Kisah Rosvita Sensiana Menggerakkan Ekonomi Perempuan Lewat Tenun Maumere

Kisah Rosvita Sensiana Menggerakkan Ekonomi Perempuan Lewat Tenun Maumere
Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2020-2024) dan Rudiantara, Presiden Komisaris Amartha mengunjungi booth Tenun Maumere milik Rosvita Sensiana dalam acara Asia Grassroots Forum 2026, Kamis (4/6/2026) di Jakarta. (Foto: Arie Liliyah/SWA)

Di tengah derasnya arus modernisasi, Rosvita Sensiana terus menyalakan semangat pelestarian budaya melalui tenun ikat tradisional Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perempuan yang dikenal sebagai tokoh pelestari budaya dan koordinator kelompok perajin tenun ikat tradisional ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memberdayakan perempuan melalui usaha tenun yang kini semakin berkembang.

Rosvita merupakan motor penggerak Sanggar Watu Bo (Watubo) di Desa Kajowair, Maumere, yang didedikasikan untuk merawat dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. Kecintaannya terhadap tradisi NTT telah tumbuh sejak kecil. Pada tahun 1988, ayahnya mendirikan Sanggar Bliran Sina yang bergerak di bidang tari dan musik tradisional. Saat berusia sembilan tahun, Rosvita mulai aktif bergabung dalam kegiatan sanggar tersebut.

Pengalaman itulah yang kemudian menginspirasi Rosvita untuk mendirikan Watubo pada 2014, sebuah kelompok yang menggabungkan kegiatan tari, musik, dan tenun ikat tradisional. Melalui wadah ini, ia mengajak para perempuan untuk terus menggali, menjaga, dan mengembangkan kekayaan budaya leluhur.

“Tenun ikat tidak bisa dilepaskan dari kehidupan perempuan sejak lahir sampai kematian. Selain menjadi bagian dari tradisi, tenun ikat juga menopang perekonomian keluarga,” ujar Rosvita dalam wawancara dengan SWA.co.id di sela-sela acara Asia Grassroots Forum 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurut Rosvita, Kabupaten Sikka memiliki sedikitnya 52 motif tenun ikat yang masing-masing menyimpan makna filosofis dan cerita tersendiri. Karena itu, para penenun tidak hanya belajar teknik menenun, tetapi juga harus memahami arti dari setiap motif yang mereka kerjakan.

“Semua motif punya makna dan cerita sendiri. Sebelum menenun, para penenun harus memahami filosofi motif tersebut,” katanya.

Mengembangkan Usaha Melalui Kelompok Dalaleh

Meski keterampilan menenun telah diwariskan secara turun-temurun, Rosvita baru mulai mengembangkan usaha tenun secara lebih terorganisasi sejak 2014 melalui kelompok perajin bernama Dalaleh. Kelompok yang beranggotakan sembilan perempuan ini juga menjadi nama usaha sekaligus label kain tenun yang mereka produksi.

“Kalau menenun sebenarnya sudah kami lakukan sejak kecil karena diwariskan turun-temurun. Tetapi untuk produksi secara kelompok dan usaha, kami mulai pada 2014,” jelasnya.

Perjalanan usaha Dalaleh mengalami titik penting ketika bergabung dengan Amartha pada 2023. Selama tiga tahun terakhir, kelompok tersebut mendapatkan pendampingan dan akses permodalan yang membantu memperkuat kapasitas produksi.

Sebelum memperoleh dukungan modal, usaha tenun yang dijalankan Rosvita dan rekan-rekannya masih berskala kecil. Keterbatasan tenaga kerja dan modal membuat jumlah produksi belum mampu memenuhi permintaan yang datang dari berbagai daerah.

“Dulu kami sudah menjual sampai Jakarta, tetapi jumlahnya belum banyak karena tenaga produksi masih terbatas. Setelah mendapat tambahan modal, kami bisa merekrut tenaga harian untuk membantu menenun sehingga produksi menjadi lebih cepat dan lebih banyak,” ungkapnya.

Modal usaha tersebut digunakan untuk menambah tenaga kerja produksi serta membeli bahan baku benang. Sementara untuk pewarna kain, kelompok Dalaleh tetap mempertahankan penggunaan bahan-bahan alami yang berasal dari daun dan akar tanaman tertentu, sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam memasarkan produknya, kelompok Dalaleh memanfaatkan media sosial serta aktif mengikuti berbagai pameran kerajinan dan UMKM di berbagai daerah. Strategi tersebut membantu memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan tenun ikat Maumere kepada konsumen yang lebih luas.

Meski demikian, Rosvita mengakui pihaknya belum memanfaatkan platform e-commerce sebagai saluran penjualan.

“Kami lebih banyak menjual lewat media sosial dan mengikuti pameran-pameran. Untuk e-commerce, kami belum masuk,” katanya.

Kelompok Dalaleh juga belum memiliki toko khusus. Aktivitas produksi dan pemasaran dilakukan dari workshop kelompok yang berlokasi di wilayah Habihogor, Maumere, NTT. Pembeli yang ingin melihat langsung proses produksi maupun koleksi kain tenun dapat mengunjungi lokasi tersebut.

Keunikan motif, penggunaan pewarna alami, serta proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi membuat nilai jual tenun ikat Maumere cukup beragam. Rosvita menjelaskan, harga kain tenun yang diproduksi kelompok Dalaleh berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp8 juta per lembar.

“Harganya tergantung tingkat kesulitan motif dan lama waktu pengerjaan. Semakin rumit motifnya dan semakin lama proses pembuatannya, tentu nilainya juga lebih tinggi,” ujarnya.

Bagi Rosvita, tenun ikat bukan sekadar produk ekonomi. Kain-kain tersebut merupakan media untuk menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perempuan di daerahnya. Melalui kelompok Dalaleh, ia berharap generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan budaya Sikka yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Yang terpenting adalah bagaimana budaya leluhur ini tetap hidup dan terus dikenal masyarakat luas,” tutupnya.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag