IHSG Lanjutkan Pelemahan, Analis Cermati Saham Bank Raksasa Jadi Sasaran Aksi Jual
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (5/6/2026) terkoreksi lebih dari 2%. Berdasarkan data aplikasi IDX Mobile, IHSG turun dari level 5.839,78 menjadi 5.713,22 hingga pukul 10.52 WIB.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan indeks dipicu kombinasi sejumlah faktor, mulai dari sentimen global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arus keluar dana asing (foreign outflow). Kondisi tersebut dinilai mengurangi daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor.
Menurut Elandry, tekanan juga terlihat pada sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama IHSG, seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Mengacu pada data perdagangan IDX Mobile hingga pukul 11.04 WIB, saham BBCA turun 5,07% menjadi Rp5.150 per saham. Sementara itu, BBRI melemah 1,78% ke Rp2.770 dan BMRI terkoreksi 2,02% ke Rp3.890 per saham.
“Pelemahan BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI bukan karena fundamental yang memburuk, melainkan saham-saham perbankan besar merupakan konstituen utama indeks dan memiliki likuiditas tinggi sehingga sering menjadi sasaran aksi jual ketika investor melakukan pengurangan risiko atau rebalancing portofolio,” jelas Elandry secara tertulis kepada awak media.
Ia menambahkan, tekanan jual pada saham-saham perbankan besar saat ini lebih dipengaruhi sentimen pasar dan arus dana keluar jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental maupun kinerja operasional emiten yang masih relatif solid.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan musim pembagian dividen dari sejumlah emiten yang telah menjadwalkan masa cumulative date (cum date) sepanjang Juni 2026.
Elandry menilai periode pembagian dividen berpotensi menahan tekanan pada saham-saham tertentu yang menawarkan dividend yield menarik, khususnya di sektor perbankan dan saham defensif. Namun, dampaknya diperkirakan bersifat selektif dan terbatas dalam jangka pendek.
“Jika tekanan utama berasal dari faktor makro seperti nilai tukar, foreign outflow, dan sentimen global, maka efek positif dividen kemungkinan belum cukup kuat untuk menjadi katalis pembalikan arah IHSG secara keseluruhan,” tutup Elandry saat dihubungi SWA.co.id secara tertulis. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.