IHSG Rapuh Pascarebalancing MSCI, Asing Catat Net Sell Rp1,4 Triliun
Level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,1% ke 6.195 poin pada perdagangan 2 Juni 2026. Penguatan ini melanjutkan fase pascarebalancing MSCI. Namun, di sisi lain, pasar kembali dibayangi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun.
“Reli indeks masih ditopang saham-saham yang kami nilai relatif spekulatif seperti BREN dan AMMN, sehingga kontribusi ke indeks tetap terkonsentrasi pada segelintir nama thematic. Di sisi lain, pergerakan positif di saham fundamental besar seperti BBRI dan BBCA mulai memberi nuansa yang lebih konstruktif di sisi quality,” kata Kepala Riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam risetnya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Penguatan IHSG pada Selasa kemarin terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang kurang mendukung. Data April menunjukkan inflasi meningkat cukup tajam dan surplus neraca perdagangan menyempit. Sementara itu, nilai tukar rupiah masih sulit terapresiasi dan bertahan di atas Rp17.800 per dolar AS.
“Dalam kondisi ini, kenaikan awal Juni kemarin kami nilai lebih sebagai relief rally (lonjakan harga aset dalam jangka pendek) yang rapuh dan sangat bergantung pada beberapa nama besar, sehingga tetap rentan terhadap pembalikan aliran dana asing dan tekanan baru di pasar valas,” ucapnya.
Pada kesempatan terpisah, analis PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG pada perdagangan hari ini berpotensi terkoreksi. Ia memperkirakan level support IHSG berada di rentang 6.000-6.100 poin, sedangkan resistance di kisaran 6.200-6.300 poin.
Sementara itu, tim periset PT MNC Sekuritas mencermati IHSG pada sesi perdagangan Rabu ini masih berada dalam tekanan. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya tekanan jual di pasar saham domestik.
“Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sekitar Rp17.949 per dollar AS menjadi salah satu sentimen, diikuti dengan adanya outflow dari IHSG sebesar Rp55,37 triliun per 2 Juni 2026. Tekanan juga datang dari saham-saham konglomerasi yang mencatatkan pelemahan signifikan dan menjadi pemberat utama indeks mengingat kapitalisasi pasarnya yang besar,” demikian analisis periset MNC Sekuritas pada Rabu siang ini. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.