Di Tengah Gejolak Harga Kopi dan Kakao, Mayora Bidik Penjualan Rp41,85 Triliun pada 2026

Manajemen PT Mayora Indah dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 via zoom meeting. (Istimewa)

Tahun 2025 bukan periode yang mudah bagi industri makanan dan minuman. Namun di tengah gejolak harga kopi dan kakao di pasar global, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) berhasil mempertahankan kinerja yang solid sekaligus melanjutkan komitmennya dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada Kamis (4/6/2026), para pemegang saham menyetujui seluruh agenda Perseroan, termasuk pengesahan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan 2025 serta penggunaan laba bersih dengan pembagian dividen tunai sebesar Rp60 per saham.

Direktur PT Mayora Indah Tbk, Wardhana Atmadja, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 Perseroan menghadapi berbagai tantangan, terutama akibat tingginya harga kopi dan kakao sebagai bahan baku utama.

“Kenaikan harga komoditas tersebut menekan biaya produksi, sementara Perseroan tetap dituntut menjaga daya saing harga produk di tengah dinamika pasar yang berlangsung,” katanya.

Wardhana menambahkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, dan lonjakan harga sejumlah bahan baku utama, PT Mayora Indah Tbk tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja.

“Sepanjang 2025, Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp38,68 triliun, meningkat dari Rp36,07 triliun pada tahun sebelumnya,” tegasnya.

Untuk menjaga daya saing, Perseroan terus memperkuat inovasi produk, meningkatkan efisiensi operasional, mengendalikan biaya produksi, serta menjaga harga jual tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas. Strategi tersebut menjadi fondasi dalam mempertahankan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas penetrasi pasar domestik dan ekspor.

Memasuki 2026, mulai meredanya harga kopi dan kakao membuka peluang perbaikan margin. Didukung kontribusi ekspor yang kuat dan pasar tujuan yang terdiversifikasi, Perseroan optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan.

Prospek industri makanan dan minuman juga dinilai tetap positif seiring terjaganya konsumsi rumah tangga dan permintaan ekspor. Meski demikian, Perseroan tetap mewaspadai potensi gangguan rantai pasok, kenaikan biaya logistik, dan fluktuasi harga komoditas global.

Wardhana menegaskan Perseroan akan terus memperkuat inovasi, meningkatkan efisiensi operasional, menjaga ketersediaan bahan baku, serta memperluas pasar domestik maupun internasional.

Optimisme tersebut tercermin dalam target kinerja 2026. Berdasarkan paparan publik Perseroan, penjualan ditargetkan mencapai Rp41,85 triliun atau tumbuh 8,2% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp38,68 triliun. Sementara itu, laba bersih ditargetkan meningkat 17,3% dari Rp2,91 triliun menjadi sekitar Rp3,41 triliun.

Momentum pertumbuhan juga berlanjut pada awal 2026. Hingga April, Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp12,48 triliun dan laba bersih Rp1,26 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika pasar.

Berbekal kekuatan merek, jaringan distribusi global, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, PT Mayora Indah Tbk memasuki 2026 dengan optimisme yang tetap terjaga.

Perseroan tidak hanya membidik pertumbuhan yang berkelanjutan, tetapi juga berupaya memperkuat posisi di pasar domestik dan internasional sebagai salah satu pemain utama industri makanan dan minuman Indonesia. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag