Bank Mandiri: Ketika Talenta Menjadi Mesin Utama Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Di tengah derasnya arus transformasi industri perbankan, Bank Mandiri memilih satu pijakan yang tidak berubah, yaitu pengembangan human capital (HC). Ketika banyak perusahaan berlomba membangun teknologi paling mutakhir, bank pelat merah terbesar di Indonesia ini justru menempatkan HC sebagai mesin utama pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Di balik strategi tersebut, ada satu keyakinan besar bahwa transformasi tidak akan pernah berjalan tanpa talenta yang relevan, adaptif, dan siap menghadapi perubahan.

“Bank Mandiri tidak hanya ingin menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi ecosystem untuk belajar, tumbuh, berkolaborasi, dan menciptakan dampak yang lebih besar bagi Indonesia,” kata Handi Kurniawan, Senior Vice President HC Strategy & Talent Management Bank Mandiri kepada SWA.

Menopang transformasi bisnis

Pernyataan itu bukan sekadar jargon korporasi. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja berubah secara drastis. Generasi muda tidak lagi hanya mencari gaji dan jabatan. Mereka mencari makna, ruang tumbuh, pengalaman kerja yang sehat, sekaligus peluang untuk memberikan dampak nyata. Bank Mandiri membaca perubahan itu sebagai tantangan sekaligus peluang besar.

Handi menilai, pengelolaan sumber daya manusia hari ini tidak lagi cukup hanya mengatur tenaga kerja. Yang dibutuhkan ialah membangun organizational capability yang mampu menopang transformasi bisnis secara berkelanjutan. Karena itu, pendekatan HC di Bank Mandiri dirancang lebih strategis, terintegrasi, dan langsung terkoneksi dengan arah bisnis perusahaan.

Di tengah kompetisi industri yang semakin agresif, Bank Mandiri menghadapi tantangan besar untuk menjaga produktivitas organisasi sekaligus memastikan regenerasi kepemimpinan berjalan tanpa jeda. Sebagai salah satu “talent factory” terbesar di Indonesia, bank ini secara konsisten melahirkan pemimpin yang kemudian mengisi posisi strategis di berbagai BUMN hingga kementerian.

“Kami terus membangun succession pipeline yang kuat, mempercepat pengembangan high potential talent, serta memastikan kesinambungan kepemimpinan yang selaras dengan future business direction dan dinamika industri ke depan,” kata Handi.

Karena itu, strategi pengembangan talenta dilakukan jauh lebih progresif. Career path terus disesuaikan dengan kebutuhan bisnis masa depan. Mobilitas talenta lintas fungsi dan entitas juga diperkuat agar para pegawai memiliki exposure lebih luas, memahami kompleksitas bisnis secara utuh, sekaligus membangun kapabilitas lintas disiplin.

Di saat yang sama, Bank Mandiri juga melakukan investasi besar pada capability building. Revamp competency model dilakukan dengan memetakan current skills dan future skills agar organisasi mampu membaca kebutuhan industri yang terus berubah. Program pengembangan melalui Mandiri Corporate University diperkuat, termasuk pengiriman talenta untuk melanjutkan pendidikan S-2 di dalam dan luar negeri.

Capability development menjadi salah satu prioritas utama Human Capital di Bank Mandiri. Kami ingin memastikan setiap Mandirian memiliki kapabilitas yang relevan dengan kebutuhan bisnis masa depan,” kata Handi.

Pengembangan talenta, peningkatan kapabilitas, dan penguatan kepemimpinan menjadi fokus utama perusahaan dalam mendukung transformasi bisnis berkelanjutan. (Foto: Bank Mandiri)
Pengembangan talenta, peningkatan kapabilitas, dan penguatan kepemimpinan menjadi fokus utama perusahaan dalam mendukung transformasi bisnis berkelanjutan. (Foto: bankmandiri.co.id)

Employee experience

Namun, transformasi budaya kerja menjadi tantangan yang tidak kalah kompleks. Ekspektasi generasi muda terhadap tempat kerja berubah sangat cepat. Mereka ingin didengar, diapresiasi, dan memiliki pengalaman kerja yang bermakna. Bank Mandiri menjawab tantangan itu melalui pendekatan employee experience yang dibangun secara end-to-end, mulai dari proses rekrutmen, onboarding, hingga pengembangan karier.

Employer branding pun tidak lagi dipandang sekadar strategi komunikasi. Bagi Bank Mandiri, itu adalah representasi budaya kerja yang harus dirasakan langsung oleh kandidat maupun pegawai.

Employer branding adalah manifestasi budaya kerja yang dirasakan secara nyata melalui pengalaman yang konsisten dan bermakna,” kata Handi.

Karena itu, pendekatan rekrutmen dibuat lebih experiential. Bank Mandiri menghadirkan talent hunt, campus activation, hingga berbagai interactive engagement yang memungkinkan kandidat merasakan kultur perusahaan sejak awal. Media sosial juga dimanfaatkan untuk membangun narasi autentik tentang kehidupan para “Mandirian”, dengan menonjolkan tiga nilai utama: growth, agility, dan impact.

Teknologi dan data

Yang menarik, transformasi HC di Bank Mandiri juga semakin bertumpu pada teknologi dan data. People analytics serta HC dashboard kini menjadi alat penting dalam memantau engagement, produktivitas, talent readiness, hingga efektivitas rekrutmen.

“Pendekatan ini membantu perusahaan mengambil keputusan talent yang lebih cepat, lebih presisi, dan lebih selaras dengan kebutuhan transformasi bisnis perusahaan,” kata Handi.

Di tengah perubahan industri yang bergerak cepat, Bank Mandiri tampaknya memahami satu hal penting: masa depan bisnis tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menggerakkannya. Dan, di situlah perusahaan ini meletakkan taruhan terbesarnya dengan membangun talenta yang bukan hanya mampu bekerja, tetapi juga siap memimpin perubahan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag