Pasca IC-CEPA, Perdagangan Indonesia-Cili Melesat 12,4% Tembus US$535 Juta
Pemerintah Indonesia terus memacu penetrasi pasar ke kawasan Amerika Latin dengan memperkuat kerja sama perdagangan bilateral bersama Cili. Langkah strategis ini dilakukan melalui forum Breakfast Meeting: Encuentro con el Mundo yang digelar KBRI Santiago dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Santiago bersama komunitas pelaku usaha PROhumana di Santiago, Cili, pada Rabu (6/5).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa Cili merupakan salah satu mitra dagang strategis Indonesia di kawasan Amerika Latin. Menurutnya, pergeseran tren pasar global yang kini semakin memprioritaskan aspek keberlanjutan (sustainability) membuka peluang besar bagi produk unggulan Indonesia.
"Indonesia aktif mempromosikan produk potensial yang sesuai dengan kebutuhan pasar Cili, seperti furnitur dan dekorasi rumah berbahan alami, specialty coffee, produk berbasis kelapa, perikanan olahan, hingga kemasan ramah lingkungan," ujar Puntodewi dari Jakarta.
Hubungan dagang kedua negara menunjukkan kinerja positif pascaimplementasi Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA) pada 23 September 2025.
Sepanjang 2025, total perdagangan bilateral Indonesia dan Cili tumbuh 12,40% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$535,51 juta. Produk otomotif, pupuk, dan alas kaki menjadi komoditas utama yang menopang daya saing ekspor Indonesia di pasar Cili.
Puntodewi berharap implementasi IC-CEPA dapat segera diperluas ke sektor perdagangan jasa dan investasi guna memperkuat integrasi ekonomi kedua negara.
Mengusung tema “Dari Indonesia ke Amerika Latin: Ketahanan Pangan sebagai Dasar Pembangunan Manusia yang Berkelanjutan”, forum tersebut menjadi wadah diplomasi ekonomi untuk menjawab tantangan global.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Cili, Vedi Kurnia Buana, mengatakan bahwa ketahanan pangan kini menjadi isu krusial yang berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi, rantai pasok, dan logistik global akibat tekanan geopolitik serta perubahan iklim.
"Indonesia dan Cili memiliki visi yang sama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berdampak nyata bagi masyarakat. Sinergi di bidang perdagangan, investasi, dan teknologi pangan sangat penting untuk membangun ekosistem pangan yang tangguh," kata Dubes Vedi.
Founder sekaligus Executive President PROhumana, Soledad Teixidó, turut mengapresiasi langkah aktif Indonesia dalam memperkuat hubungan dagang dengan Cili. Ia menyatakan dukungan terhadap hubungan bisnis yang berbasis prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) serta siap mendorong para anggota PROhumana untuk berpartisipasi dalam agenda perdagangan Indonesia.
Pertemuan tersebut dihadiri 22 profesional eksekutif dari berbagai sektor strategis di Cili, mulai dari pertambangan, telekomunikasi, ritel, ekspor-impor, jasa keuangan, teknologi, hingga firma hukum.
Dalam kesempatan tersebut, delegasi Indonesia juga mengajak pelaku usaha Cili memperluas jejaring bisnis melalui sejumlah agenda diplomasi ekonomi sepanjang 2026. Beberapa agenda yang dipromosikan antara lain Indonesia–Latin America and the Caribbean Business Forum (INALAC) 2026 di Santiago pada 2 Oktober 2026, Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia pada 14–18 Oktober 2026, serta pameran dagang Espacio Food & Service 2026 di Santiago.
Melalui rangkaian promosi terintegrasi dan optimalisasi perjanjian dagang, Indonesia optimistis dapat terus memperluas akses pasar bagi produk-produk bernilai tambah di kawasan Amerika Selatan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.