Meski Bersitegang, AS dan China Masih Bergantung dalam Perdagangan Strategis

Meski Bersitegang, AS dan China Masih Bergantung dalam Perdagangan Strategis
Ilustrasi AS dan China saling membutuhkan. (Istimewa)

Di tengah memanasnya tensi geopolitik, perang tarif, hingga upaya diversifikasi rantai pasok global, Amerika Serikat dan China ternyata masih memiliki ketergantungan perdagangan yang kuat satu sama lain. Hubungan ekonomi dua negara terbesar dunia itu tetap ditopang oleh berbagai komoditas strategis, mulai dari semikonduktor, energi, hingga perangkat elektronik konsumen.

Data yang dirangkum oleh Visual Capitalist menunjukkan bahwa China masih mengandalkan sejumlah produk asal Amerika Serikat untuk mendukung kebutuhan industri dan konsumsi domestiknya. Sementara itu, Amerika Serikat tetap bergantung pada China untuk berbagai barang manufaktur bernilai tinggi yang telah menjadi bagian penting dalam rantai pasok global.

Dari sisi China, impor terbesar dari Amerika Serikat mencakup gas alam cair (LNG) senilai sekitar US$14 miliar, kedelai (US$12 miliar), semikonduktor (US$11,8 miliar), serta mesin pesawat (US$6,6 miliar).

Ketergantungan ini menunjukkan bahwa meskipun China terus berupaya memperkuat kapasitas domestiknya, negara tersebut masih membutuhkan pasokan teknologi dan sumber daya tertentu dari Amerika Serikat.

Kebutuhan China terhadap produk pertanian Amerika juga masih cukup besar. Bahkan dalam beberapa kesepakatan terbaru, Beijing disebut berkomitmen meningkatkan pembelian produk pertanian AS, termasuk kedelai, daging sapi, dan unggas, sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan dagang kedua negara.

Di sisi lain, Amerika Serikat masih mengimpor berbagai produk manufaktur dari China dalam jumlah besar. Produk yang paling dominan antara lain smartphone dan peralatan telekomunikasi, komputer, baterai lithium-ion, video game console, hingga berbagai perangkat elektronik rumah tangga. Untuk sejumlah kategori produk tersebut, China masih menguasai porsi yang sangat besar dari total impor Amerika Serikat.

Visual Capitalist mencatat bahwa smartphone menjadi salah satu produk paling penting yang diimpor Amerika dari China. Selain itu, berbagai barang elektronik konsumen seperti laptop, tablet, televisi, dan perangkat audio juga masih sangat bergantung pada kapasitas manufaktur Negeri Tirai Bambu.

Meski demikian, pola perdagangan kedua negara mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Sejak perang dagang pertama yang dimulai pada 2018, banyak perusahaan global berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China dengan memindahkan sebagian produksi ke negara lain seperti Vietnam, India, dan Meksiko. Langkah ini membuat porsi China dalam total impor Amerika Serikat perlahan menurun.

Barang yang masing-masing dibeli AS dan China satu sama lain. (Visual Capitalist, 22/5/2026)

Data terbaru bahkan menunjukkan impor Amerika Serikat dari China mengalami penurunan signifikan pada awal 2026 seiring penerapan tarif yang lebih tinggi dan restrukturisasi rantai pasok global. Namun, sejumlah sektor strategis masih sulit dipisahkan dari kapasitas manufaktur China karena skala produksi dan efisiensi yang belum sepenuhnya dapat digantikan negara lain.

Sebaliknya, China juga masih membutuhkan berbagai produk Amerika yang sulit diperoleh dari pemasok alternatif, terutama di sektor teknologi tinggi, energi, dan aviasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun narasi “decoupling” atau pemisahan ekonomi terus mengemuka, realitas perdagangan menunjukkan kedua negara tetap saling membutuhkan dalam banyak sektor strategis.

Para analis menilai hubungan perdagangan AS–China saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian dan diversifikasi daripada pemutusan hubungan secara total. Ketergantungan timbal balik yang telah terbentuk selama puluhan tahun membuat kedua negara masih menjadi bagian penting dari rantai pasok dan arus perdagangan global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag