Memotret Laju inflasi hingga Pertumbuhan Ekspor dan Impor

Memotret Laju inflasi hingga Pertumbuhan Ekspor dan Impor
PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP), Pelabuhan, ekspor. (Foto : Pelindo).

Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memotret laju ekspor dan impor serta inflasi terhadap perekonomian nasional. Prastasti menerjemahkan ekonomi Indonesia ini sebagai perkembangan yang cukup positif di sisi produksi dan ekspor, namun menyisakan sejumlah titik kerawanan yang menuntut kewaspadaan

Rilis Indikator Ekonomi yang diterbitkan BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat ekspor sepanjang Januari–April 2026 mencapai US$92,15 miliar, tumbuh 5,48% secara tahunan (yearon year), dengan lonjakan tajam pada April hingga 21,98%.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh produk ekspor industri pengolahan yang tumbuh 29,07% serta produk hilirisasi seperti nikel olahan ke Tiongkok (naik 73,6%) dan CPO (20,4%). Namun demikian, pada periode yang sama, inflasi Mei 2026 kembali menanjak ke 3,08% secara tahunan (dari 2,42% pada April), menembus batas 3%.

Prasasti membaca potret ekonomi Indonesia ini sebagai perkembangan yang cukup positif di sisi produksi dan ekspor, namun menyisakan sejumlah titik kerawanan yang menuntut kewaspadaan. Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah, melihat kenaikan ekspor ini selain tidak lepas dari pengaruh depresiasi rupiah juga menunjukkan terdapatnya respons positif dari produksi olahan manufaktur dan barang yang terkait dengan program hilirisasi.

Namun, kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat. Halim menyampaikan akselerasi ekspor pada April yang melonjak hampir 22%, dan kenaikan ekspor nikel olahan ke Tiongkok hingga 73%, adalah kabar yang layak diapresiasi.

"Ini bukti hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan kita harapkan juga menambah pasokan devisa justru ketika surplus dagang kita sedang menipis," ujar Halim pada keterangannya yang dikutip Sabtu (7/6/2026).

Prasasti mencermati pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia merupakan langkah strategis yang baik untuk terus mendorong ekspor dan memupuk devisa negara.

"Namun hal itu tentu memerlukan langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar kita tidak kehilangan arah dan momentum perbaikan kondisi ekonomi kita dewasa ini,” urai Halim yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (2010–2015) dan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2012–2015),

Dia berpendapat kenaikan tekanan inflasi selain bersumber dari kelangkaan beberapa pasokan akibat perang Iran versus USA dan komponen volatile foods, juga tidak dapat dilepaskan dari depresiasi rupiah akhir-akhir ini.

Oleh karena itu pengendalian nilai tukar dan inflasi menuntut perhatian yang lebih cermat mengingat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih sempit dan memerlukan koordinasi yang lebih ketat antara otoritas kebijakan moneter dan keuangan serta fiskal.

Halim mengusulkan strategi kepada pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dilihat oleh pelaku ekonomi sebagai suatu hal yang amat kritikal di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi..

"Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri. Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten” papar Halim.

Laju Inflasi

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menjabarkan sisi mekanisme harga dan denyut aktivitas ekonomi. Menurutnya, meski inflasi naik dan perlu diperhatikan, karakternya tidak mencerminkan ekonomi yang kepanasan.

“Kalau kita bedah, pendorong inflasi kita itu volatile food seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah. Karakternya musiman, terkait pasokan dan cuaca, bukan karena permintaan domestik yang membludak. Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural,” jelas Piter.

Data BPS menempatkan cabai merah (naik 25,64%), tomat (9,82%), dan bawang merah (6,65%) sebagai pendorong utama. Piter juga menilai langkah pemerintah menahan harga bahan bakar bersubsidi turut meredam tekanan harga.Dari sisi perdagangan, tercatat impor bahan baku/penolong naik 24,56% secara tahunan pada April. Piter membaca lonjakan impor bahan baku dan barang modal bukan sebagai beban, melainkan sinyal yang menggembirakan.

Piter mengatakan peningkatan impor bahan baku dan barang modal, itu sebenarnya kabar baik. Bahan baku dan mesin diimpor karena pengusaha sedang bersiap berproduksi, dan mereka berproduksi karena membaca ada permintaan di depan. "Jadi mengecilnya surplus ini memang bukan kondisi ideal, tapi penyebabnya bukan hal yang menakutkan. Ini bukan ekonomi yang melemah melainkan ekonomi yang sedang bergerak,” ujar Piter.

Perihal nilai tukar, Piter menegaskan tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilekatkan pada satu sebab tunggal, namun ada satu faktor yang paling menonjol. “Faktornya sudah campur aduk, tidak bisa kita tunjuk satu saja. Tapi yang menurut saya paling besar pengaruhnya sekarang adalah mulai tergerusnya kepercayaan terhadap rupiah.

Begitu sentimen terbentuk, permintaan terhadap dolar membesar. Bahkan orang yang sebenarnya tidak butuh dolar pun ikut membeli. Unsur spekulasi dan psikologis inilah yang justru memperdalam pelemahan rupiah melebihi yang bisa dijelaskan oleh fundamentalnya sendiri,” jelas Piter.

Data BPS itu disimpulkan Prasasti sebagai potret ekonomi yang secara keseluruhan masih relatif baik, namun belum sepenuhnya seimbang. Akselerasi ekspor dan hilirisasi yang membuahkan hasil adalah modal yang layak diapresiasi, tetapi inflasi yang kembali menanjak, surplus dagang yang menyusut, dan defisit migas yang melebar mengingatkan bahwa sejumlah fondasi masih perlu dijaga.

Konsistensi kebijakan serta sinkronisasi antara fiskal dan moneter agar perbaikan di sisi ekspor benar-benar menular ke kepercayaan terhadap arah ekonomi nasional secara keseluruhan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag