Manchester United Makin Sehat, Tapi Utang Masih Membayangi
Manchester United memperkirakan kinerja keuangannya membaik pada musim 2025-2026 seiring peningkatan prestasi di lapangan. Klub asal Inggris tersebut menaikkan proyeksi pendapatan tahunan menjadi £655 juta hingga £665 juta, lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran £640 juta hingga £660 juta.
Mengutip The Athletic (27/5/2026), perbaikan proyeksi tersebut terungkap dalam laporan keuangan kuartal ketiga (Q3) yang mencakup periode Juli 2025 hingga Maret 2026. Selain pendapatan, Manchester United juga meningkatkan proyeksi adjusted EBITDA menjadi £200 juta hingga £210 juta, dari sebelumnya £180 juta hingga £200 juta.
Kenaikan target tersebut didorong oleh membaiknya performa tim di kompetisi domestik. Di bawah arahan Michael Carrick, Manchester United berhasil mengakhiri musim Premier League di posisi ketiga klasemen, sehingga memperoleh pendapatan hak siar dan hadiah kompetisi yang lebih besar dibanding musim sebelumnya.
Pendapatan hak siar domestik hingga akhir Maret 2026 mencapai £157,1 juta atau meningkat lebih dari 17% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terjadi meskipun musim lalu klub masih mendapatkan tambahan pemasukan dari partisipasi di Liga Europa.
Di sisi komersial, Manchester United membukukan pendapatan sebesar £245,1 juta, relatif stabil dibanding musim sebelumnya. Stabilitas tersebut tercapai meski klub kehilangan sponsor kostum latihan setelah kontrak dengan Tezos berakhir dan menerima pengurangan nilai kontrak dari Adidas akibat gagal lolos ke Liga Champions musim ini.
Pendapatan hari pertandingan memang mengalami penurunan karena jumlah laga kandang berkurang delapan pertandingan dibanding musim sebelumnya. Namun penurunan tersebut relatif terbatas. Secara rata-rata, pendapatan per pertandingan justru meningkat dari £5,1 juta menjadi £7,4 juta.
Meski indikator operasional menunjukkan perbaikan, tekanan terhadap arus kas klub masih cukup besar. Manchester United harus menanggung biaya hampir £22 juta akibat pemecatan Ruben Amorim beserta staf kepelatihannya pada Januari lalu. Beban tersebut terdiri atas biaya kompensasi dan penghapusan nilai buku terkait kontrak sang pelatih.
Selain itu, biaya bunga utang selama sembilan bulan pertama tahun buku mencapai £55,7 juta. Sebagian besar tekanan tersebut berasal dari struktur utang jangka panjang yang diwarisi sejak akuisisi keluarga Glazer pada 2005.
Untuk menjaga likuiditas, Manchester United masih memanfaatkan fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility). Hingga akhir Maret 2026, nilai pinjaman yang ditarik melalui fasilitas tersebut mencapai £260 juta, meningkat £100 juta dibanding posisi akhir musim lalu.
Klub juga mencatat arus kas bebas negatif sekitar £160 juta selama sembilan bulan pertama musim berjalan. Namun angka tersebut membaik sekitar £100 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ke depan, manajemen Manchester United optimistis kondisi keuangan akan semakin kuat seiring kembalinya klub ke Liga Champions musim depan. Kompetisi elite Eropa tersebut diperkirakan akan meningkatkan pendapatan dari hadiah turnamen, hak siar, tiket pertandingan, hingga kontrak komersial.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa perbaikan performa olahraga mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental bisnis Manchester United. Namun tantangan untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan eksternal dan memperbaiki struktur keuangan jangka panjang masih menjadi pekerjaan besar bagi klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.