InJourney: Jalankan HC Transformation untuk Kembangkan Talenta Aviasi dan Pariwisata Indonesia

InJourney: Jalankan HC Transformation untuk Kembangkan Talenta Aviasi dan Pariwisata Indonesia
Kantor InJourney. (Foto: injourney.id)

Pada 13 Januari 2022, Pemerintah RI mengambil sebuah langkah strategis untuk mendorong proses transformasi sektor pariwisata Indonesia. Inisiatif penting tersebut ialah meresmikan beroperasinya PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) —lebih dikenal dengan nama InJourney— sebagai strategic holding company berbasis ekosistem di sektor pariwisata Indonesia. Visi yang diusungnya: menjadi ekosistem pariwisata terkemuka di kawasan regional, sekaligus menghadirkan pengalaman yang mengesankan bagi wisatawan berbekal keramahan khas Indonesia (Indonesia hospitality).

Tantangan besar

Kendati begitu, ada tantangan besar yang dihadapi sektor pariwisata Indonesia, yang berarti menjadi tantangan bagi InJourney, yakni besarnya kekayaan dan potensi pariwisatanya, tapi tingkat konversinya relatif masih rendah dibandingkan negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, bahkan Vietnam. Hal itu terlihat baik dari sisi jumlah kunjungan wisatawan (khususnya wisatawan mancanegara) maupun dari sisi kontribusinya terhadap PDB nasional.

Tantangan lain yang dihadapi InJourney ialah besarnya ekosistem yang dikelola perusahaan ini. Sebagai holding company milik pemerintah (BUMN) di sektor pariwisata, InJourney mengelola enam lini bisnis besar, yakni: bandar udara, layanan penerbangan (aviation service), manajemen destinasi wisata, perusahaan pengembang kawasan pariwisata, bisnis hospitality (terutama hotel), dan ritel.

Di bawah kelolaan InJourney sebagai ekosistem pariwisata, ada sekitar 162 juta penumpang layanan penerbangan, 9,2 juta pengunjung destinasi wisata, 540 event dan program pariwisata, nilai aset under-management senilai Rp102 triliun, revenue Rp32,93 triliun, serta lebih dari 49 ribu karyawan.

Sebagai contoh, jaringan bandara yang dikelola InJourney saat ini telah menempati posisi lima besar dunia dari sisi trafik penumpang, yakni melayani sekitar 162 juta penumpang. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis kebandarudaraan yang dioperasikan dalam ekosistem InJourney sesungguhnya telah berada pada skala global.

“Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan besarnya jumlah penumpang, tetapi juga bagaimana memastikan standar operasional, kualitas layanan, tata kelola, hingga pengalaman pelanggan dapat memenuhi ekspektasi perusahaan kelas dunia,” kata Herdy Rosadi Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney kepada SWA. Hal yang sama juga berlaku pada pengelolaan destinasi wisata dan event/program pariwisata yang berada dalam ekosistem InJourney.

Seiring dengan perjalanan bisnisnya, skala dan peran InJourney pun terus berkembang. Di samping itu, perubahan besar juga telah terjadi di lingkungan ekosistem pariwisata.

Herdy mencontohkan, bandara tidak lagi hanya berfungsi sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang. Bandara harus berkembang menjadi destination hub yang mampu menghadirkan pengalaman, aktivitas, dan nilai ekonomi secara menyeluruh.

Perubahan juga telah terjadi di area bisnis lainnya. Mulai dari pengelolaan sirkuit internasional, penyelenggaraan event berskala global, hingga pengembangan kawasan ekonomi khusus untuk medical tourism.

“Seluruhnya menghadirkan tantangan baru yang sebelumnya mungkin belum pernah menjadi bagian dari kapabilitas inti organisasi,” kata Herdy.

“Karena itu, program pengembangan SDM kami pun harus disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yang terus berkembang dan semakin kompleks,” tambahnya.

Herdy Rosadi Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney. (Foto: IG)
Herdy Rosadi Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney. (Foto: IG)

Fase transformasi

Saat ini InJourney berada dalam fase transformasi yang sangat dinamis. Proses restrukturisasi dan integrasi di berbagai lini bisnis berjalan secara simultan.

Secara korporasi, transformasi InJourney dirancang melalui empat tahap besar. Yang sudah dijalani ialah Stage I (Fundamental Business Review) dan Stage II (Integration & Consolidation), dan kini sedang bergerak menuju Stage III (Strategy Enhancement & Transformation), yang akan dilanjutkan lagi ke Stage IV (Ensuring Business Sustainability).

Dalam konteks ini, peran Fungsi/Divisi Human Capital (HC) menjadi sangat strategis, bukan hanya sebagai fungsi pendukung, tetapi juga sebagai mitra penting dalam program transformasi. Menurut Herdy, hal ini sejalan dengan visi Divisi HC yang hendak memastikan terbangunnya standar hospitality kelas dunia melalui pendekatan the Great ONE HC System, demi mengembangkan talenta aviasi dan pariwisata terbaik bagi Indonesia.

InJourney memaknai the Great ONE HC System sebagai harmonisasi tata kelola dan sistem HC, yang menjamin terwujudnya talent pool, grading system , dan sebuah budaya tunggal (yang sama) di seantero holding company ini. Hal ini akan memungkinkan terjadinya talent mobility: seorang karyawan high-performer di sebuah entitas bisnis dapat melakukan transisi peran di entitas bisnis lainnya dalam ekosistem.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Divisi HC membangun tahapan transformasi (staging) sebagai panduan perjalanan Human Capital Transformation hingga tahun 2026. Dimulai dari tahap awal Building HC Foundation pada periode 2021-2023. Disusul pada 2024 dengan agenda program One HC System Implementation & Allignment untuk memastikan seluruh sistem dan proses HC terintegrasi dalam grup.

Lalu, di tahun 2025, tahap Elevating Employee Competencies. Periode tahun 2026 dan selanjutnya ialah pengembangan keunggulan pada employee experience (EX) dan customer experience (CX), sekaligus memperkuat high-performance corporate culture di seluruh ekosistem perusahaan.

Untuk mendukung keseluruhan agenda transformasi tersebut, Divisi HC InJourney telah menetapkan dan menjalankan strategic initiatives yang terdiri dari tujuh program utama. Mulai dari program untuk membentuk struktur organisasi yang ramping dan lincah hingga agenda untuk menciptakan hubungan industrial dan tempat kerja yang harmonis.

Yang perlu kita ketahui, InJourney menghadapi tantangan yang unik dalam melakukan transformasi ini. Sebagai contoh, dalam ekosistem InJourney terdapat perbedaan keunggulan kompetensi di tiap-tiap entitas.

Misalnya, Sarinah memiliki talenta yang kuat di bidang komersial, sementara entitas hospitality memiliki keunggulan pada aspek layanan dan pengalaman pelanggan. “Karena itu, kami perlu melakukan mekanisme talent mobility agar kekuatan tiap-tiap entitas dapat saling melengkapi dan memperkuat satu ekosistem yang sama,” kata Herdy.

Langkah awal yang menjadi fondasi penting ialah penyelarasan sistem, khususnya dalam hal job grading, di seluruh ekosistem. Sebelumnya, terdapat perbedaan struktur job grading antar-entitas bisnis di ekosistem InJourney.

Langkah berikutnya, menyelaraskan sistem remunerasi dan paket kompensasi di setiap entitas. Tujuannya, memastikan adanya kesetaraan dan keadilan internal, sehingga mobilitas talenta antar-entitas dapat berjalan dengan lebih mudah dan tanpa hambatan.

“Kami perlu melakukan mekanisme talent mobility agar kekuatan tiap-tiap entitas dapat saling melengkapi dan memperkuat satu ekosistem yang sama.”

Teknologi sebagai enabler

Dalam proses transformasi ini, teknologi menjadi enabler utama, termasuk dalam program talent mobility. Hingga saat ini InJourney telah melakukan mobilisasi talenta lebih dari 700 karyawan lintas entitas. “Proses ini hanya dapat berjalan dengan baik melalui dukungan sistem teknologi yang kami kembangkan, yaitu platform Rinjani,” ungkap Herdy.

Sesungguhnya, dalam platform Rinjani yang dikembangkan bersama mitra teknologi, tersedia berbagai proses seperti aspirations management, talent committee, performance evaluation, hingga individual development plan, yang sudah terintegrasi dalam satu sistem digital. Platform Rinjani ini diposisikan sebagai core system yang menjadi penggerak utama dalam transformasi manajemen SDM di lingkungan InJourney.

Herdy mengklaim, beberapa program transformasi yang dijalankan pihaknya sudah menunjukkan hasil positif. Selain itu, berbagai inisiatif HR yang dilakukan juga telah mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari berbagai lembaga.

Di antaranya, apresiasi sebagai Best Company in Creating Leaders from Within dari SWA, sebagai Best CHCO pada ajang ESG Initiatives Award, serta sebagai salah satu the Great Place to Work di Indonesia. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag