengakses data paling privat dari tubuh manusia—mulai dari detak jantung, kualitas tidur, hingga dinamika emosi pengguna—yang kemudian diolah menjadi rekomendasi aktivitas harian. Hubungan timbal balik inilah yang tanpa disadari mulai menyetir keputusan-keputusan personal penggunanya.

Kendati mengakui besarnya manfaat komunikasi dua arah antara manusia dan kecerdasan buatan, Ressa mengingatkan pentingnya batasan. Ia menekankan agar manusia tetap memegang kendali penuh atas dirinya sendiri dan tidak menyerahkan kedaulatan personal kepada mesin.

“Jangan tergantung sepenuhnya pada teknologi, apalagi diarahkan oleh teknologi,” tegas Ressa.

Temuan ini pun mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa. Menurutnya, hasil riset Ressa membuka cakrawala dan arah baru dalam pengembangan ilmu komunikasi di era modern.

“Temuan disertasi Ressa Uli Patrissia memperlihatkan bahwa saat ini, komunikasi berlangsung dalam hubungan yang semakin kompleks antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, perangkat digital, dan struktur sosial masyarakat. Ini adalah wilayah penting yang harus dijawab oleh ilmu komunikasi masa depan,” pungkas Prasetya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag