Ekspor CPO Melejit, Batu Bara Menciut
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya performa yang kontras pada dua komoditas unggulan Indonesia, yakni minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan batu bara di realisasi ekspor pada April 2026. Sektor industri pengolahan yang menaungi CPO mengalami lonjakan signifikan, sementara sektor pertambangan yang mencakup batu bara justru mengalami kontraksi.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan total nilai ekspor non migas Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 24,15 miliar atau naik 23,36% jika dibandingkan periode yang sama di 2025. Kenaikan ekspor secara tahunan ini didorong oleh performa solid dari sektor industri pengolahan.
Pudji menjelaskan industri pengolahan menjadi motor utama penggerak ekspor dengan kontribusi sebesar US$20,59 miliar. Sektor ini tumbuh sebesar 29,07 % secara tahunan, dengan andil kenaikan mencapai 22,35 %.
"Kenaikan secara tahunan ini utamanya disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor untuk komoditas minyak kelapa sawit (CPO), produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, barang perhiasan, serta semi konduktor," ujar Pudji pada taklimat media di Selasa (2/6/2026).
Jika ditinjau dari golongan barang, kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS15, yang di dalamnya termasuk CPO, mencatatkan lonjakan ekspor sebesar 66,59 % dan memberikan andil 5,91 % terhadap kenaikan total ekspor Indonesia. Ekspor CPO dan turunannya di Januari hingga April 2026meningkat sebesar 16,59 %.
Berbanding terbalik dengan CPO, kinerja ekspor batu bara justru menunjukkan tren pelemahan. BPS mencatat sektor pertambangan dan lainnya hanya berkontribusi sebesar US$3,11 miliar pada April 2026, atau menciut sebesar 1,17 % secara tahunan. Penurunan juga terjadi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang merosot 5,53 % dengan nilai US$0,45 miliar.
Ekspor batu bara pada Januari–April 2026 turun sebesar 7,27 %. Sedangkan, besi dan baja masih mampu tumbuh positif sebesar 2,54 % di periode ini. Meskipun batu bara melemah, kombinasi tiga komoditas unggulan (besi dan baja, CPO, serta batu bara) tetap menjadi pilar utama dengan menyumbang 28,30 % dari total ekspor non migas Indonesia sepanjang empat bulan pertama tahun ini.
Tiongkok dan AS Dominan, Ekspor ke India Menyusut
Pudji merincikan kinerja ekspor non migas Indonesia ke tiga negara tujuan utama sepanjang Januari hingga April 2026, yang secara total menguasai pangsa pasar sebesar 44,52 %. Tiongkok menjadi tujuan utama dengan nilai US$22,76 miliar, didominasi oleh komoditas besi dan baja dengan pangsa 25,94 % atau naik 0,7 % secara cumulative-to-cumulative/CtoC.
Kedua, Amerika Serikat, dengan nilai US$ 10,17 miliar, didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik dengan pangsa 16,21 % (naik 3,28 %). Ketiga, India, berada di posisi ketiga dengan nilaiUS$6,14 miliar. Pasar India didominasi oleh bahan bakar mineral termasuk batu bara dengan pangsa 32,78 %, namun nilainya mengalami penurunan sebesar 1,37 % secara CtoC. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.