Komang Tri Darmaja: Merangkai Warisan Budaya Indonesia Menjadi Perhiasan Bernilai Global
Di sebuah ruangan di The Meru Sanur, Bali, perhiasan-perhiasan itu tersusun rapi. Sebagian memantulkan cahaya keemasan yang lembut. Sebagian lain terlihat tak berbeda dari koleksi perhiasan premium pada umumnya. Namun ada cerita yang tak langsung terlihat oleh mata. Beberapa di antaranya lahir dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai: botol kaca bekas.
Di tengah industri fesyen dan perhiasan yang semakin kompetitif, cerita semacam itu menjadi semakin penting. Konsumen tidak lagi hanya membeli sebuah produk karena bentuk atau materialnya. Mereka ingin mengetahui asal-usulnya, siapa yang membuatnya, dan nilai apa yang dibawa oleh produk tersebut. Di pasar global, identitas budaya dan keberlanjutan perlahan berubah dari sekadar pelengkap menjadi faktor pembeda.
Perubahan itulah yang dibaca Komang Tri Darmaja ketika membangun Komang Tri Jewelry. Bagi desainer asal Bali tersebut, perhiasan bukan sekadar aksesori yang dikenakan untuk mempercantik penampilan. Ia melihatnya sebagai medium untuk menyampaikan cerita tentang budaya, alam, dan kehidupan Indonesia kepada dunia.
Perjalanan itu bermula lebih dari satu dekade lalu. Pada 2010, Komang Tri mendapat kesempatan yang mengubah arah kariernya. Ia dipercaya merancang mahkota untuk ajang Miss Universe Indonesia di Las Vegas, Amerika Serikat. Proyek tersebut menjadi tonggak penting yang kemudian melahirkan Komang Tri Jewelry sekaligus membuka jalan menuju pasar internasional.
Sejak saat itu, ia konsisten mengembangkan bahasa desain yang bertumpu pada kekayaan budaya Indonesia. Lanskap alam, tradisi, simbol-simbol lokal, hingga keragaman budaya Nusantara menjadi sumber inspirasi yang terus diolah menjadi karya perhiasan dengan pendekatan modern.
“Setiap karya bukan sekadar aksesori, tetapi sebuah cerita yang diwujudkan dalam bentuk seni yang dapat dikenakan,” ujar Komang Tri kepada SWA.co.id di The Meru Sanur, Kamis (4/6/2026).
Pernyataan tersebut menjelaskan cara ia memandang perhiasan. Di tangannya, sebuah karya tidak berhenti sebagai benda yang memiliki nilai estetika. Perhiasan menjadi sarana untuk menerjemahkan identitas budaya ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh pasar global yang semakin menghargai keaslian dan narasi di balik sebuah produk.
Pendekatan tersebut hadir pada saat yang tepat. Dalam beberapa tahun terakhir, industri barang mewah mengalami perubahan yang cukup mendasar. Jika dahulu kemewahan identik dengan material langka dan harga tinggi, kini semakin banyak konsumen yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan, keterlibatan artisan, hingga dampak sosial dari sebuah produk.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi kreatif Indonesia telah berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional telah melampaui Rp1.600 triliun per tahun dan menyerap puluhan juta tenaga kerja. Di dalam ekosistem itu, industri fesyen, kriya, dan perhiasan menjadi salah satu subsektor yang memiliki peluang besar untuk berkembang melalui diferensiasi berbasis budaya.
Komang Tri melihat peluang tersebut bukan melalui produksi massal, melainkan melalui karakter. Motif tradisional Bali maupun elemen budaya dari berbagai daerah di Indonesia diolah menjadi desain kontemporer yang tetap memiliki akar yang kuat. Dengan cara itu, setiap koleksi tidak hanya menjual bentuk, tetapi juga membawa identitas yang sulit ditiru.
Namun budaya bukan satu-satunya fondasi yang dibangun. Dalam beberapa tahun terakhir, keberlanjutan menjadi tema yang semakin menonjol dalam berbagai koleksinya. Ia percaya bahwa masa depan industri kreatif tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pandangan itu melahirkan Bottlecycle Series, sebuah proyek yang mengubah limbah botol kaca menjadi karya perhiasan bernilai tinggi. Dalam proyek tersebut, Komang Tri Jewelry bekerja sama dengan Equil Mineral Water dan Sababay Winery untuk memanfaatkan kembali botol kaca yang telah digunakan.
"Melalui pendekatan upcycling, limbah yang sebelumnya tidak bernilai diolah menjadi produk premium yang memiliki nilai ekonomi sekaligus estetika," tambah Komang Tri.
Gagasan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat upaya untuk menjawab tantangan yang kini dihadapi banyak industri kreatif: bagaimana menciptakan produk baru tanpa terus menambah tekanan terhadap lingkungan. Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan itu sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang kini semakin banyak diterapkan oleh berbagai merek global.
Komitmen yang sama terlihat dalam koleksi Sumba Summer yang dikembangkan bersama Equil. Material hasil daur ulang dipadukan dengan inspirasi budaya Indonesia untuk menghasilkan koleksi yang tidak hanya berbicara tentang desain, tetapi juga tentang pelestarian lingkungan.
“Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama kami untuk melestarikan budaya Indonesia dan menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Komang Tri Darmaja.
Di balik seluruh proses tersebut, terdapat para artisan lokal yang menjadi bagian penting dalam penciptaan setiap koleksi. Bagi Komang Tri, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan material dan lingkungan, tetapi juga dengan keberlangsungan keterampilan para perajin yang selama ini menjadi fondasi industri kreatif Indonesia.
"Industri kreatif Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang apabila didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan memiliki akses ke pasar yang lebih luas".
Karena itu, setiap karya yang dihasilkan tidak hanya membawa visi seorang desainer, tetapi juga merepresentasikan keterampilan tangan para artisan yang terlibat dalam proses produksinya. Dalam dunia yang semakin dipenuhi produk seragam dan otomatisasi, sentuhan manusia justru menjadi nilai yang semakin dicari.
Pada akhirnya, yang sedang dibangun Komang Tri bukan sekadar sebuah merek perhiasan. Ia sedang berupaya mempertemukan tiga hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: budaya, kreativitas, dan keberlanjutan. Dari sebuah studio di Bali, ia mencoba membuktikan bahwa kemewahan tidak selalu harus lahir dari sesuatu yang langka atau mahal. Kadang-kadang, kemewahan justru muncul dari kemampuan memberi makna baru pada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.