Saham Indonesia Dihapus dari FTSE Russell, Analis Proyeksikan Sektor Keuangan, Energi, dan Konsumer Tetap
Analis KISI Sekuritas memproyeksikan indeks sektor keuangan (IDXFINANCE), energi (IDXENERGY), dan barang konsumen primer (IDXNONCYC) berpotensi menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Juni 2026. Proyeksi ini muncul di tengah potensi berlanjutnya arus keluar modal pasca penghapusan sejumlah saham Indonesia dari indeks global FTSE Russell pada 1 Juni 2026.
“Arus modal keluar bisa lanjut sampai 22 Juni, tapi skalanya lebih kecil dibanding MSCI,” jelas Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, secara tertulis kepada SWA.co.id pada Selasa sore (2/6/2026).
Sebelumnya, FTSE Russell menghapus saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dari FTSE Global Equity Index kategori Mid Cap. Pengumuman tersebut disampaikan pada 1 Juni 2026 melalui laman resmi FTSE Russell berdasarkan waktu Britania Raya.
Selain itu, FTSE Russell juga menghapus saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) dari FTSE Global Equity Index kategori Micro Cap. Seluruh perubahan tersebut efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.
Wafi menilai saham-saham yang keluar dari indeks FTSE Russell, seperti GOTO dan NCKL di kategori Mid Cap serta DOID dan CNMA di kategori Micro Cap, memiliki bobot yang relatif lebih kecil dibandingkan saham Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang sebelumnya masuk kategori Large Cap.
Meski demikian, Wafi memperkirakan arus keluar dana pasif tetap perlu dicermati, meskipun nilainya diproyeksikan jauh di bawah Rp10 triliun. Ia juga menyoroti kebijakan zero price FTSE terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), yang dinilai dapat menimbulkan dampak jangka panjang lebih besar dibanding penghapusan saham dari indeks.
Dalam kondisi tersebut, Wafi memperkirakan IDXFINANCE, IDXENERGY, dan IDXNONCYC berpotensi menjadi penopang IHSG. Menurut dia, IDXFINANCE yang didominasi saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih berada dalam kondisi jenuh jual (oversold).
Sementara itu, pada IDXENERGY, saham-saham dengan dividend yield tinggi dan mencatatkan pembelian bersih asing (net buy) secara konsisten dinilai menarik untuk dicermati. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Adapun pada IDXNONCYC, Wafi melihat peluang pada saham-saham yang relatif tidak terlalu terekspos sentimen indeks global dan memiliki permintaan yang cenderung inelastis. Contohnya adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
“[Investor] bisa manfaatkan momentum akumulasi bertahap di saham yang terkoreksi karena tekanan teknikal FTSE, bukan karena fundamental. Fokus pada tiga kriteria: free float sudah di atas 15%, tidak masuk watchlist HSC, serta laba dan pendapatan kuartal I/2026 solid,” tutup Wafi.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar masuk dalam daftar saham dengan nilai transaksi terbesar pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026.
BEI mencatat saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan nilai transaksi sebesar Rp2,09 triliun. Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan transaksi Rp1,35 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp1,16 triliun.
Selain sektor perbankan, saham-saham sektor barang baku (IDXBASIC) juga mendominasi daftar transaksi jumbo. Di antaranya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp4,13 triliun, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp1,98 triliun, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp1,62 triliun.
Adapun saham lain yang mencatatkan transaksi besar berasal dari sektor infrastruktur (IDXINFRA), energi (IDXENERGY), dan perindustrian (IDXINDUST).
Pada sektor infrastruktur, transaksi besar dicatatkan oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp1,19 triliun dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp807 miliar.
Sementara itu, dari sektor energi, PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan nilai transaksi Rp798 miliar. Adapun dari sektor perindustrian, PT Astra International Tbk (ASII) membukukan transaksi sebesar Rp791 miliar. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.