Rupiah Melemah, Jumlah Kunjungan Wisatawan Asing di Bali Berpotensi Bertumbuh

Rupiah Melemah, Jumlah Kunjungan Wisatawan Asing di Bali Berpotensi Bertumbuh
wisatawan di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali. (Foto : Istimewa).

Tren pelemahan rupiah yang terus mendekati level Rp18.000 per dolar AS membawa dampak ganda bagi industri pariwisata Bali. Di satu sisi, kondisi ini membuat Bali semakin kompetitif di mata wisatawan mancanegara karena biaya liburan menjadi relatif lebih murah. Namun di sisi lain, pelaku usaha pariwisata juga harus menghadapi kenaikan berbagai biaya operasional yang terkait dengan barang dan jasa impor.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Raka Suardhana, mengatakan pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya tarik Indonesia, khususnya Bali, sebagai destinasi wisata internasional. Wisatawan yang membawa mata uang kuat seperti dolar AS, euro, maupun dolar Australia memperoleh nilai tukar yang lebih menguntungkan saat berlibur di Indonesia.

“Dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara, pelemahan rupiah justru meningkatkan daya tarik Indonesia karena biaya akomodasi, transportasi, kuliner, dan aktivitas wisata menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Kondisi ini berpotensi meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan selama berlibur,” ujar Raka yang dihubungi SWA.co.id di Rabu (/6/2026).

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Ekonomi Bali yang juga mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali (KPwBI Bali) 2019 -2023, Trisno Nugroho. Menurutnya, pelemahan rupiah dapat menciptakan efek tambahan daya beli bagi wisatawan yang telah memesan tiket dan akomodasi jauh hari sebelumnya. Saat tiba di Bali, mereka memiliki ruang belanja lebih besar untuk menikmati restoran, spa, wisata budaya, hingga produk UMKM lokal.

“Jika kamar hotel sudah terjual dengan harga lama, peluang terbesar justru muncul dari peningkatan belanja wisatawan selama berada di Bali, baik untuk makanan dan minuman, spa, tur budaya, maupun berbagai aktivitas wisata lainnya,” kata Trisno. Meski demikian, kedua ekonom mengingatkan bahwa keuntungan tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh pelaku usaha.

Raka menjelaskan banyak sektor pendukung pariwisata masih bergantung pada produk impor, mulai dari bahan makanan tertentu, perlengkapan hotel, kendaraan operasional, hingga perangkat elektronik dan teknologi.

“Pelemahan rupiah menyebabkan biaya operasional meningkat dan dapat mengurangi keuntungan usaha. Selain itu, masyarakat domestik juga menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan sehingga kemampuan berwisata di dalam negeri berpotensi menurun,” ujarnya.

Trisno enyampikan kondisi tersebut menciptakan paradoks di sektor pariwisata. Tingkat hunian hotel dan kunjungan wisatawan bisa meningkat, tetapi profitabilitas belum tentu ikut naik apabila kenaikan biaya energi, logistik, bahan baku, dan layanan digital lebih besar dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Menurut Raka, sektor pariwisata Bali yang masih sangat bergantung pada pasar internasional memang dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing. Namun, pelemahan rupiah yang terlalu dalam bukanlah kondisi yang ideal bagi perekonomian secara keseluruhan.

“Penguatan kunjungan wisatawan asing dapat menjadi penyangga ekonomi daerah. Namun pelemahan rupiah yang terlalu dalam mencerminkan meningkatnya risiko ekonomi makro, tekanan inflasi, dan ketidakpastian investasi. Karena itu, stabilitas nilai tukar jauh lebih penting bagi keberlanjutan industri pariwisata dibandingkan keuntungan jangka pendek dari kurs yang lemah,” tegasnya.

Karena itu, para pelaku usaha pariwisata di Bali didorong untuk tidak hanya mengandalkan keunggulan harga akibat pelemahan rupiah. Penguatan kualitas layanan, pengalaman wisata, serta pemanfaatan produk lokal dinilai menjadi strategi yang lebih berkelanjutan untuk menjaga daya saing Pulau Dewata di tengah dinamika ekonomi global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag